Reuni

Aku bertemu dengan teman-teman masa kecilku dalam suatu reuni dadakan. Kami semua datang melayat ke rumah salah seorang teman masa kecil kami, Eliza, yang suaminya meninggal mendadak karena kelainan pembuluh darah di kepalanya. Eliza dahulu termasuk salah satu bunga di kota kecil kami. Wajahnya cantik dibingkai rambut keriting kecil-kecil yang menambah kecantikannya. Meskipun kedukaan dan kesedihan karena kehilangan suami yang sangat dicintainya, sisa-sisa kecantikannya masih nampak di usianya yang sudah memasuki setengah abad. Eliza memiliki dua orang anak perempuan yang sudah beranjak dewasa, mereka berdua memeluk ibunya dan menangis dalam diam. Eliza menggoyang-goyang kedua putrinya seperti dalam buaian. Anak-anak yang manis. Beberapa anggota keluarga menawarkan makanan dalam piring kertas dan minuman, namun ketiga perempuan itu hanya menggeleng dengan lesu.

Para pelayat terbagi dalam kelompok-kelompok yang merupakan kelompok yang saling mengenal satu dengan yang lain. Mereka bercakap-cakap dengan suara pelan. Para perempuan ada yang menangis, sementara para laki-laki bercakap sekedar berbasa-basi sambil menyesap minuman yang ada di tangan mereka masing-masing.

Rumah Eliza dan mendiang suaminya cukup luas, sehingga bisa menampung pelayat cukup banyak.

Teman-temanku yang juga merupakan teman Eliza sudah berkumpul di taman di belakang rumah dekat kolam renang milik keluarga. Pertemuan kami yang sudah berpuluh tahun tidak bertemu, tumpah dalam pelukan, ciuman pipi dan pertanyaan tentang keluarga masing-masing. Karena kami berasal dari kota kecil dan sekolah yang sama, segera saja tahun yang telah berlalu tidak terasa lagi, seakan-akan kami hanya pergi sebentar ke warung sebelah.

Aku mengamati teman-temanku yang sudah lama tidak berjumpa dan betapa kehidupan mempengaruhi mereka dengan berbagai macam cara. Netty adalah gadis yang biasa-biasa saja ketika kami masih duduk di SD, sekarang dia sudah menjadi seorang perempuan yang sangat menjaga penampilan dengan menjadi penggila olah raga. Dia menunjukkan padaku foto-foto dirinya dalam pakaian senam yang ketat dan bersimbah peluh sehabis senam. Baginya tiada hari tanpa olah raga. Itu terlihat pada sosoknya yang sangat ringan bergerak berseliweran seperti burung gereja.

Aku melihat Katherine, sahabat lamaku. Perubahan fisiknya sangat kentara. Dia duduk di tengah-tengah teman bersoleknya sendiri. Dengan dandanan tanpa cela meski hanya untuk datang melayat. Wajahnya terlihat kaku seperti sukar tersenyum, dengan bulu mata panjang yang membuat matanya terlihat seperti mengantuk terus. Dia mendekatiku dan mencium pipiku, “Apa kabarmu?” ujarnya, mengerutkan alis yang dicabut hingga tipis. Kemudian dia mengajakku bertemu dengan teman-temannya yang lain, yang memiliki dandanan serupa dengannya. Aku bahkan tidak bisa mengingat lagi, bagaimana wajah mereka ketika masih kanak-kanak dulu. Mereka adalah temanku pada satu masa dahulu, hanya saja aku tidak bisa mengingatnya.

Angela, anak dari orang terkaya di kota kecil kami, terlihat masih tidak percaya diri seperti dahulu. Dan dia masih bergulat dengan bulimia yang dideritanya sedari dia remaja. Dia berdiri dengan lemas, bersandar di sebelah suaminya yang terlihat keren dan percaya diri. Kuperhatikan leher Angela yang seperti leher nenek tua. Aku teringat ketika dahulu sering main ke rumah keluarga Angela yang sungguh besar dan mewah. Angela sering berlama-lama di kamar mandi memuntahkan apa saja yang sudah dimakannya dan sesudahnya keluar dari kamar mandi dengan wajah merah dan senyum kemenangan.

Salah satu anak manja dari keluarga kaya di kota kami juga memelukku dengan canggung. Natasya, seingatku dia tidak pernah menyukaiku. Dan aku barangkali juga tidak pernah menyukainya. Tasya masih saja menjadi seorang pemimpi, mengatakan pada semua yang hadir, bahwa dia tengah sangat sibuk dalam kegiatan gereja, konsultan ini dan itu, memiliki beberapa rumah makan, hotel dan banyak lagi kegiatannya. Setahuku, tidak ada satupun dari perkataannya yang dapat dipercaya, karena Tasya hanya ibu rumah tangga biasa yang kerjanya sehari-hari hanya mengantar jemput sekolah anak-anaknya. Tasya diperistri oleh seorang laki-laki kaya raya namun terkenal dengan kepelitannya. Karena Tasya penuh dengan mimpi yang tidak nyata, dan hidup dalam bayang-bayang impian kesuksesan maka dia terperosok dalam dunia utang piutang, gali lubang tutup lubang, tanpa sepengetahuan suaminya. Aku kagum pada kepercayaan dirinya dan keriangan sikapnya, seperti tanpa beban. Kebiasaannya mendominasi pembicaraan dan menjadikan dirinya selalu sebagai pusat dari percakapan masih belum berubah. Meskipun tak satupun isi pembicaraannya berbobot.

