Sifat Semula Jadi

Kita semua pasti pernah menyaksikan dan menyukai film kartun klasik Tom&Jerry. Perburuan brutal tanpa hasil yang dilakoni oleh Tom si kucing  dan Jerry si tikus sebagai korban yang diburu berlangsung sepanjang masa. Tom selalu mengejar-ngejar Jerry tanpa lelah dan putus asa, dan Jerry selalu rela dikejar-kejar oleh Tom juga tanpa lelah. Bahkan pernah terjadi di salah satu episode, Tom memutuskan untuk berlibur di rumah bibi kucingnya. Jerry, yang biasanya memulai hari dengan dikejar-kejar oleh Tom, merasa hidupnya hampa, dan memutuskan untuk menggoda anjing buldog milik tetangga. Alhasil, anjing buldog yang merasa terganggu, kini mengejar-ngejar Jerry. Dan lihatlah wajah Jerry di layar kaca, dia tersenyum lebar sambil berlarian kesana kemari menghindari kejaran anjing buldog. Karena sifat semula jadi Jerry adalah dikejar-kejar, dan Jerry merasa bahagia karenanya.

Cerita tentang kalajengking yang meminta bantuan pada burung bangau yang diceritakan oleh ayah saya. Ada seekor kalajengking yang meminta bantuan burung bangau untuk menerbangkannya ke daratan di seberang sungai yang kala itu sedang banjir. Burung bangau yang sudah mencurigai niat sang kalajengking, memintanya untuk berjanji tidak menyengatnya sesampainya di seberang sungai. Kalajengking pun berjanji, ” Aku tidak akan menyengatmu, aku akan sangat berterima kasih padamu.” Maka sang bangau menyanggupi untuk menolong kalajengking. Naiklah kalajengking ke leher burung bangau, dan mereka berdua terbang ke angkasa menyeberangi sungai. Lalu sampailah mereka berdua di seberang sungai. Bangau meminta kalajengking untuk turun dari lehernya, namun sebelum turun, kalajengking menyengat leher sang bangau.Betapa terkejutnya bangau terkena sengatan kalajengking. Sebelum mati, bangau bertanya pada kalajengking,” Mengapa kau tetap menyengatku, padahal aku sudah menolong menyeberangkanmu dan kau sudah berjanji untuk tidak menyengatku?” Jawab Kalajengking, ” Sudah sifat semula jadiku.”

Sering saya mengamati, banyak orang-orang memiliki sifat semula jadi, atau “sudah dari sononya”, seperti Tom & Jerry dan kalajengking. Mereka merasa nyaman dengan kondisinya, dan tidak mau peduli pada perubahan. Apabila ditawarkan promosi atau kenaikan jabatan, mereka akan menolak dengan halus. Apabila ditawari untuk mengerjakan proyek yang besar, mereka akan mengatakan tidak. Pemikiran yang ada dalam benaknya, “Itu bukan gaya saya (menjadi kaya atau hidup yang lebih baik).” atau “Saya sudah cukup dengan makan seadanya dan anak-anak bisa bersekolah. Buat apa punya kekayaan berlebih.” Dan berbagai macam alasan lain yang mengesahkan pendapat dirinya sendiri bahwa sudah nyaman dengan kondisinya saat ini. Semua bergantung pada cara berpikir dan cara melatih pikiran agar tidak kembali kepada sifat semula jadi. Bila Anda berpikir kaya maka Anda akan kaya, bila Anda berpikir miskin, maka Anda akan miskin.

Seorang yang percaya, bahwa ia harus berjuang untuk hanya sesuap nasi, mungkin dia akan melamar pekerjaan yang gajinya rendah, karena menurutnya itulah posisi yang sesuai dengan dirinya. Ia mungkin akan bergaul dengan orang yang keadaan ekonominya setingkat dengannya karena di lingkungan itulah ia merasa nyaman. Dalam kelompoknya, mereka semua setuju bahwa hidup itu sulit, dan cenderung untuk tidak mengembangkan cita-cita sampai pada kemungkinan untuk terwujud. Karena ia memiliki satu program di sel-sel otaknya yang mengatakan.” Saya tidak akan pernah punya uang, saya selalu miskin.”

Bila pada suatu hari mendapat warisan atau mendapat undian satu miliar Rupiah. Yang terjadi adalah, dia berusaha menolak rejeki nomplok itu dengan berbagai macam cara, atau bahkan yang lebih parah, segera menghabiskannya tanpa ada sisa. Karena “Bukan gaya saya untuk hidup kaya.” atau “Rasanya aneh punya uang sebanyak ini, aku harus membelanjakannya sampai habis, biar aku kembali ke sifat semula jadiku… yaitu keadaan tanpa uang.”

Dengan keyakinan pada pendapat diri sendiri, mungkin saja dia mulai menyalahkan lingkungan, orang sekitar, alih-alih mengoreksi diri sendiri. “Aku tidak akan pernah punya uang, karena pendidikanku hanya SMA.” Bila ukuran pendidikan menjadi ukuran untuk menjadi kaya, maka seorang profesor pasti seorang jutawan.”Aku memilih pekerjaan yang salah, pekerjaan ini tidak membuatku kaya.” Banyak orang yang memiliki kerja sampingan disamping pekerjaan utamanya sebagai langkah untuk menjadi kaya.  atau “Boss ku sangat pilih kasih, aku tidak mungkin dapat promosi.” Ukuran pilih kasih rasanya sukar untuk diterapkan pada seorang boss. Karena boss tetaplah seorang boss.

Saya masih percaya bahwa setiap orang ketika dilahirkan serupa dengan kertas putih, yang di atas kertas putih itu akan dituliskan berbagai macam kisah yang dilalui sepanjang hidupnya, yang nantinya akan membentuk dirinya sebagai pribadi yang unik. Namun bagaimana sifat semula jadi itu bisa berakar kuat dalam diri sebuah pribadi masih menjadi misteri. Karena perjalanan hidup yang sudah menempanya menjadi pribadi yang sekarang.

Salam…. Ineke H.

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s