Kesempurnaan dan Ketidaksempurnaan

Setiap pagi saya suka merangkai bunga ke dalam sebuah vas. Bunga-bunga itu sangat indah. Dengan tidak memerlukan keahlian merangkai bunga yang mahir, bunga apapun yang saya rangkai ke dalam vas, pasti akan terlihat indah, karena memang bunga itu sudah indah. Bahkan untuk bunga yang sederhana seperti Daisy, saya hanya menambahkan beberapa daun hijau pada vas, rangkaian bunganya akan langsung terlihat indah. Sempurna.

Ketika sedang merangkai bunga, saya sering memperhatikan, bahkan dalam keindahan bunga-bunga yang ada di hadapan saya, ada saja bunga yang layu, daun yang kecoklatan, bunga yang pinggiran kelopaknya sudah menguning. Bunga dan daun dalam kondisi demikian pastilah saya gunting dan buang. Karena saya memerlukan bunga dan daun yang sempurna untuk vas saya.

Lalu, bagaimana dengan kehidupan, akankah kita bisa berdamai dengan ketidaksempurnaan dan membuangnya begitu saja?

Seorang yang perfeksionis tidak akan memiliki ketenangan dan kedamaian dalam hatinya. Bagaimana bisa keinginan untuk selalu sempurna bisa mendatangkan kedamaian, karena keduanya berjalan saling menjauh? Orang yang selalu ingin melihat segala sesuatu dengan sempurna, akan selalu mencari ketidaksempurnaan pada diri sendiri, orang lain, kondisi, keadaan ataupun benda. Kita juga tidak mensyukuri apa yang sudah didapat karena selalu ingin mendapatkan sesuatu yang lain, tidak merasa puas dengan apa yang sudah dimiliki. Mata dan perhatian kita hanya tertuju pada kekurangan dalam diri sendiri dan orang lain atau sesuatu dan keinginan untuk memperbaikinya. Bila kita diperbudak terus menerus oleh pikiran bahwa ada yang kurang, maka kita tidak akan pernah merasa puas.

Pikiran untuk mencari ketidaksempurnaan, bisa pada diri sendiri yaitu, keadaan fisik, kegemukan, terlalu kurus, prestasi yang tidak bisa dicapai, rumah yang tidak bersih padahal sudah sangat bersih dan kekurangan lain pada segala sesuatu yang dimiliki. Bisa juga pada diri orang lain, yaitu tingkah laku, gaya hidup, kekayaan, cara bicara. Selalu mencari ketidaksempurnaan menyebabkan kita menjadi sinis akan kehidupan, memandang segala sesuatu dari sisi negatif, penuh rasa cemburu dan iri hati. Dan tentu saja keadaan ini akan menjauhkan Anda dari kelembutan dan kebaikan hati.

Keinginan untuk mencapai sesuatu dengan sempurna adalah baik, tapi kita juga senantiasa mengembangkan sikap positif dan pandangan positif akan segala sesuatu. Kenyataannya, dunia adalah tempat yang tidak sempurna. Kehidupan berjalan dengan keunikannya dalam ketidaksempurnaan disana sini. Kita akan lelah jika terus menerus bertarung untuk mengubah segala yang tidak sempurna menjadi sempurna. Anda harus menikmati dan menghargai segala yang sudah Anda miliki, dan pencapaian yang sudah Anda dapat selama ini.

Dengan melepaskan diri pada keterikatan untuk senantiasa membuat segala sesuatu menjadi sempurna, atau yang menurut Anda adalah sempurna, akan membuat Anda lebih merasa damai. Tidak memberi penilaian pada apapun dan membiarkan dunia berjalan tanpa penilaian Anda. Menerima dunia apa adanya. Dan menerima bahwa apa adanya adalah baik-baik saja dan itu tidak apa-apa.

Ketika Anda sudah berdamai dengan ketidaksempurnaan dan menerima bahwa dunia tetap akan berjalan tanpa Anda berusaha untuk memperbaikinya terus menerus, maka ketenangan dan kebebasan jiwa akan Anda dapatkan.

Salam… Ineke H.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s