Mencintai Diriku Sendiri

Aku merasa tidak  meraih impianku. Sepertinya aku hanya berjalan melalui cita-citaku. Aku seperti sedang menaiki gerbong kereta hidupku dan kereta ini tidak berhenti sama sekali di setiap perhentian cita-citaku. Dan aku hanya dapat melihat tanpa daya dari balik jendela di kursi penumpang, melihat cita-citaku ditinggalkan oleh keretaku dan aku melaju terus dalam kereta kehidupanku.Sedari kecil aku adalah tipe pekerja keras dan tipe orang yang sangat berteguh hati dalam mengejar apa yang menjadi keinginanku. Seingatku jarang sekali aku bermalas-malasan. Aku sungguh yakin akan dapat meraih mimpi dan cita-citaku.

Perjalanan hidup berkata lain dan mengarahkanku pada kehidupanku yang sekarang. Aku adalah istri dan ibu dari tiga orang anak laki-laki. Aku begitu larut dalam kehidupan sebagai isteri dan ibu, yang pada akhirnya harus kulepas cita-citaku untuk menjadi guru dan bersekolah sampai S3 dan menjadi profesor. Aku senang bersekolah dan mempelajari sesuatu. Suasana sekolah selalu menjadikanku bersemangat. Aku tertinggal untuk mendapatkan kesuksesan untuk bisa menjadi guru ataupun menjadi seorang profesor. Sedangkan usia tidak mungkin menunggu dan perlahan tapi pasti harus kulepas mimpi-mimpiku.

Ada kalanya bila tengah bersedih, sedang dikecewakan oleh kehidupan atau oleh orang-orang di sekitar, aku mulai merasa berputus asa dan menghadirkan kembali impian dan cita-citaku yang dahulu. Berandai-andai, bila saja aku dapat mencapai mimpi-mimpi itu tentunya aku tidak akan seputus asa ini dan aku akan lebih berbahagia. Ada kalanya jiwaku berbisik menghiburku agar tak lagi berputus asa. “Cintailah dirimu sendiri?”Ujar jiwaku.

“Tapi bagaimana caranya?” Ingin aku bertanya. “Apakah aku tidak mencintai diriku sendiri?” Aku sendiri tak tahu. Bagiku, mencintai diri sendiri sudah kulakukan, seperti bila aku bersedih, aku menghibur diriku dengan mengerjakan hobiku, memasak masakan favorit keluarga atau makan makanan  dan minum minuman manis. Bagiku itu sudah merupakan kebahagiaan. Namun, kesedihan dan rasa putus asa itu ibarat gelombang, ada kalanya dia surut adakalanya dia pasang dan siap menelanku. Aku sendirilah yang harus keluar dari seretan arus gelompang pasang keputusasaan dan kesedihan. Aku tidak bisa mengandalkan orang lain untuk menarikku keluar dari gelombang kesedihan dan keputusasaanku. Banyak pula nasehat yang mengatakan bahwa semuanya akan berlalu dengan jalannya waktu.

Saat kuliah, memiliki anak-anak dan membesarkan mereka, aku melalui masa-masa yang menyenangkan dan juga masa-masa yang sulit. Tapi tetap saja aku masih menyimpan keinginan untuk bisa mewujudkan cita-citaku. Suatu hari nanti, batinku. Namun perlahan-lahan aku harus mulai merelakan impianku karena waktu terus berjalan, sementara “nanti” tidak juga hadir. Seberapapun besarnya keinginanku untuk segera menuju tempat ketika aku bisa mencapai mimpi-mimpiku, aku harus mulai melepaskannya. Kusadari bahwa inilah hidup yang harus kujalani, bahwa proses mencintai diri sendiri adalah dengan mencintai kehidupanku yang sekarang.

Menjadi seorang istri dan ibu adalah juga perjuangan dan karir luar biasa. Beberapa kali aku dilanda kelelahan untuk berjuang dan ingin menyerah saja. Tapi aku tak bisa. Aku harus terus berjalan. Aku diberkahi memiliki suami dan anak-anak yang hebat. Anak-anaklah yang selalu membuatku terkagum-kagum dan tak henti bersyukur. Aku menyadari hal-hal terbaik akan datang padaku melalui perjuangan kasih untuk mereka. Aku sangat mempercayai kalimat  “Siapa yang menanam siapa yang menuai.” Bila aku menanam kasih, segala yang baik dan kepercayaan pada anak-anakku maka satu hari nanti aku akan menuai hal-hal baik pula dari mereka.

Suatu hari ketika kesedihan dan rasa putus asa akan kehidupan melandaku, putra bungsuku datang memelukku, menepuk punggungku perlahan dan berkata,” Ma, mama adalah mama terhebat di dunia.” Kubalas pelukan nya dengan erat. Ketika kutatap matanya, aku dapat melihat mata bening penuh kepolosan yang di dalam mata itu kulihat dunia luas yang masih harus anakku jelajahi. Dan aku ingin selalu menjadi bagian dari dunia penjelajahannya.

Aku percaya sekarang, bahwa mencintai diriku sendiri berarti merasa nyaman dengan keadaanku sekarang, bersyukur dengan apa yang kumiliki sekarang, melepaskan keinginan yang hanya merupakan mimpi-mimpi dan melepaskan keyakinan bahwa mimpi itu yang akan membuatku bahagia. Aku harus mencintai diriku sendiri dan pada akhirnya aku akan memiliki kebahagiaanku.

Salam… Ineke H.

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s