Aku Berjalan Bersama Jiwaku

Jiwaku menegurku karena aku bermuram durja memikirkan masa lalu,”Kau tak menghargai waktu kini, ada masa lalu dan ada masa depan, lupakan masa lalu dan berjalanlah menuju masa depan.” ujarnya

Aku mencari di dalam jiwaku, ketenangan dan kedamaian yang dulu pernah kumiliki.

Mengapa aku kini hidup dalam musim dingin yang menggigilkan jiwa dan membuat jari-jariku kaku membeku? Padahal dulu hidupku selalu hanya musim panas.

Aku ragu dan tak tahu bagaimana aku harus bangkit, mencari musim panasku lagi.

Jiwaku kembali menegurku,” Maafkan masa lalumu, lihatlah pada cahaya yang sudah dibawakan untukmu. Yang lalu bukanlah cahayamu.”

Telingaku mendengar bunyi-bunyian merdu seperti bunyi denting kecapi ditingkahi puluhan bunyi lonceng-lonceng, kadang jelas kadang hanya sayup-sayup. 

Mengundangku.

Aku kembali berjalan bersama jiwaku, penjaga hatiku yang setia, dalam perjalanan menemukan kembali musim panasku dan bunyi loncengku.

“Aku memaafkanmu,” bisikku dan jiwaku mengangguk.

 

—Ineke H—

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s