Letakkan Semua

Master Sheng Yen (1930-2009) adalah Mahaguru Chan (Chinese Zen), yang terkenal di Amerika,  Beliau mengajar dan memimpin retret di Amerika, Eropa dan Asia. Dalam perjalanan kebiksuannya, beliau pernah belajar di Jing An Temple Shanghai dan pernah menjadi tentara AD Taiwan. Dalam autobiografinya, beliau menulis kisah ini. Selama masa menjadi tentara, beliau memendam kerinduan untuk kembali menjadi biksu, hanya saja untuk keluar dari ketentaraan, bukan perkara gampang. Selama dalam pencarian jalan untuk kembali menjadi bhiksu, pada waktu itu beliau belum menjadi Master, dalam masa liburan, beliau menemui beberapa mahaguru Budha.

Dalam kegundahannya, suatu ketika beliau mengunjungi Master Lingyuan. Beliau mengawali dengan satu pertanyaan, tetapi lalu ada seratus, tiap pertanyaan lebih membingungkan dari sebelumnya. Semua tumpah dari mulut dalam semburan kesangsian dan keputusasaan : Apakah saya bisa menjadi seorang bhiksu lagi? Bagaimana agar bisa mencapainya? Guru mana yang dapat dituju? Menjadi Bhiksu jenis apa yang saya inginkan? Dan banyak pertanyaan lain lagi.

Terus dan terus Master Sheng Yen bertanya, berharap akan menemukan jawaban dari Master Lingyuan. Akan tetapi tanggapan Master Lingyuan hanya sekedar menanyai Master Sheng Yen jikalau masih  punya pertanyaan lagi, setiap master Sheng yen berhenti sejenak untuk mengambil nafas.

Terus dan terus master Sheng Yen bertanya, mencurahkan segala frustasi dan kebingungan yang terpendam di dalam hati. Akhirnya, Master Lingyuan menarik nafas panjang, mengangkat tangan dan seketika menggebrak dipan dengan keras.

“LETAKKAN SEMUA!” bentaknya.

Sungguh mengagetkan, dalam sekejab, semua awan dan kabut dalam pikiran Master Sheng Yen hilang lenyap. Racun mengerikan yang selama ini menyelubungi Master Sheng Yen hilang lenyap, yang ada tinggal rasa segar bugar yang luar biasa mendalam, sekujur tubuh terasa sejuk dan rileks. Tiada lagi kesangsian dan keputusasaan yang dulu pernah ada. Tiada pula masalah di manapun di dunia ini. Semua hilang.

Kita seringkali menumpuk kekhawatiran dan beribu pertanyaan, Bagaimana…? Bagaimana jika….? Seakan-akan belum cukup segala masalah yang ada di rumah dan pada diri sendiri, masih juga memikirkan masalah orang lain. Jadilah seakan-akan beban di pundak semakin hari semakin berat.

Sebagai seorang Ibu, barangkali kekhawatiran yang seringkali menghantui kita setiap hari adalah, yang berkaitan dengan masalah suami dan anak-anak. Bahagiakah mereka hari ini? Apakah mereka disakiti oleh orang disekitarnya? Hati-hatikah mereka ketika menyeberang jalan? Apakah pergaulan anak-anak adalah pergaulan yang baik? Apakah saya sudah menjadi ibu dan isteri yang baik? Apakah mereka terlambat makan? Sudah benarkah cara saya mendidik anak-anak saya? Apakah suami saya menemui kesulitan dengan karir atau dengan teman sejawatnya? Dan beribu pertanyaan lain yang senantiasa berputar-putar seperti lingkaran.  Sudah saatnya kita “MELETAKKAN SEMUA”.

Seperti Master Sheng Yen, ketika permata hati saya diambil dari pelukan saya, dan harus kembali ke pangkuan Yang Kuasa, saya sibuk kesana kemari bertanya-tanya, berusaha mencari jawaban. Mengapa.. dan mengapa? Saya memang selalu mendapat jawaban dari semua pertanyaan saya, karena saya didampingi oleh Pastor-Pastor dan Suster-Suster yang luar biasa, namun puaskah saya dengan jawaban-jawaban mereka? TIDAK. Karena jawaban mereka, menimbulkan pertanyaan baru lagi. Jadi tidak ada puasnya. Sampai pada satu titik, sekitar 3 tahun kemudian, saya mendapat pemahaman yang luar biasa bahwa saya harus berdiam diri, hening dan “LETAKKAN SEMUA”. Dan saya berhenti mencari jawaban.

