Ketika Aku Bekerja

 

Ketika aku bekerja aku menggenggam jiwa dunia dan aku berjalan dengan diriku sendiri dalam keheningan yang menenteramkan. Aku hanya peduli pada garis, titik dan lengkung berikutnya yang harus kulukis yang membawaku pada permenungan lebih dalam akan diriku sendiri dan orang-orang yang kucintai.

Ketika aku bekerja yang kudengar adalah bisikan nurani yang paling dalam yang hanya mempedulikan kemurnian jiwa dan kejujuran, lalu akan kubiarkan diriku larut pasrah di dalamnya. Bukankah mendengarkan kejujuran adalah suara paling indah ?

Ketika aku bekerja aku sedang mewujudkan mimpi-mimpiku tentang kehidupan yang lebih baik untukku maupun untuk dunia ini, yang tak tahu apakah akan terwujud atau tidak.

Ketika aku bekerja aku tengah berada dalam kecintaan luar biasa pada gambarku dengan cara yang paling intim dan rahasia, yang mengungkapkan diriku yang sebenarnya.

Ketika aku bekerja aku tengah menggambarkan kesakitanku pada mereka yang sudah menyakitiku dengan tipu-tipunya, dan bahkan mereka tak hirau sama sekali. Aku menghapuskan kesakitanku dengan keindahan gambar yang sungguh menjadi kebalikan dari kebusukan hati mereka.

Aku tahu bahwa hidup adalah penderitaan, ketakutan dan kekhawatiran, serta kegelapan yang tak berujung, tapi ketika aku bekerja aku mendapat penawar dari segala kesakitan itu dan mengubahnya menjadi cinta. Karena dengan cinta itulah aku senantiasa hidup dan mengikatkan diriku kembali kepada dunia ini dan orang-orang di dalamnya.

Ketika aku bekerja aku tengah menuliskan kalimat-kalimat indah kepada yang tersayang, meneguhkan setiap garis, lengkung dan titik dengan sentuhan jiwaku yang membuatnya menjadi kata-kata yang hidup.

Ketika aku bekerja aku tahu pasti bahwa yang telah mati senantiasa menemaniku menggambar dalam larut malam tak bisa tidurku. Menjagaku dari mimpi-mimpi burukku dan mengusir setan-setan jahat yang mengintaiku dengan taringnya yang berdarah.

Akan kau temukan semua keindahan setara berlian yang tersirat dalam hasil kerjaku karena melambangkan cinta yang mulia dan tulus. Tak ada yang hina dan buruk dari sebuah cinta. Kau juga akan temukan keharuman kenanga dan kemuning yang terserak bagai permadani kuning, hijau dan putih. Keharuman yang memuakkan hanya bagi dia yang tak dapat menghargai keindahan.

Ketika aku bekerja aku menemukan kesungguhan dan tekad untuk menjadikan segalanya lebih baik, segala makanan jiwa, minuman jiwa, nyanyian jiwa dan menghilangkan racun apapun yang akan membunuhku perlahan.

Ketika aku bekerja, aku membuat cinta menjadi nyata.

 

 

Advertisements

Waktu

 

Di dalam anganku di tengah kabut pikiran yang berseliweran waktu masih mau bersahabat denganku, hingga dapat kuperintahkan dia untuk diam, bergerak lebih cepat, bergerak lebih lama, atau bahkan kembali ke awal hingga aku dapat menyusun lagi.

Tapi waktu adalah kenyataan yang menggenggamku dalam gelombangnya yang tak berkesudahan, kadang bergelombang kecil mengayunku dalam kantuk yang menyenangkan, atau bergelombang tinggi bagai ingin menelanku hingga ke dasarnya tapi nyatanya aku tak ada dimana-mana dan tak kemana-mana.

Dan aku selalu menggumamkan doa yang mengalir dari bibirku yang terkatup. Doa yang tak bernyawa, hanya berupa hafalan sedari aku masih kanak-kanak. Yang dahulu kala pernah menjadi tempatku untuk bergantung dan bersandar pada setiap langkahku yang gamang dan labil.

Di satu tempat dan di satu saat nanti, kukira aku masih berharap akan bersahabat dengan waktuku sendiri. Sekarang, aku masih berjalan dalam perziarahanku yang terus berlangsung dalam kenangan. 

Di Dunia Ini

 

Aku sudah kehilangan harapan pada;

penipu yang akan selalu menipu,

pembohong yang akan selalu berbohong,

pelakor yang akan selalu menggoda,

pengkhianat yang akan selalu berkhianat,

si putus asa yang akan selalu berputus asa,

dia yang selalu berpikiran jahat dan negatif,

pendendam yang akan selalu mendendam,

penjahat yang akan selalu jahat,

pemarah dan keras kepala yang selalu marah dan tak mau mengalah,

pengeluh yang akan selalu mengeluh.

Lalu kapankah mereka akan berubah? Aku tak tahu jawabnya.

Tapi aku selalu berpengharapan pada;

penggembira yang selalu gembira,

si positip dan pemotivasi yang selalu terlihat hidup,

pendukung yang selalu mendukung,

penopang yang selalu menopang,

penolong yang selalu menolong,

si lembut hati yang selalu menjadi cahaya bagi sekitarnya,

penggiat dan dia yang tekun yang selalu giat.

Dan aku harus memutuskan dimana aku harus berdiri.

 

KITA

Berpikir tentang langkah-langkah kecil kita yang menuntun kita hingga sampai pada titik ini, perjalanan panjang yang sudah dilalui dari remaja hingga beranjak tua.

Keberuntungan dan ketakberuntungan. Keterlambatan atau kedatangan lebih awal. Penundaan dan bersegera.

Waktu yang lebih lambat atau waktu yang sangat cepat berlalu.

Pencarian di tengah kekusutan nama, angka dan alamat.

Mentari kebahagiaan dan mendung kesedihan.

Semuanya mengarah kepada kita.

Dan pada akhirnya berbagi secangkir teh hangat sambil duduk bersisian.

Itulah kita.

Sendiri

Langkahku berhenti di sebuah perbukitan, masih menapaki sisa-sisa undakan yang berada di puncak bukit, kudengar angin bersahutan dan perlahan senja menutupi mentari yang sudah terburu-buru terbenam.

Kehilangan adalah kepedulian, dan penyerahan sebuah hati yang sudah dimiliki sekian lama. Tapi dengan kehilangan ini telah menunjukkan dimana aku harus menempatkan hatiku yang masih berdenyut.

Aku masih berusaha pelan-pelan merangkai ingatan yang baik tentangmu sebelum segalanya tergerus oleh ombak kehidupan.

Kehilangan adalah waktu untuk menata kembali yang tersisa hingga aku dapat meneruskan perjalanan panjang yang entah berujung kemana.

Padahal sesungguhnya aku sudah lelah meladeni keanehan yang dunia ini tawarkan, dan aku masih harus berjuang sendiri.

Seorang diriku adalah pengelana yang selalu sendiri, nantinya ketika perjalanan ini berakhir tak ada yang mengingatku.