Kedukaan

air mata

Kukira, kedukaan itu seperti sebuah sofa jelek yang sangat tua dan pudar warnanya. Aku bisa mendekorasi ulang sekelilingnya, aku bisa menghiasinya dengan kain rajutan warna warni di atasnya, aku bisa mendorongnya ke sudut ruangan. Namun dia keras kepala dan tetap ada di situ, karena aku tak dapat membuangnya begitu saja.

Pada akhirnya, aku harus belajar untuk hidup bersamanya.

Betapa banyak yang kuhabiskan di atas sofa itu; Kenangan-kenangan yang dirangkai bersama.

Dan aku memutuskan akan duduk meski sebentar, sebelum berjalan ke tempat lain.

“Hidup jalan terus, dan aku hanya akan terus berjalan,” bisikku.

—Ineke H—

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s