Kenangan Kehidupan

Aku memikirkan masa kini, ketika hal-hal sederhana menjadi sesuatu yang mewah, dan keheningan menjadi sesuatu yang sungguh dirindukan. Lalu aku kehilangan yang selama ini selalu menjadi batu peganganku, kini kemana aku harus berpegang? Aku ingin melewatkan hari-hariku dengan begitu saja, tanpa harus banyak berpikir dan menganalisa segala sesuatu, tapi mungkinkah aku bisa benar-benar melewatkan begitu saja? Bukankah kehidupanku sekarang ini adalah kumpulan kehidupan masa lalu yang membentukku sekarang? Aku berbicara dengan bahasa yang berbeda, yang menjadikanku sebagai pribadi yang sekarang. Aku sudah memilah-milah kenangan yang ingin kujadikan pegangan dan membiarkannya mengalir menjadi waktu kini. Dan esok hari, hari ini akan menjadi kenangan pula, semuanya akan mengalir menuju satu titik yang bernama kematian.

Semakin banyak kusingkap lapisan-lapisan kehidupan, semakin kusadari bahwa kebenaran adalah lapisan yang paling susah kusingkap, ketika semakin dekat aku dengan kebenaran, lapisan lain yang baru menutup dan membuat kebenaran menjadi jauh kembali.

Di tengah segala sesuatu yang tak terpecahkan, memaksaku untuk melihat ke belakang, mengaduk kenangan, hingga barangkali kutemukan jawaban.

Inilah semua yang bergejolak dalam hatiku begitu lama, hingga hari ini dan masih akan ada esok hari. Sambil duduk setelah sekian lama berusaha melarikan diri dan kembali lalu merenung, entah bagaimana kehidupan ini akan tersusun rapi pada saatnya.

Advertisements

Kata-kata

Barisan kata-kata yang pernah kutulis semuanya melukiskan kenangan yang kususun rapi, kata-kata yang sesungguhnya adalah pelajaran hidupku, lalu akan datang masanya hidup kembali menjadi pengalaman bagi dia yang membacanya di satu hari nanti. Tulisan yang indah, sedih dan marah, yang kadang akan kubaca lagi dengan permenungan lain.

Banyak bab bertuliskan kekecewaan dan kesedihanku, yang barangkali kekecewaan dan kesedihan yang juga dialami oleh banyak orang. Bab yang akan berulang kapanpun masanya dan siapapun orangnya. Meski hidup adalah tak abadi, tapi kekecewaan dan kesedihan adalah abadi.

Kata-kata yang menggambarkan kerinduanku akan kesederhanaan kehidupan masa kecilku di kampung. Kehidupan yang tak pernah tergesa-gesa, obrolan mbok-mbok penjual kue di depan rumah, sepeda onthel yang bersandar di dinding samping rumah, siap mengantarku ke sekolah. Aku dulu miskin tapi tak pernah merasa miskin. Kehidupan yang sungguh kurindukan, yang takkan pernah kembali lagi karena orang-orang yang membuatku bahagia sudah tak ada lagi.

Kata-kata adalah temanku yang paling setia, mereka menemaniku dalam diam dan aku memahaminya dalam hening. Kata-kata selalu menjengukku dalam kesedihanku yang paling dalam dan kebahagiaanku yang paling tinggi. Mereka selalu ada di sana menungguku dengan kata-kata yang bersinar dan membuatku merasakan sedikit harapan di tengah kesedihan dan merasakan kefanaan di saat kebahagiaan.

Kata-kata adalah kehidupan yang dituliskan kembali, karena bukankah kehidupan adalah pengulangan semua bab yang pernah kutulis, hanya saja berbeda siapa yang menjalaninya.

