Dia yang Selalu Hadir dalam Pikiranku

Waktu itu bulan Juni 1982 ketika aku melihatnya untuk pertama kali. Ia berjalan di tengah keramaian pasar malam di kota kecilku, berjalan dengan lambat mengamati lapak-lapak yang menawarkan aneka dagangan kampung khas kota kecil. Dia tinggi untuk ukuran perempuan, kulitnya putih dan matanya sipit namun bibirnya yang menjadi pusat perhatianku, bibir itu senantiasa terlihat seperti sedang tersenyum dikulum, seakan ketika dilahirkan, bibirnya sudah dalam keadaan demikian. Dia mengenakan baju putih dengan rok bunga-bunga yang serasi dipadukan dengan sandal tali berwarna coklat.

Langkah kakinya sangat ringan dan cepat. Aku bahkan tidak yakin apakah dia sedang berjalan, sedang berlari ataukah sedang melayang. Gerakannya pun terlihat sangat anggun dan luwes, meski di keramaian pasar malam, dia dengan mudahnya berjalan ke sana kemari, tanpa lupa mengamati setiap lapak untuk melihat apa saja yang ditawarkan.

Mataku terpaku padanya dan lidahku kaku. Aku menghentikan langkahku sesaat, dan mengangkat tanganku untuk melambai padanya, dan berusaha memanggilnya, namun tak sebuah suarapun keluar. Tentu saja, dia tidak menoleh, tidak menjawab panggilanku dan tidak memandangku. Aku jadi membenci diriku sendiri, yang merasa bodoh dan mati kutu di hadapannya. Aku menggigil meski malam itu udara hangat karena awal dari musim kemarau.

Malam itu aku memimpikannya. Dia berjalan menghampiriku, meski aku tak bisa mengeluarkan suara untuk memanggilnya, ternyata dia menyadari kehadiranku. Setelah berada di hadapanku, dia mengulurkan tangannya mengajak untuk berkenalan. Aku menyambut perkenalan itu dengan hati lega, dan dia menyebutkan namanya. Suaranya sungguh kecil, tak terdengar, seperti suara sebuah helaan nafas. Aku berusaha untuk mengatakan, sebutkan namamu sekali lagi, agar aku bisa mengingat namamu, namun aku terbangun dari tidurku yang gelisah, tanpa berhasil tahu namanya.

Pada bulan Agustus di tahun yang sama, aku melihatnya sekali lagi dari jendela kamarku. Dia sedang duduk di bangku taman di keteduhan pepohonan di seberang rumahku. Dia sangat tenang, duduk tanpa bergerak, wajahnya tengadah sedikit dan matanya terpejam. Dia seperti menikmati keheningan dengan dirinya sendiri. Sosoknya yang anggun, duduk dalam balutan gaun bunga-bunga berwarna hijau. Aku bisa melihatnya selamanya. Pemandangan itu sangat indah. Dan aku suka mengamati seseorang, bila orang itu tidak menyadari dia sedang diamati.

Hatiku berkata padaku, ” Dia sedang duduk di taman itu, hampirilah dia dan ajaklah dia berbicara.”

Aku menatapnya lagi dan sekali lagi terpana. Dia sungguh elok, wajahnya, tubuhnya tertata dengan sempurna satu dengan yang lain seperti sebuah puzzle yang sudah diletakkan dengan sempurna pada bagiannya masing-masing.

Kemudian, aku segera memakai pakaian terbaikku dan berjalan ke luar rumah, menuju taman dimana dia sedang duduk dengan tenangnya.

Setelah dekat, dia membuka matanya, seakan-akan merasa terganggu akan kehadiranku yang tiba-tiba. Apakah kehadiranku yang mengusik keheningannya? Ataukah tatapan menusukku yang membuatnya terbangun dari lamunannya?

Setelah berada di dekatnya, aku menyapanya,” Apa kabar?”

Dia menatapku dan matanya berkilau seakan sudah mengenalku sejak lama. Caranya memandangku, membuatku merasakan gelenyar nyaman di punggungku. Dari kedalaman matanya, aku merasakan perasaan tak asing, perasaan seperti aku sudah menemukan rumah tempat aku bisa beristirahat, perasaan seperti seorang pengelana menemukan oase di padang pasir. Aku tak bisa mengalihkan pandanganku dari matanya dan wajahnya.

Dia hanya menjawab dengan senyum di bibirnya dan di matanya,” Aku baik.”

Menatap matanya, aku seperti menatap fajar yang mengusir kegelapan dan menggantikan cahaya bintang di hatiku, menjadi cahaya mentari. Malam-malamku yang redup sudah tak ada lagi, digantikan oleh pagi yang bermandikan kilau mentari. Seorang laki-laki yang hilang, telah ditemukan dan aku telah menemukan tempatku yang baru.

Ketika dia menatap mataku, serasa terik siang menyinariku dan dia berkata,” Engkau akan menemukan yang kau cari pada diriku. Karena hanya aku yang mencintaimu. Perempuan lain, mencintaimu karena dia mencintai dirinya sendiri agar bisa dekat dengan mu. Aku mencintaimu dalam dirimu. Perempuan lain melihat dirimu yang makin memudar dengan jalannya waktu, namun aku melihat dirimu sebagaimana dirimu. Ketampananmu tidak akan memudar bagiku. Kau tetaplah dirimu dan aku mencintai yang tak terlihat yang ada di dalam dirimu.”

Seharusnya aku langsung menjawab dan menggenggam tangannya, ” Kau kekasihku, aku mencintaimu sejak pertama kali aku melihatmu.” Tapi itu tidak kulakukan. Aku hanya berdiri, menatap dia sekali lagi lalu berjalan pergi.

Dari balik punggungku kudengar dia berkata, “Larilah dan ingkari kenyataan, namun kenyataan akan terus mengejar seumur hidupmu. Aku masih akan berada di bawah pohon di taman ini. Namun karena kau terus berlari, maka kau tak kan dapat melihatku. Kau orang asing, tapi aku tak pernah merasa asing.”

Aku terus saja melangkah, tanpa menoleh lagi, dan kudengar sekali lagi suaranya, “Semua perempuan yang mencintaimu, hanya mencintai dirinya sendiri, tapi aku mencintaimu untuk dirimu.”

Lalu kudengar dia bangkit dari duduknya dan berjalan menjauh.

Aku tahu, di hari dia pergi, cahaya di dalam hatiku padam. Dan aku kembali menjadi laki-laki pecundang yang lari dari kenyataan. Aku selalu menggunakan pemahamanku yang keliru untuk menentukan langkah-langkahku. Dan akhirnya aku tersesat.

Kini, aku mengingat, sosoknya yang berjalan dengan anggun melintas di hadapanku, tanpa aku pernah tahu siapakah dia.

 

—Ineke H—

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s