Tangan yang Meronta Sia-Sia

Pasir dan bebatuan di negeriku kini tengah tenggelam dalam darah dan air mata;

Air mata dari mata-mata polos yang menangis tanpa daya sambil menatap tak mengerti pada para laki-laki mabuk bernafas bau yang tertawa-tawa di atas tubuhnya.

Tangan mungil  meronta sia-sia menangkap angin berusaha menyingkirkan cakar-cakar iblis yang menggerayangi tubuhnya.

Darah tercurah dari kemurnian sekuntum bunga murni dan harum yang tercemar oleh nafsu-nafsu bejat iblis bermata gelap yang menginginkan kenikmatan sesat sesaat.

Teriakan tanpa suara memanggil sang bunda mengharapkan pertolongan terakhir pada dia yang selalu diingat dalam pikirannya yang masih sederhana.

Dalam puncak keputusasaannya, turunlah seorang malaikat cantik  berpakaian serba putih mengulurkan tangan dalam cahaya kemilauan menjemputnya menawarkan ketenangan dan kedamaian, dia mengulurkan tangan mungilnya dan pergi bersama sang malaikat cantik.

Tinggallah para iblis menatap sosok diam mungil yang sudah mereka cemari dengan gelap mata membabi buta;

Tiada sesal sedih yang dirasakan karena pikirannya terbungkus oleh kabut nafsu yang menginginkan lagi dan lagi;

Dan para iblis pun beranjak pergi untuk mencari kuntum bunga lain.

—Ineke H—

Advertisements

4 thoughts on “Tangan yang Meronta Sia-Sia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s