 

 

 

 

Ada Masanya

Ada masanya pada semua yang terjadi dalam hidupku,

ketika kesedihan terasa mencekik ada dia yang menemani dan membangkitkan semangatku lagi,

ketika panas menyengat membakar kulitku sebuah pohon menawarkan sedikit kesejukan,

ketika hujan deras seperti tertumpah dari langit, ada sedikit awan biru mengintip di sela-sela mendung tebal,

ketika dunia menunjukkan kesombongannya yang menyilaukan, ada kesederhanaan yang diberikan oleh tawa nyaring bocah kampung yang berlarian tanpa alas kaki,

ketika hiruk pikuk dunia membuatku merasa terkucil dan tak berarti, bunyi denting bel yang terkena angin membuatku diam dalam hening dan menyadari betapa berartinya diriku untuk mereka yang sungguh mencintaiku,

ketika kebohongan terkuak dari yang selalu kupercayai, ada kerendahan hati untuk menyadari bahwa alam memiliki caranya sendiri untuk menyadarkanku,

ketika terkhianati, waktu telah menunjukkan padaku mencintai adalah menghargai,

ketika ada kekeras kepalaan, perbantahan dan keinginan untuk menang sendiri, aku menemukan bahwa diam adalah jawaban dari semua ini,

ketika usiaku semakin tua, aku menyadari hidup harusnya kujalani hanya untuk mereka yang mencintaiku.

 

 

 

Dimanakah Kau Berada?

Dimanakah kau berada sekarang? Apakah kau ada di surga yang penuh dengan bunga. Di mana disana tak ada lagi kesedihan dan kesakitan, yang ada hanya kebahagiaan. Dan kukira jika aku merindukanmu, maka tinggal kutengadahkan kepalaku ke angkasa dan memandangmu dari balik bintang-bintang, menganggap bintang-bintang adalah matamu yang berkelip memandangku.

Atau kau berada di balik patung-patung para kudus di gereja yang tangannya terentang seakan hendak mengajakku masuk ke dalam pelukannya yang damai. Kau memandangku ketika kutundukkan kepala dalam doa yang tak pernah bisa panjang, hanya, Tuhan jagalah kau. Itu saja. Tapi bukankah doa tak perlu panjang, karena doa adalah persembahan yang paling dalam dari sebuah hati? Atau barangkali kau ikut berdoa bersamaku, menggenggam tanganku dan membisikkan kekuatan untukku.

Barangkali kau ada di buku yang tengah kubaca, bercerita tentang perjalananmu ke tanah yang takkan pernah kukunjungi, petualanganmu menegakkan keadilan, atau tentang kisah cinta dua sejoli yang berliku-liku dan berakhir bahagia. Barangkali kau ada di buku yang kemarin baru saja kuselesaikan, buku tentang kesakitan yang sama denganmu, hingga aku mengerti banyak akan apa yang sudah kau rasakan.

Kau juga ada dalam mimpiku, yang berjalan bersamaku di tengah hujan dan kemarau, kau gandeng tanganku dan sungguh terasa tangan halusmu begitu melekat pas dengan tanganku, perlahan kubawa tanganmu ke bibirku dan kukecup agar rasa itu akan tetap menjadi kenangan ku selama mungkin.

Atau kah kau ada di gubuk orang miskin, kau hibur mereka yang papa dan remuk hatinya, kau menemani mereka juga dengan jiwamu yang manis dan membuat mereka semua percaya lagi akan adanya harapan.

Kau ada di kebahagiaanku yang timbul perlahan sesaat tadi pagi, yang membuatku berharap kebahagiaan ini akan menjadi milikku lagi.

Kau ada di kekuatanku, hingga kekuatan ini membuatku bertahan berdiri hingga hari ini.

Ingatkah kau ketika pertama kali aku memelukmu dekat di dadaku, cahaya kuning keemasan memancar dari dalam jiwamu dan malaikat-malaikat kecil bernyanyi bersamaku menyambut kedatanganmu.

Ingatkah kau ketika hari-hari yang kulalui bersamamu adalah kebahagiaan semata dan seakan kesedihan sungguh jauh tak terbayangkan. Kau adalah kesayanganku yang merupakan hadiah Ilahi terindah.

Menyayangi dan mencintaimu terasa sangat mudah dan ringan bagaikan angin sore yang dingin membawa kesejukan hujan yang akan datang. Mengungkapkan keindahan cinta surgawi yang takkan pernah bisa hilang. Bukankah cinta yang demikian besar menyebabkan kehilangan yang sangat besar, yang bahkan pada waktu itu tak pernah terpikirkan olehku.

Jiwa kita sudah bersatu dalam cinta seperti dulu degup jantung kita pernah berdetak bersama.