Sewaktu masih menjadi therapis,  saya diajar untuk mendengarkan klien secara obyektif, jika kami sudah menjadi subyektif, maka sudah saatnya untuk mengalihkan klien ini pada kolega yang lain. Bayangkan bila, semua cerita dan masalah klien, menjadi pemikiran saya, maka rambut di kepala saya bukan lagi abu-abu, tapi langsung menjadi putih… Dengan berpikir secara obyektif, saya pun bisa menjadi rekan bercerita yang baik, karena saya tidak memihak pada siapapun.

Ada seorang teman sehati saya yang sangat ringan tangan, selalu bersedia membantu baik dalam suka dan duka.  Diapun sangat ringan hati, selalu memikirkan semua masalah yang sedang menimpa orang-orang di sekitarnya, dan berusaha untuk membantu,  akibatnya, dia menjadi sering murung, tanpa alasan jelas. Dan yang sudah pasti, dia seringkali merasa lelah lahir dan batin. Bahkan acapkali, permasalahannya sendiri menjadi tidak sempat dia pikirkan.

Sebagai seorang manusia, tentu nya kita masih bereaksi terhadap godaan seperti rasa nafsu, benci, takut, khawatir, iri hati atau kesombongan. Ketika usia saya di akhir 20 an dan di awal 30 an, saya dipenuhi dengan nafsu untuk memacu anak-anak untuk belajar dan menjadi nomer 1. Memberi mereka berbagai macam les, dari musik, olah raga dan pelajaran. Dan merasa bangga, serta sedikit sombong, bila anak-anak menjadi nomor 1 baik di sekolah maupun dalam berbagai macam lomba yang mereka ikuti. Dengan seleksi alam, pada akhirnya, anak-anak menunjukkan bakat dan kemahiran sesuai dengan talentanya. Dengan berjalannya waktu, saya menjadi semakin bijaksana dan anak-anakpun tumbuh membentuk karakter nya masing-masing sesuai dengan talenta yang dimiliki mereka. Sayapun mulai melepaskan  nafsu saya pada mereka, dan membiarkan mereka bertumbuh sesuai dengan bakat dan kemampuan mereka. Saya pun bisa melihat mereka bertumbuh dengan bahagia, dengan kehidupan yang sudah mereka pilih sendiri. Dengan berjalannya usia, seharusnya kita semua pun menjadi lebih bijaksana dan mampu melepas reaksi-reaksi mental ini dengan seketika. Begitu kita lepas, maka kita akan merasa tenang.

Tentunya sukar untuk bisa menjadi seorang seperti Master Sheng Yen. Namun kita bisa memulainya dengan sedikit demi sedikit melepaskan keterikatan kita pada segala sesuatu yang ada di dunia ini. Semuanya, seperti  kemashyuran, harta, cinta, dan kekuasaan. Sehingga bila satu hari kita terpaksa harus kehilangan satu dari pada nya, maka kita tidak akan menjadi terlalu terpuruk . Termasuk apabila kita harus kehilangan orang-orang tersayang, karena tidak ada sesuatu pun di dunia ini yang abadi. Meskipun kita mempunyai tanggung jawab, namun kita tidak menjadi terikat.

Betapa sukar nya menerapkan ini semua dalam kehidupan sehari-hari. Karena setiap hari kita bertemu dan bercakap-cakap dengan berbagai macam tipe orang. Yang acapkali membuat kita seringkali gembira, marah, sedih, kesal, kecewa , terluka, iri hati dll.

Pada suatu hari saya dikirim message oleh seorang teman… “Ketika bangun pagi, jangan biarkan pikiran sedih menguasaimu. Bila kamu teringat seseorang, yang memperlakukanmu dengan buruk, lupakan dia, ingatlah hanya orang-orang yang MENCINTAIMU dan memperlakukanmu dengan baik.”

Message itu sangat berkesan, mengapa juga kita harus memikirkan dan terbeban dengan orang-orang yang memperlakukan kita dengan buruk?

Jadi sudah saatnya, kita “LETAKKAN SEMUA” dan melangkah dengan bebas.

Salam, Ineke H.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s