Berkawan dengan Kesepian

Kau berjalan di jalanan yang membelah kesunyian malam ditemani rintik hujan namun udara terasa panas sepanas pikiranmu yang tak mau berhenti memikirkan dia. Kau tak tahu mengapa jatuh cinta padanya dulu dan kini melukai hatimu. Kau berjalan menyusuri jalanan yang pernah kau lalui bersamanya dengan menundukkan kepala. Berjalan dengan membawa bara api dan kemarahan di dada.

Kenangan-kenangan menyakitkan mengiris keheningan malam ini. Kibasan tangan penolakan, pandangan acuh tak acuh, kata-kata halus bernada sopan penuh sindiran menyakitkan, perlakuan tak pantas atas nama cinta, tipu-tipu. Yang semuanya kauterima dengan bakti atas nama cinta. Kaukutuki kenaifanmu, cinta yang menenggelamkan akal sehat.

Sebuah bangku kayu dan guguran dedaunan, tempat ingin kaubaringkan kepenatanmu. Terganggu dan bingung. Mencoba bersandar pada satu ingatan akan dirinya yang ingin kaupercayai mencintaimu. Namun angin kencang menerbangkan dedaunan dan debu mengepul menerpa wajahmu membuatmu terbatuk. Dan ingatan itu hilang terbang bersama angin.

Kauhitung jumlah hari dan batinmu mencatat jumlah nyeri yang tak kausadari sudah berkarat di hatimu seperti paku besi di bangku-bangku taman.

Jejak penolakan yang mengukir seperti tetesan darah di batu mengental dan tak hilang berdasa waktu.

Kini kau berkawan dengan kesepianmu. Kesepian yang setia.

—Ineke H—

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s