Kematian adalah Penegasan dari Hidup

Joseph Campbell mengungkapkan,” Seseorang bisa mengalami satu penegasan mutlak dari hidup ini hanya bila orang itu telah menerima kematian, bukan sebagai wujud perlawanan hidup, melainkan sebagai satu aspek dari hidup itu sendiri.”

Adalah mudah berfilsafat tentang kematian – sampai seseorang yang dekat dengan kita meninggal. Jika kematian menyapa orang-orang terkasih kita (suami, isteri, anak, kekasih, orangtua, teman atau sahabat), maka kita harus membiarkan diri kita untuk mengalami proses kedukaan, dan bukannya meloncati, mengingkari proses tersebut. Proses kedukaan yang dialami haruslah sempurna, dan pada akhirnya akan menjadi paripurna. Paripurna, dalam arti proses kesedihan itu akan selesai dengan sempurna. Setiap orang membutuhkan waktu untuk bereaksi, berduka dan akhirnya menerima. Apabila kita mencoba mengabaikan atau memacu diri kita melalui tahap-tahap ini, kita bisa jadi terhenti dalam kedukaan yang tidak terselesaikan. Untuk memperoleh kembali kedamaian dan keseimbangan batin, kita jangan menekan atau menyangkal apapun perasaan kita maupun tahap-tahap kedukaan itu. Sebaliknya biarkan diri kita tumbuh melalui tahap-tahap itu. Proses ini secara umum juga bisa terjadi dalam perceraian atau putusnya hubungan percintaan.

Tergantung siapa yang meninggal, kita mungkin memerlukan rentang waktu untuk benar-benar pulih. Ini tidak berarti kita tidak bisa melakukan hal-hal lain selama masa itu, atau bahwa kita harus menyelimuti diri kita dalam pakaian hitam dan menangis terus menerus dalam rentang waktu tertentu. Ini semata-mata berarti bahwa kita bisa berharap untuk merasakan tahap-tahap kedukaan. Pada akhirnya kita bisa memulihkan keseimbangan kebahagiaan dan kegembiraan dalam hidup.

Kadang-kadang kehadiran orang lain dengan maksud untuk menghibur, justru menjadi beban tambahan bagi orang yang sedang berduka. Berikut ini beberapa hal yang perlu diingat ketika kita ingin menghibur seseorang yang sedang berduka:

1.      Bila hubungan anda cukup dekat, peluklah dia, biarkan dia menangis di pelukan anda. Usahakan tidak meminta dia untuk berhenti menangis, dengan mengatakan,”Sudah, jangan menangis lagi, nanti yang meninggal tidak rela pergi dari dunia ini……” (Yang tidak rela siapa? Karena bukankah jiwa-jiwa yang berpulang sudah mendapat tempat yang layak di sisi Tuhan). Kalau hubungan anda tidak cukup dekat, anda cukup  menggenggam tangannya, atau duduk bersisian. Kita, membantu orang yang berduka yang bertanya,”mengapa?”, TIDAK dengan menjelaskan  MENGAPA, tetapi dengan meringankan rasa sakitnya, membenarkan haknya untuk menangis dan merasa marah, dan mengatakan kepadanya bahwa kita merasa peduli dan sayang padanya. Karena bukankah, tidak semua di dunia ini  bisa dijelaskan.

2.      Bila hubungan anda cukup dekat, anda bisa datang ke rumahnya dengan membawa makanan kecil, berbicara dengannya, tapi tidak memaksa dia untuk menceritakan kesedihannya, urutan peristiwa dan perasaannya. Membiarkan seseorang yang berduka untuk mempunyai kecepatan dan irama sendiri untuk mengatasi kesedihannya, adalah tindakan yang sangat bijaksana.

3.      Tidak mengeluarkan komentar-komentar negatif seperti,” Saya sudah bilang kan …. Kamu tidak mau nurut sih.” “Mestinya kamu bawa ke dokter A, pasti penyakitnya bisa disembuhkan…….” Atau komentar yang sangat menyakitkan,” Masih banyak orang lain yang lebih menderita dari kamu…..” Dan komentar- komentar lain yang negatif dan melemahkan semangat.

4.      Orang yang sedang berduka perlu dihormati dan tidak diperlakukan seolah-olah mereka telah kehilangan pikiran mereka.

Mungkin kita bisa memahami bagaimana perasaan seseorang yang berduka, mungkin pula tidak. Asumsi dan penjelasan tidak akan membantu keadaan. Kisah-kisah tragedy lain juga tidak akan membantu. Saling berpelukan dan minum kopi serta duduk bersisian terkadang adalah tawaran terbaik yang bisa kita berikan.

Apakah itu kematian teman, suami isteri, anak, orangtua, kekasih, kematian memaksa kita untuk menyesuaikan diri dengan perubahan permanen dalam hidup kita. Ini mungkin suatu perubahan paling sulit yang harus diterima dalam hidup, tetapi ini bisa dilakukan dan pada akhirnya diterima, melalui waktu dan pengertian.

Akhirnya kita bisa menerima kematian secara filosofis, sebagai bagian dari hidup ini.

Salam selalu, Ineke  H.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s