Wahai Engkau

Wahai  kau dan kehidupanmu yang bising,

hingar bingar suaramu  yang memekakkan telinga.

Yang hidup dalam kegelapan,

yang berlarian menuju kehampaan,

yang berbicara atas nama kepalsuan,

yang merasa pandai di atas kebodohanmu.

Sampai kapankah engkau merasa di atas dunia dan dunia dapat kau kendalikan dengan suaramu yang menggelegar ?

Sampai kapankah kau hidup dalam kepura-puraan, dan  kau tarik semua yang kau sayangi dalam kepura-puraanmu, dan kau lupakan semua keindahan kelopak bunga di taman-taman yang dulu kita kagumi bersama?

Kau kenakan topeng dengan senyummu yang menawan,

padahal pernah kutawarkan keindahan sebuah wajah murni tanpa polesan,

kehalusan sehelai selendang  wangi melati untuk membungkus kepalamu yang senantiasa panas membara.

Pernah kutawarkan pula lilin-lilin kecil tuk menerangi jalanmu, karena kutahu jalan yang kau tapaki adalah jalan kegelapan tanpa cahaya.

Rumah hening dimana keheningan memiliki makna, dengan keangkuhan telah kau hancurkan.

Tangan-tangan jahat telah mencuri kedamaian dalam hatimu.

Akar-akarnnya sudah menghunjam jauh ke dalam nuranimu.

Tak lelahkah kau bermain dengan kalimat-kalimat palsu, kata-kata berbunga yang tidak memiliki arti.

Tetap kucuri waktumu, tuk mengusik hatimu, nuranimu.

Mungkin kau pernah terusik, dan menyadari bahwa semua ini salah, namun kau tetap berkeras hati.

Kurindukan saat-saat kita masih menjadi jiwa-jiwa polos, yang memandang dunia dengan hitam putih.

Meski kebisingan dan hiruk pikuk dunia mencabut paksa kepolosan itu,

aku masih ingin mengetuk .

Berhentilah.

—Ineke H—

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s