Kau telah pergi bersama seluruh jiwamu yang manis, dan lenganku kini kosong tak lagi bisa memelukmu, begitu pula hatiku hampa yang takkan pernah bisa terisi lagi.

Dimanakah kau sekarang? Apakah kau masih terjaga malam ini dan memandangku? Kuharap detak jantungku bisa menghantarkan kasih sayangku padamu.

Wajahmu selalu akan kuingat, tapi suaramu perlahan tak lagi bisa kuingat.

Duka telah menjatuhkan selimutnya ke jiwaku yang dulu bahagia. Tangis telah menemaniku bertahun-tahun, mengeringkan bibirku tapi menumbuhkan cintaku padamu semakin besar.

Bintang Fajarku, jiwa kesayanganku, mungkinkah kau dengar kesedihan dan kehilanganku, kata-kata yang kubisikkan untukmuĀ  sebelum tidur? Kuharap.

Aku masih menantikan senyuman dan kehadiranmu.

Betapa besarnya cintaku kepadamu, dan betapa besarnya kedukaan ini.

 

 

be-strong

Ketika sedang dalam kedukaan dan aku menyadari bahwa tak ada siapapun di sisiku yang menemani dalam perjalanan ini, maka tak ada lagi pilihan untukku selain menjadi kuat bagi diriku sendiri

 

Dan ketika kau hadir di sana lalu bertanya padaku, “Mengapa aku bisa sekuat ini?”

Kujawab, “Apakah aku memiliki pilihan lain?”

Dear Kamu

Dear Kamu,

Siapapun kita, cerita apapun yang pernah ada dan terukir di dalam hati masing-masing dan bagi satu sama lain yang pernah terpaut bagai jalinan ranting yang telah kaku menjadi satu, kujanjikan padamu takkan pernah berubah sampai ketika aku berhenti bernafas. Panggillah aku dengan sebutan yang paling kuharapkan kau akan memanggilku tapi tak pernah kau kabulkan, karena kau tolak keinginanku itu dengan segala alasanmu seperti biasa, dan aku akan memanggilmu dengan nama yang pernah kurangkai hanya untukmu. Kau boleh membicarakanku dengan tawamu yang menjadi ciri khas mu, dan aku akan membicarakanmu dengan ringan dan bahagia seperti ketika dulu aku membicarakanmu yang muda yang mudah dicintai. Lalu kita akan teringat kelucuan-kelucuan dan kebodohan kita dalam menyikapi satu sama lain, dan kita akan tertawa sampai lelah, tak kita sadari bahwa kita bisa sebodoh itu. Tawa yang menyenangkan karena kebodohan itu tercipta oleh kita sendiri. Aku masih suka senyum dan tawamu yang seperti mengejek.

Mari, bermainlah denganku, dan tersenyumlah untukku, dan ketika malam menjelang dan kau ingin merebahkan kepalamu, doakanlah aku. Aku tahu, perlahan nanti kau akan melupakan aku, tapi dengan mendoakanku, setiap malam, setidaknya kau akan mengingatku sekali dalam sehari. Meski aku tak tampak, aku takkan pernah berhenti mencintaimu. Dan kau tahu, aku senantiasa menunggumu di waktu yang tak nyata, seperti dulupun kita pernah tak nyata. Aku selalu dekat, takkan pernah jauh.

Jejak Masa Lalu

Pergilah, dan bawalah apapun yang tersisa darimu yang dulunya adalah sumber kebahagiaan seperti pasar malam yang meriah dengan lampu-lampu dan pertunjukkan mempesona. Barangkali segalanya kini menjadi terlalu bising dan memuakkan.

Dan bila satu ketika nanti kau mempunyai waktu untuk kembali menengok apa yang sudah kau tinggalkan, cobalah kau kembali dan mencari apa yang sesungguhnya sudah kau tinggalkan, karena aku sungguh yakin kau tak akan pernah bisa hidup tanpanya.

Lalu kau akan menelusuri kembali jejak-jejak yang tak lekang oleh waktu pada gurat pohon, pada debu, pada angin dan pada hujan.

Hingga ingatan yang ada padamu hanya menyisakan ragu.