Pulang ke Sungai Cibiru

Tujuanku adalah sungai Cibiru di dekat kota kecil kami, sekitar 20 menit berkendara dengan mobil dari rumah kami. Sambil mengendarai mobil, aku memandang ke luar jendela samping, suasana kota perlahan mulai hilang, digantikan oleh pemandangan sawah menghijau di kanan kiri jalan. Di sebelahku, di kursi penumpang, ada guci, di dalamnya abu kekasihku, isteriku, Clara. Aku dalam perjalanan melarung abunya ke sungai Cibiru, sungai kesayangan Clara, tempat kami sering menghabiskan waktu berdua, memandang kejernihan dan ketenangan aliran airnya.

Bulan November, tujuh bulan yang lalu, aku mengantar Clara ke dokter karena mengalami sesak nafas ketika batuk. Clara sering mengalami sesak nafas bila dia terkena batuk, terlebih Clara memang memiliki riwayat alergi. Ini adalah pemeriksaan rutin biasa. Biasanya setelah diberi oksigen, kami akan pulang dan Clara kembali sehat seperti sediakala. Betul saja, Clara dinyatakan sehat dan kami boleh pulang.

Clara adalah hidupku. Kami sudah menikah selama 25 tahun. Kehidupan perkawinan kami sungguh menyenangkan, meski kami berasal dari keluarga yang sungguh berbeda. Clara keturunan Tionghoa dan aku seorang Jawa tulen. Namun, segala perbedaan yang ada, tidaklah membuat jarak di antara kami. Kami menyikapinya dengan bijak dan penuh kegembiraan. Kepribadian Clara yang serius, selalu aku imbangi dengan kebiasaanku yang senang guyon. Bahkan ketidakhadiran seorang anak di antara kami, tidak membuat kami berdua berkecil hati. Aku tidak menyalahkan Clara karena rahimnya yang bermasalah mengakibatkan tidak hadirnya junior di antara kami. Aku menyikapi keadaan ini dengan lebih mengasihi Clara dan membuat cinta di antara kami semakin kuat dari hari ke hari.

Di usianya yang menginjak 50 tahun, Clara masih tetap secantik ketika pertama kali aku melihatnya. Dia tidak makan berlebihan dan rajin menjaga kesehatan dengan berjalan kaki pagi secara teratur. Bahkan menurutku, Clara terlihat seperti berusia 30 an.

Setiap pagi dari Senin sampai Jumat, kami bersama-sama berangkat ke tempat kerja. Clara mengajar dan aku bekerja di pabrik kayu. Setiap sore, selesai mengajar, Clara akan mampir ke pabrik dan kami bersama-sama kembali ke rumah. Malam hari, Clara memasak makanan sederhana kesukaanku untuk makan malam kami. Sembari makan, kami saling bercerita tentang kejadian yang terjadi pada hari itu. Setelah selesai makan, dan membereskan meja makan, kami akan duduk di beranda rumah menanti kantuk, menyaksikan ribuan bintang yang berkelip tak kenal lelah. Clara bergelung dengan nyaman di pangkuanku, memegang tanganku erat dan sesekali mengusapkan jemarinya pada bonggol kapalan akibat pekerjaan kayu di telapak tanganku. Mensyukuri keberadaan masing-masing dan cinta yang selalu ada di antara kami.

Pada hari Sabtu atau Minggu, setelah kami mengikuti misa pagi, kami berdua menyiapkan makanan ringan dan minuman untuk berpiknik di pinggiran sungai Cibiru. Clara sangat menyukai aliran air yang tenang, menurutnya aliran air itu seperti obat penenang baginya.

Suatu malam, setelah selesai makan malam, sambil mencuci piring, kami berdiri bersisian menikmati keberadaan masing-masing. Hanya Tuhan yang tahu mengapa kami berbicara tentang hal itu, namun aku sempat mengatakan jika aku meninggal dunia, aku ingin dikremasikan. Clara, sambil mengeringkan piring-piring, mengangkat kepalanya, memandangku dengan pandangan penuh kasih, berkata,”Mungkin aku juga ingin dikremasi, tapi berjanjilah padaku, jangan kau tinggalkan aku dulu, biarlah aku yang meninggal terlebih dahulu. Aku tidak akan dapat hidup tanpamu.” Kupeluk dia, karena kulihat matanya berkaca-kaca. Bahkan hanya memikirkan perpisahan denganku saja sudah membuatnya demikian sedih.

Saat itu kematian kelihatan masih begitu lama.

“Dan kau menginginkan abunya dilarung kemana, Ara?” Aku bertanya padanya, meskipun aku sudah mengetahui jawabannya.

“Sungai Cibiru!” Clara menyahut. “Meskipun aku sudah tidak ada di dunia ini lagi bersamamu, kau akan selalu bisa merasakan kehadiranku bila setiap minggu kau berpiknik di pinggir sungai Cibiru. Sebenarnya, aku tidak pernah pergi, karena aku selalu akan ada di hatimu. ”

“Tapi apakah itu legal?” tanyanya ragu.

“Aku akan membuat menjadi legal untukmu.” janjiku yakin. Sebenarnya aku tidak tahu, apakah legal atau tidak, tapi siapa yang peduli? Bila itu keinginan Clara, maka itu yang harus kulakukan, suatu hari nanti, masih lama.

