Burung Kecil yang Belajar Terbang

Saya sedang mengendarai mobil dalam perjalanan pulang ke rumah. Jalanan lengang karena belum jam pulang kantor. Matahari masih bersinar dengan teriknya. Dengan pertolongan AC di mobil, maka saya tidak merasakan panas di luar dan tetap merasa sejuk. Sambil mengemudi, saya mendengarkan lagu “Lilac wine” dari Jeff Buckley, lagu terindah sepanjang masa. Sekitar sepuluh menit lagi, saya akan sampai di rumah, kemudian bisa berganti baju sebentar, dan kembali pergi untuk minum kopi di sore hari dengan kedua sahabat saya. Perjalanan saya yang sudah dekat dengan rumah, terhenti oleh lampu lalu lintas yang menyala merah.

Sambil menunggu lampu berubah menjadi hijau, saya melihat ke atas langit yang biru dan cerah. Ada seekor induk burung yang tengah mengajarkan cara terbang pada anaknya yang masih kecil. Sesaat sang induk seperti mengempit anaknya di antara ekornya, lalu kemudian melepaskan burung kecil itu. Dengan panik, anak burung mengepak-ngepakkan sayapnya yang kecil agar bisa terbang. Nampaknya dia kehilangan keseimbangan dan dengan ngeri, saya melihatnya seperti melayang jatuh. Namun dengan sigap, sang induk segera terbang mendekat dan mengangkatnya, kemudian melepaskan anaknya kembali untuk terbang. Induk burung tidak terbang jauh, tetapi juga tidak terus menerus memegang dan mengangkat anaknya. Sang induk hanya terbang di sekitar anaknya, menjaga agar anaknya tidak sampai kehilangan keseimbangan, dan akhirnya dapat menemukan cara yang terbaik untuk dapat terbang dengan sayapnya sendiri. Tak berapa lama, lampu berubah menjadi hijau, dan saya mulai mengendarai mobil saya menuju ke rumah. Kembali saya melihat ke angkasa dan kedua ekor burung itu sudah dapat terbang bersama-sama dengan indahnya menantang langit biru.

Betapa pemandangan yang sangat menyentuh hati. Sikap protektif induk burung pada anaknya yang masih kecil, mengingatkan saya pada sikap protektif yang pasti dimiliki oleh semua ibu di seluruh dunia, termasuk saya.

Saat-saat ketika anak-anak belajar berjalan, dan terjatuh, tetapi mereka selalu berusaha melangkah lagi karena yakin ada ibu yang selalu menjaga, ada ibu yang akan selalu menangkap bila dia terjatuh. Alih-alih menangis bila terjatuh, anak-anak tertawa, dan mencoba melangkah lagi. Menikmati saat-saat pertama anak Anda dari segala sesuatu, dan selalu ada bersama anak-anak, seperti: kata-kata pertama, sekolah hari pertama, gigi pertama yang tanggal, pacar pertama, kencan pertama, kelulusan, menjadi juara lomba, kuliah, kerja pertama dan akhirnya menikah. Sebagai ibu, semua kejadian itu menjadi catatan indah di buletin hati kita. Setiap tawa, tangis, kekecewaan, kebanggaan dan kebahagiaan.

Mungkin anak burung tadi sekarang sudah semakin mahir terbang dengan sayap kecilnya, dan tibalah saatnya sang induk melepaskan dia terbang dengan pandangan bangga. Demikian halnya dengan anak-anak yang bertambah besar, saatnya Anda melepaskan mereka untuk menempuh kehidupannya sendiri dengan bangga, namun Anda tidak akan melepaskannya dari hati Anda.

Sesampainya di garasi rumah, telepon mulai berdering-dering, saya kembali teringat janji minum kopi dengan kedua sahabat saya. Masih ada waktu untuk saya berganti baju dan kemudian kembali berkendara untuk sampai ke tempat pertemuan kami. Ketika saya mengangkat telepon, ternyata bukan sahabat saya yang menelepon, melainkan putra saya, yang mengabarkan bahwa proposal proyek nya sudah diterima oleh direksi dan dia mengajak saya untuk merayakan dengan makan malam, di waktu yang berdekatan dengan acara minum kopi bersama kedua sahabat saya. Karena jarak yang berjauhan dari ke dua tempat janji temu saya, maka saya harus memilih menghadiri salah satu saja.

Saya yakin, putra saya ingin membagi momen bahagia ini bersama dengan saya, dan kehadiran saya sangat dia harapkan. Saat-saat membagi kebahagiaan dengan bundanya, karena saya sudah menjadi bagian dalam hidupnya selama ini. Saat ini juga merupakan saat yang saya tunggu-tunggu, yaitu melihat putra saya sudah menapaki kehidupan nya sendiri dan merasa bangga pada pencapaiannya. Saat saya melepaskan dia untuk mengarungi kehidupan, seperti sang induk burung melepaskan anaknya untuk terbang sendiri.

Saya segera memberi kabar pada kedua sahabat saya, saya meminta maaf tidak bisa menghadiri temu minum kopi kali ini, dan berusaha mengatur jadwal pertemuan lain waktu, karena putra saya menghendaki kehadiran saya di sisinya pada saat ini. Beruntung kedua sahabat saya mau mengerti dan kembali menjadwal ulang pertemuan kami.

Sebelum berangkat untuk makan malam, saya duduk sebentar di teras lantai dua rumah kami, dan memandang langit biru dengan sedikit awan putih di angkasa. Saya menarik nafas panjang dan tersenyum, seperti anak burung yang belajar terbang tadi, anakku mulai mengarungi kehidupannya. Dan saya selalu berharap, dia akan selalu bertindak hati-hati dan bijaksana dalam menyikapi kehidupan.

—Ineke H—

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s