Surat untuk yang Terkasih

Mei 2016

Untuk yang terkasih,

Ketika engkau mencari kekasih, kuharap aku dapat memenuhi harapanmu akan sosok seorang kekasih, meski aku merasa bahwa harapan itu masih jauh dari kenyataan.

Aku sangat senang menerima kabarmu membuatku tidak lagi merasakan kerinduan yang menyesakkan dada. Sekedar mendengar kabar kegiatanmu sehari-hari meski dari selembar surat sudah sungguh melegakan hatiku. Harapan menerima surat darimu seperti harapan sekuntum bunga yang tumbuh di tebing yang terjal untuk bisa dipetik oleh pengelana dan mempersembahkannya kepada pujaan hatinya. Dan ketika suratmu datang, kebahagiaanku melebihi apapun. Apapun yang kau tulis, bagiku mewakili dirimu melebihi kata-kata itu sendiri.

Aku membayangkan jemarimu dengan canggung menuliskan kata demi kata di kertas putih dan keningmu berkerut dengan kesungguhan mencari kata-kata yang ingin kau tuliskan agar dapat mewakili perasaanmu, karena kau bukanlah orang yang pandai merangkai kata-kata. Bagimu lebih mudah menunjukkan perbuatan daripada menuliskannya. Itulah sebabnya suratmu jarang datang karena kau sulit merangkai kata-kata, namun hatimu dan pikiranmu selalu kau tujukan padaku, demikian tulismu dalam suratmu. Kau tahu, kata-kata memang dapat menyampaikan apa yang kau dan aku rasakan, tapi kata-kata tidak dapat menggambarkan rasa jiwaku padamu dan rasa jiwamu padaku.

Kata-kata yang kutuliskan seringkali sukar menerjemahkan pikiranku seperti yang aku inginkan. Kuharap kau mengerti, meski jarak yang memisahkan kita, aku menyimpan kau dalam lubuk hatiku yang paling dalam dan memastikan rasa kasihku padamu. Namun, aku berjanji untuk terus menuliskan apapun yang kupikirkan dan yang terjadi padaku setiap hari, meski kau tidak sering membalas surat-suratku.

Kotaku seperti biasa selalu diguyur hujan setiap hari. Tapi pada siang hari, sinar matahari bersinar sungguh terik. Aku bahagia tinggal di kotaku, karena ketenangan dan udaranya yang sejuk. Orang-orangnya ramah, senantiasa tersenyum dan bertegur sapa  bila saling berpapasan meski tidak saling mengenal.

Aku pernah tinggal di kota. Aku seperti kebingungan dengan segala hiruk pikuk dan kebisingan kota, yang membuatku seperti kehilangan jati diriku. Aku seperti bukan diriku, terengah-engah mengikuti kehidupan kota. Membuatku merasa melayang dan tidak fokus. Itulah mengapa para orang pandai, sengaja mengasingkan diri untuk dapat mengetahui anugerah alam yang akan didapatinya dalam ketenangan dan keheningan. Bagaimana dapat memperoleh ketenangan dan bagaimana dapat mendengarkan nurani di tengah-tengah segala kebisingan?

Kau bertanya, mengapa aku sangat menyukai keheningan?

Aku sangat menyukai keheningan, karena dalam keheningan, aku dapat mendengar suara apapun dengan sangat jernih. Suara hujan yang menerpa kaca daun jendela, bunyinya seperti denting harpa. Angin yang menggesek dedaunan, bunyinya seperti gemerisik kain batik yang tengah dijemur setelah dilukis lilin malam oleh perajin batik. Sayap kumbang dan kupu-kupu yang berterbangan di sela-sela daun, suaranya seperti seruling dengan nada tinggi. Bahkan nuraniku pun terdengar dengan jernih ketika aku dalam keheningan. Nurani yang tak pernah salah membimbingku.

Kuharap satu hari nanti kau akan menemaniku menikmati keheningan. Dalam keheningan jiwaku dan jiwamu akan bersatu seperti sepasang kupu-kupu kembar yang beterbangan di kuncup mawar.

Yang sangat mengasihimu,

Aku

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s