Kukira

Aku memanggil namamu di kesunyian malam untuk mencari keagungan cinta yang dulu pernah kau ungkapkan padaku dan yang kukira tulus.

Aku selalu mencintaimu, namun cinta itu menyakitiku, cintaku tak berguna untukmu, kau membenciku seperti gelombang pasang yang menyapu dedaunan, ranting, bebatuan di pantai putih hatiku.

Air mataku mengalir seperti butiran-butiran embun namun tak dapat melunakkan hatimu yang tertutup tabir keegoisan karena air mataku tak pernah dapat mencapai hatimu yang kau tutup rapat dengan tirai keacuhan dan kepalsuan.

Tawa yang kau hadirkan membawa halilintar yang mengoyak pagi tenangku dan malam sunyiku, yang kukira tawa itu tulus tuk menghiburku.

Jiwa-jiwa kita yang kukira sudah menyatu kaubiarkan menjadi dingin dan tulang-tulang bergemeretak gemetar di antara jurang harapanku tersungkur di jalanan penuh lubang-lubang yang kukira jalan kita mulus saja.

Hingga prahara datang, dan kejujuran terungkap laksana api biru kesucian yang membakar dan melalap semua kebohongan dan keculasan menjadikan sebersih dan seputih awan.

Waktu akan mengubah rambutku menjadi kelabu dan kulitku menjadi keriput, hingga kukatakan padamu, “Apalagi yang diinginkan olehmu dari kehidupan, yang sudah kau kacaukan ketika kehidupan menawarkan surga untukmu?”

 

—Ineke H—

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s