Anakku jadilah Bintang

Setiap anak mempunyai bakat dan kemampuan untuk menjadi sesuatu. Sebagai orang tua, kita tertantang untuk menemukan sesuatu tersebut. Tugas yang tidak mudah.

Ayah saya adalah seorang pedagang yang lumayan besar di kota kecil tempat saya dibesarkan. Dari kelima putra putrinya, tidak ada satupun yang mewarisi bakat dagangnya. Dan dari ketiga putra saya, nampaknya juga tidak ada satupun yang mewarisi bakat dagang kakeknya. Jadi kemungkinan untuk mempunyai satu orang pedagang dari anak-anak saya, sepertinya harus dihapus. Saya masih belum tahu, apakah nanti ada dari generasi cicit ayah saya atau dari cucu saya yang bisa menjadi seorang pedagang.

Anak-anak  memiliki keinginan, kemampuan dan kesukaan yang berbeda dengan orangtua. Seorang pemain sepakbola, bisa jadi memiliki anak yang sama sekali tidak menyukai sepak bola . Menurut sang anak, sepakbola adalah olah raga aneh, karena satu bola dikejar-kejar oleh 20 orang, setelah bola didapat, malah ditendang lagi. Atau bahkan dia sama sekali tidak senang pada olah raga.

Orangtua juga seringkali menginginkan atau memaksa anak-anaknya untuk menjadi seorang dokter, insinyur, sarjana hukum, konglomerat. Sebagai orangtua, kita harus berpikiran terbuka, bahwa anak-anak mungkin tidak ingin memiliki karir yang sudah diperkirakan oleh orangtuanya. Mereka punya pilihan sendiri.

Sebagai orangtua sebaiknya kita membantu anak-anak untuk berhasil dalam karir yang dipilihnya dan tidak menjadikan anak-anak menderita dengan pilihan yang didiktekan oleh orangtua. Anak yang menderita dengan pilihan yang dipaksakan padanya, akan merasa sakit hati, marah, kesal dan kemungkinan untuk menjadi sukses sangat kecil. Biarkan anak-anak memilih tujuan yang disukainya dan berjuang untuk meraihnya. Tugas Anda adalah menemani dan menyemangati dalam perjalanan meraihnya.

Bagaimana cara orangtua menemukan bintang dalam diri anak-anak?

Perhatikan minat atau aktifitas apa yang senang dia lakukan setiap hari. Apa yang membuatnya selalu bersemangat bila melakukan sesuatu? Selama ini tidak bertentangan dengan moral dan hukum, sudah selayaknya anda mendorong dia melanjutkan aktifitas yang disenanginya. Bila dia senang pada seni, anda bisa menyediakan berbagai macam peralatan seni dan medianya. Bila dia senang pada film dan fotografi, selain menyediakan media, anda juga bisa sering mengajaknya menyaksikan film-film bermutu dan mendiskusikannya. Mendorongnya untuk membuat film-film singkat, mengikuti kelas teater, dan tampil dalam sebuah pentas teater. Bila dia senang pada penelitian, Anda bisa mengajaknya ke museum-museum ilmu pengetahuan, mencoba percobaan-percobaan sederhana di rumah.

Untuk menjadikan dia seorang “bintang”, sebagai orangtua, kita berkewajiban untuk menyediakan “panggung” nya, agar anak bisa berekspresi dengan baik dan bebas. Tempat dia dapat menunjukkan sisi terbaik dari apa yang menjadi minatnya.

Mungkin saja, pada suatu hari minat dan keinginan nya berubah. Jarang sekali ada orang yang sudah bisa mengetahui dengan tepat karir yang akan dimiliki pada saat dewasa sedari dia masih kecil. Perubahan dalam minat dan keinginan anak-anak, jangan lah dianggap sebagai sebuah kegagalan. Anggaplah sebagai proses belajar dan kesempatan untuk memperkaya diri,  untuk menggali bakat-bakat yang ada dalam diri anak, mengembangkan keterampilan khusus, mendapatkan pengalaman praktis dan yang terpenting menumbuhkan disiplin diri dalam mencapai apa yang diinginkan.

Dalam setiap “pertandingan kecil” dalam perjalanan hidupnya, seperti pertandingan olah raga, perlombaan ilmu pengetahuan, perlombaan bahasa Inggris, pertunjukkan musik, mungkin saja dia tidak menjadi nomor satu, tapi anak-anak percaya, Anda akan selalu bangga pada pencapaiannya, karena anak-anak adalah “bintang” orangtuanya.

Dalam pementasan, pertandingan olah raga, perlombaan ilmu pengetahuan, anak-anak akan mempelajari disiplin dalam mempersiapkan materi, menghilangkan demam panggung, mengasah sportifitas. Dari semua pengalaman praktis yang diperolehnya, anak-anak akan belajar mengatasi kegagalan, disiplin, menghargai kekuatan dan karakternya sendiri.

Dan yang terakhir, tetaplah memiliki harapan yang masuk akal bagi anak Anda. Tidak perlu menyodorkan mimpi-mimpi yang terlalu tinggi untuk diraih, atau memaksakan anak-anak untuk bekerja terlalu keras. Biarlah anak-anak menikmati pengembangan bakatnya dengan gembira.

Berikan kesempatan bagi anak-anak untuk berjalan menuju “panggung” nya sendiri. Pastikan Anda ada di barisan paling depan untuk menonton dan pastikan dia mendengar tepukan tangan Anda.

Salam… Ineke H.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s