Theresia, temanku yang sedari dulu pendiam, lembut dan anggun. There dari keluarga sederhana, dia dan keluarganya dahulu tinggal di gang. Sekarangpun There nampak tidak berubah, dia tetap lembut dan anggun, ketika berbicara suaranya lambat dan pelan. Dia terlihat bahagia duduk di samping suaminya yang juga nampak kalem dan sederhana. Wajahnya terlihat tidak terlalu menua, dia tetap cantik dan gayanya tetap anggun. There memelukku erat dengan cara yang menenangkan.

Tiba-tiba ada suara melengking memanggil namaku dan memelukku dari belakang. Dialah Wati, dan jelas-jelas dia baru saja melakukan operasi pada wajahnya. Di sekitar mata dan bibirnya masih ada bekas-bekas bengkak merah muda sisa operasi. Bibirnya teregang seakan selalu tersenyum. Perhiasan berlian bersinar-sinar di leher, telinga dan jarinya. Ketika dia memelukku, aku seperti diserbu oleh wewangian semerbak yang menyebabkan mataku berair. Sangat wangi. Terlalu wangi. Rambutnya dicat dengan tiga warna berbeda. Wati bermulut tajam, dangkal tapi hatinya tulus. Di masa kecilku, Watilah tempatku mencurahkan segala kesedihan dan kesusahanku, tentang perceraian orangtuaku, tentang cintaku yang tak berbalas, tentang anjing kecilku yang mati karena salah makan. Wati selalu ceria menggodaku soal anak laki-laki. Hingga kini Wati masih terlihat tulus. Kebaikan hatinya sungguh terpancar dari segala yang dilakukan dan dikatakannya.

Adapula Nani yang sekarang berhijab. Seingatku dulu Nani adalah aktivis gereja. Dia bertemu dengan suaminya, Hasan yang beragama Islam, dan Nani memutuskan untuk memeluk agama Islam dan berhijab pada usia perkawinan mereka yang ke sepuluh. Nani dulu agak tomboi, senang bermain basket dan voli. Tapi sekarang dengan hijabnya, Nani terlihat cantik dan sangat feminin. Wajahnya terlihat bersinar dan bahagia. Nani sudah menemukan kebahagiaan yang membuat hidupnya tenang dan damai.

Lilian, temanku yang dari dulu selalu menjadi juara kelas, dan sekarang sudah menjadi wanita karier sukses, menjadi pejabat tinggi di sebuah bank milik pemerintah. Lili hadir di rumah duka setelah selesai menghadiri rapat dengan beberapa pejabat penting. Dia masih mengenakan  jas kerja dan sepasang sepatu tinggi. Rambutnya disanggul tinggi dan kehadirannya mencerminkan aura pemimpin. Lilian sangat ramah dan tidak menyombongkan kesuksesan nya. Karir yang sukses mengorbankan kehidupan pribadinya. Lilian tidak menikah dan hidup hanya dengan anjingnya di rumahnya yang mewah. Dalam kehidupan memang kita akan selalu dihadapkan pada pilihan-pilihan. Lilian terlihat bahagia dan percaya diri, kukira dia menikmati pilihan yang sudah dipilihnya dengan penuh tanggung jawab.

Aku juga bertemu dengan Mega. Mega tidak menyelesaikan SMA nya karena keburu mengandung anak pertamanya dengan pacar SMA nya yang juga teman satu kelas kami. Mega sudah menikah ke tiga kalinya, dan sekarang sedang mengurus perceraian. Mega terlihat tidak bahagia dan menarik diri. “Aku masih mencari sosok laki-laki yang bisa kupercayai dan kujadikan sandaran.” ujarnya tanpa maksud ingin dikasihani. Dia hanya terlihat lelah.

Berpuluh tahun berlalu, kami yang dulu masih kecil-kecil, kini sudah dewasa dan matang karena mengarungi kehidupan. Ada yang berhasil adapula yang tidak, ada yang bahagia adapula yang masih berkubang dalam kesedihan. Ada yang sukses adapula yang masih saja bermimpi. Kami semua menyadari kehidupan mengajarkan banyak hal. Ada yang segera menyadari kesalahan dan memperbaikinya, adapula yang keras kepala tetap dalam kehidupan salah yang dia pilih, adapula yang selalu berhati-hati dalam bertindak dan berkata-kata. Kami sudah hidup selama ini dengan pilihan yang sudah kami pilih. Suka atau tidak suka harus dijalani.

Ketika saatnya berpamitan pulang pada Eliza, satu persatu kami memeluknya dengan erat, mengharapkan Eliza tetap tabah dan menawarkan dukungan setiap saat padanya.

Hidup terus berjalan, dan kami kembali kepada rutinitas kehidupan kami masing-masing.

 

—Ineke H—

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s