Kapan pertama kali aku merasakannya? Dan kapan terakhir kali aku merasakannya, ketika rasa itu perlahan hilang?

mungkin aku tak bisa mengingatnya karena semua berjalan seperti apa adanya, kadang saja masih terbayang sedikit kenangan di sana sini

seperti saat pertama kali segalanya menjadi kebulatan tekad, semalaman diteguhkan

kini ketika disuruh untuk mengunjungi lagi ingatan itu, tak ada yang teringat, mungkin sudah diajak pergi

ke tempat asal dimana semuanya dulu pernah bermula

Advertisements

Pada Satu Pagi Tertentu

Pada satu pagi tertentu, hanya pagi itu, kami habiskan sarapan kami di meja yang dikelilingi oleh gunung, lembah dan hutan pinus yang indah dan harum, kau hantarkan menu makan pagi yang sempurna, di atas baki kayu dan piring-piring bergambar cantik, sementara aku makan kau memandangiku dan duniapun serasa lenyap di sekitarku, hanya ada kau dan aku, kami. Suara denting sendok dan garpu dan kicauan burung menjadi satu bagaikan sebuah simfoni yang takkan pernah kulupakan selama aku hidup. Lalu sang waktu semakin panjang dan lebar menyeberangi bumi tak kenal ampun. Dan hanya terjadi di satu pagi tertentu ini, ada kesenjangan yang selalu kau dengungkan, lembaran uang dan kulitku yang kuning, kesenjangan yang semakin menyala karena selalu didengungkan. Wajah yang memerah menahan amarah karena tak pernah meminta untuk dilahirkan menyimpan dendam yang tak bisa kumengerti dan sang cintapun perlahan menjauh karena selalu dibandingkan dengan lembaran uang dan kulitku yang kuning. Mari kugenggam saja asa sebelum segalanya berubah menjadi debu, karena hati yang dulunya putih bersih, kini sudah terbakar di sana sini, merintih pedih tak berdaya.

Aku dan Sepertimu

Pada malam yang gelap itu, aku dan sepertimu berjanji untuk tidak saling membohongi dan melukai

Sementara aku dan sepertimu berjalan cepat mengingkari takdir, memeluk mimpi dan membawanya ke tepian hari berlindung di bawah harapan menunggu datangnya malam

Aku dan sepertimu merayakan kebersamaan singkat yang akan kukenang selamanya karena takkan ada lagi yang sepertimu, jiwaku menari dalam kegembiraan karena tak mengetahui bahwa sepertimu adalah wujud dari kebohongan dan pengkhianatan yang nantinya berubah menjadi pedang yang merobekku menjadi dua

Itu terjadi ketika mentari tengah di atas kepala, aku ditipu oleh sepertimu yang nyatanya tak seperti yang pernah kubayangkan

Hingga sepertimu perlahan menghilang, tak bisa dipandang olehku selamanya

Di negeri sepuluh ribu hujan, pikiranku terasa kosong dan kepalaku yang tadi terasa berat kini menjadi ringan.

Sedianya kuharapkan pelangi akan menembus mendung berat di langit, namun hujan masih setia turun dengan ributnya, membuat kulitku merinding kedinginan,  begitu juga  tangan dan hatiku. Namun aku merasakan kedamaian luar biasa.

Kedinginan ini kurasakan juga di tanah tempat ku berdiri, menusuk-nusuk bagai kenangan lama yang hancur berkeping lalu bulan mulai muncul menggantikan mentari yang samar kulihat sinarnya melemah dan nanti akan hilang.

Ada kehangatan di negeri sepuluh ribu hujan ini. Beberapa orang berjalan di depanku menawarkannya, yang dibawanya dalam  api  yang mengeluarkan bau harum di telapak tangannya, senyum mereka merekah dan matanya bercahaya. Cantik. Tapi belum juga kuterima cahaya nya.

Hujan seperti selendang putih bidadari melambai dan membelai lembut dan aku menyusupkan tubuhku ke dalam belaiannya dan merasakan kehangatan yang mengejutkan. Melegakan.

Aku telah mengikatkan diriku dalam pesona hujan yang takkan pernah gagal menghiburku. Meski kesedihan terlalu menjeratku dalam tangan-tangan kejamnya, hujan selalu ada untukku.

Hujan adalah segala yang kubutuhkan.

Kesepian dalam Keheningan

Keheningan memiliki kelembutan laksana kapas dan membungkusku dalam selimut sutra yang sungguh menenangkan, tapi dia juga menghadirkan kesepian yang bila kuhiraukan maka dia akan membunuhku perlahan di dalam.

Keheninganlah yang menemaniku ketika aku tak sanggup menghadapi keanehan dunia sekaligus teman perjalanan jiwa yang mengangkatku setingkat lebih tinggi.

Bukankah jiwa yang selalu didera kepedihan dan derita diibaratkan seperti teratai yang tetap berbunga di tengah lumpur yang dingin?

Jiwaku yang terpenjara dalam kesedihan, justru melihat lebih jernih ada cinta yang dengan pamrih, ada tega yang menyeruak di dalam kasih, ada dusta yang membuat lidah tak terkontrol, ada ketakpedulian berselimutkan kesombongan, dan ada wajah serupa topeng yang dipakainya.

Aku masih mencari kemurnian di dalam keheninganku, entah kapan dan dimana  akan kutemukan, hingga aku tak sendiri lagi menghadapi kesepian di dalam keheninganku.

 

 

lamp-street

Ketika menghadapi drama yang tak berkesudahan tentang susahnya hidup, ketidakadilan, rasisme, kritikan tajam yang tak berdasar, kebohongan, kesombongan, pendapat-pendapat menyesatkan.

Aku akan menjauh dan melindungi diriku sendiri dan orang-orang yang kucintai.

Bukankah ketika aku meladeni semua itu dengan kemarahan, aku seperti menyiram bensin ke atas api?