Namun siapa sangka, sebulan kemudian ada tumor yang tumbuh di paru-paru kanannya? Dan segera saja ia menjadi begitu lemah bahkan hanya untuk tersenyum. Senyum yang kurindukan setiap pagi. Clara hanya menghabiskan hari-harinya di tempat tidurnya. Kemoterapi semakin memperburuk kondisinya. Membuatnya kehilangan semangat hidup.

Dua bulan kemudian, Clara meninggal dunia.

Kupikir aku memahami kematian, yaitu sebagai bagian dari kehidupan. Tapi sekarang, menyaksikan langsung kehidupan Clara perlahan hilang bersama dengan memburuknya kesehatannya, aku hancur. Tidak peduli berapa banyak nasihat yang aku terima untuk merelakan Clara pergi, namun Claraku telah tiada dan duniaku runtuh.

Ketika Clara mulai sakit, aku hidup dalam kebingungan, tersesat, tak berpijak, sangat kesepian. Bukan kematian itu yang menakutkanku, tapi kehidupan tanpa Clara yang membuatku tidak dapat berpikir. Clara adalah pusat hidupku, bagaimana hidupku setelah ini tanpa dia? Bukan tak menghargai orang-orang lain yang mencintai aku, namun aku tak pernah bisa tahu kehidupan macam apa setelah ini.

Di dalam mobil menuju sungai Cibiru, guci yang berisi abu Clara, kubungkus dengan selendang warna biru yang kuhadiahkan padanya ketika dia berulangtahun setahun yang lalu. Air mataku tak henti mengalir sejak dari aku mengeluarkan mobilku dari garasi rumah kami.

Aku teringat perjalanan kami setiap minggu ke sungai Cibiru. Wajahnya yang berseri-seri, tawa lebarnya yang menyebabkan matanya menyipit, aku sering menggodanya dengan mengatakan,”Ketika kau tertawa matamu menyipit tertutup, lalu aku akan bersembunyi, sehingga nanti setelah kau selesai tertawa, kau tidak melihat aku lagi di hadapanmu.” Rambut pendeknya yang cepat menjadi basah karena keringat. Matanya yang tak pernah lepas memandangku. Dan kurasakan air mataku kembali menggenang. Aku terus berkonsentrasi untuk mengemudi, berusaha untuk tidak terlalu memikirkannya.

Sesampainya di parkiran kecil menuju sungai Cibiru, aku menghentikan mobilku. Sungai Cibiru hanya bisa dicapai dengan berjalan kaki yang tidak begitu jauh dari parkiran mobil. Ada jalan setapak yang panjang yang kanan kirinya ditumbuhi pepohonan. Aku berjalan sampai ke ujungnya.

Sesampainya di tepi sungai, pemandangannya sungguh mempesona, sama seperti yang sering dikagumi oleh Clara. Seperti sebuah oasis di bawah sinar matahari. Air yang biru jernih memantulkan sinar matahari membuat permukaan air seperti batu permata berkilauan. Tanaman dan rumput di sekitarnya hijau muda menyejukkan, sesemakan yang saling menjalin. Bunga-bunga liar yang terangguk-angguk terkena hembusan angin.

Aku berjalan perlahan menyentuh bunga-bunga, rumput, dan berlutut di tempat kami biasa menggelar selimut piknik. Merasakan kembali kehadiran Clara. Hening, hanya suara kicauan burung dan dengung lebah serta bunyi aliran air yang menenangkan.

Kepalaku berat memikirkan Clara. Aku melihat sosoknya yang berdiri dengan anggun tersenyum padaku. Kulitnya yang putih memantulkan sinar matahari. Melihat kembali senyumnya yang tulus, sinar matanya yang ceria. Suaranya ketika menceritakan kejadian sehari-hari, gumamannya ketika menyanyikan lagu kesayangannya, sungguh jelas terdengar di telingaku.

“Kau sangat menyukai sungai ini, sayangku,” gumamku. Aku berlutut di sini, di tempat yang menyimpan seribu kenangan, penuh dengan cerita berharga seumur hidupku.

Akhirnya aku mengeluarkan guci yang sangat berharga itu.

“Selamat datang kembali, sayangku. Aku telah berjanji untuk membawamu ke sungai ini.”

Aku merogoh ke dalam guci itu, mengambil segenggam abu dan menaburkannya ke air yang mengalir. Abu itu menebar dengan ringan, mendarat di air yang jernih dan hilang bersama alirannya. Aku memandangnya dengan kagum, betapa cepatnya abu itu menyatu dengan air sungai Cibiru, menjadi bagian dari sungai itu. Aku bisa merasakan Clara berdiri di sebelahku, menyemangatiku. “Biarkan berlalu sayangku.” Aku menyelesaikan melarung abu Clara sampai guci kosong.

“Kau berada di aliran sungai ini, sayang.” Aku berseru nyaring ke udara. Kurasakan dia berada di belakangku.

“Kematian bukan akhir segalanya sayang, karena aku akan selalu ada di hatimu, aku akan selalu ada di manapun kau berada.” suaranya terdengar sayup bersama hembusan angin.

“Selamat jalan Clara sayang, semoga perjalananmu menyenangkan, aku mencintaimu.”

Abu yang terakhir berputar sebentar di tengah pusaran air, lalu perlahan menghilang, seakan mengucapkan selamat tinggal.

 

—Ineke H—

 

 

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s