Asmara Tak Sampai

I

Kukira kita hanya berjalan berputar-putar, ketika kupikir sudah selesai kau mulai lagi menghadirkan hal-hal mustahil di luar nalar, menambah ketebalan kekesalan yang menggaris di sela-sela hatimu dan hatiku, seharusnya hadirku untuk menambah kecupan dalam harimu yang gersang dan kering, membasahi jalanmu dalam upaya menemukan kekinianku, jalan yang kini menjadi bercabang penuh onak duri yang kau yakini sebagai langkah pasti menuju dunia khayal yang tak kumengerti, kubiarkan saja hewan pengerat itu keluar dari tubuhmu agar tak ada lagi keraguan menggunung bagai benalu tumbuh menjijikkan di batang kayu mati.

II

keraguanmu membawa igauan menyayat hati mengirimkan hawa dingin ketika memelukmu, kerinduan pada kecupan kasih yang dulu merupakan api penyemangat penyembuh duka penghancur segala syak wasangka, sekarang berupa sulur-sulur curiga dan marah, mengikatmu dalam kekeraskepalaan, tangan-tangan nasib meluputkan dari maut membawa kehidupan sekali lagi, yang mati-matian tidak kau indahkan, sungguh sia-sia

III

tubuhmu sudah tak utuh, begitu pula tubuhku, tubuhmu dihuni oleh hantu-hantu tak kasat mata hasil dari penolakan kenyataan yang membabi buta, dan tubuhku masih kujaga tetap murni meski koyak, hingga tiba saatnya nanti.

 

—Ineke H—

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s