Insomnia

I.

Malam sudah larut, dan insomnia kembali menemaniku. Tak ada yang bisa kulakukan selain memandang ke luar rumah dari jendela kamarku.

II.

Tidak hanya aku yang berteman dengan insomnia, beberapa orang juga berusaha berteman dengan insomnia sambil berjalan-jalan menunggu fajar.

III.

Orang-orang yang sama pada jam yang sama melintas di depan jendela kamarku. Kulihat setiap orang memiliki balon yang menggantung di atas kepalanya terhubung dengan seutas benang tak kasat mata dari belakang lehernya.

IV.

Seorang laki-laki tua berjalan menunduk dengan mantel hitam dan celana hitam, kedua tangannya dimasukkan ke kantong celana nya. Bahunya menekuk ke depan seakan menanggung beban berat. Di atas kepalanya, menari-nari dengan goyah sebuah balon hitam. Mungkin memang beban yang ditanggungnya sungguh berat, kebohongan yang harus diucapkan dengan berat hati, kecurangan yang harus dilakukan meski bertentangan dengan nurani. Kekayaan yang ditumpuk dari uang haram. Kekejaman yang harus dilakukan meski dengan terpaksa.  Insomnia menemani dia untuk mengumpulkan keberanian mengakhiri hidupnya.

V.

Seorang ibu muda dengan baju kaftan panjang dan celana sempit berwarna senada. mengenakan selendang untuk menutupi kepalanya mengusir hawa dingin dini hari. Sesekali tangannya mengusap kelopak matanya. Balon berwarna birutua menari-nari di atas kepalanya. Matanya nanar menatap bulan, merindukan ayah dari bayinya yang pada akhir purnama berjanji akan pulang. Harapan bersama lagi dengan suami dan bayi mungilnya, membuat dia bergitu bersemangat dan susah tidur. Harapan akan kehidupan yang lebih baik bersama menanggung suka dan duka.

VI.

Balon berwarna kuning bergoyang-goyang riang di atas kepala seorang pemulung, yang mengumpulkan rezeki dari sampah orang lain. Dia berangkat dini hari dari rumahnya, karena takut didahului oleh pemulung lain yang akhir-akhir ini semakin banyak, sedangkan sampah yang ada semakin sedikit. Meski kehidupan tidak menawarkan banyak pilihan, namun dia selalu mensyukuri apapun yang sudah dimilikinya. Rezeki ini sudah berlebih menurutnya.  Itulah sebabnya, balon di atas kepala pemulung berwarna kuning, warna ceria dan kebahagiaan.

VII.

Seorang pemuda dengan laptop di kempit di bawah lengannya, berjalan tergesa-gesa dengan ayunan balon berwarna abu-abu bergoyang tak berdaya mengejar ketergesaannya. Mengapa kau tergesa, anak muda? Belum selesaikah tugas-tugasmu? Ataukah kau sedang memburu sesuatu yang hanya diketahui oleh dirimu sendiri? Atau kau sedang bersusah hati pada kisah cintamu? Barangkali kau masih tak tahu kemanakah arah tujuan hidupmu sebenarnya, banyak keraguan  seperti yang ditunjukkan warna balonmu.

VIII.

Tiba-tiba aku melihat sesosok bayang  hitam berasap terbang hilang timbul tertiup angin, disertai bunyi seperti kuku tajam yang menggaruk papan tulis, dia membawa sebuah kampak yang terlihat mengerikan. Dengan sebuah hembusan angin, dipotongnya tali balon hitam laki-laki bermantel hitam tadi. Dan laki-laki itu tersungkur menghantam tanah, lalu terdiam.

IX.

Insomnia masih menemaniku malam ini, dan malam-malam selanjutnya. Aku bertanya-tanya dalam hati, apakah warna balonku?

 

—Ineke H—

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s