Menghindari Percakapan yang “Dangkal”

Pada hari minggu yang lalu, saya berkumpul dengan keluarga besar untuk perayaan ulangtahun perkawinan emas salah satu kerabat. Seperti yang biasa terjadi dalam pertemuan keluarga besar ataupun pertemuan dengan teman-teman, obrolan yang terjadi adalah dengan mulai membangga-banggakan apa yang sudah diperoleh dalam hidup, dan berapa banyak kesuksesan materi yang sudah dicapai. Pembicaraan ini biasanya didominasi oleh kelompok usia produktif. Untuk keluarga atau kerabat yang sudah sepuh, biasanya tidak lagi membicarakan hal ini.

Komunikasi seperti ini biasanya sering saya sebut dengan komunikasi “dangkal” yaitu pembicaraan yang terpusat pada mobil apa yang Anda kendarai, berapa penghasilan Anda, model apa yang sedang “in”, anak si A tengah berpacaran dengan orang yang super kaya dan lain sebagainya. Tidak ada salahnya bila kita berkomunikasi dengan percakapan yang “dangkal”, kita semua melakukannya dan kadang-kadang memang diperlukan. Namun, bila Anda terbiasa hanya melakukan pembicaraan yang demikian, maka perasaan dan cara berpikir Anda tidak akan lebih kaya dibandingkan bila Anda berbicara dengan pembicaraan yang lebih bermakna. Anda hanya akan dilanda kehampaan dan merasa kosong. Bahkan yang lebih parah, Anda akan dilanda perasaan iri atau cemburu pada keberhasilan orang lain yang lebih daripada keberhasilan yang sudah Anda raih. Bukankah di atas langit masih ada langit?  Di samping itu, akan ada perasaan kekurangan makna dan keakraban dalam percakapan Anda.

Rasanya jauh lebih menyenangkan bila pembicaraan keluar dari kedalaman hati dan percakapan yang lebih memiliki makna dan tidak menggurui tanpa menghilangkan keakraban dalam percakapan itu, dibandingkan percakapan yang hanya memiliki makna yang dangkal.

Bayangkan, jika Anda mendominasi percakapan dengan mencoba meyakinkan setiap orang, bahwa hidup Anda sempurna, dan tidak pernah mau mengakui ketaksempurnaan yang acapkali terjadi, sungguh melelahkan. Jika Anda melakukannya, maka tanpa Anda sadari Anda akan dikelilingi oleh orang-orang yang juga berusaha menunjukkan betapa sempurnanya hidup yang mereka miliki. Tidak ada tempat untuk ketidaksempurnaan.

Salah seorang kerabat, setiap kali bertemu, biasanya satu atau dua kali dalam setahun, rutinitas pertemuan kami akan selalu sama. Biasanya diawali dengan keceriaannya menyapa siapa saja, dan lalu cerita tentang kesempurnaan hidupnya. Dimulai dengan suaminya yang kaya raya dan menyayangi dia, anak-anaknya yang sempurna, dia sendiripun dalam kondisi sempurna karena sukses dalam perkerjaan dan dalam mengejar mimpi-mimpinya. Kenyataannya, kehidupan yang dia miliki tidaklah sesempurna itu, suami yang pelit dan tidak pedulian, anak-anak manja yang tidak mandiri dan mimpi-mimpinya yang tidak nyata.

Masalahnya tidak ada pencapaian apapun dalam percakapan yang demikian. Meski percakapan “dangkal” bukan sesuatu yang salah, namun alangkah lebih baiknya bila percakapan memiliki makna yang lebih dalam dan membumi seperti,” Aku memang bahagia dengan hidupku, namun aku juga memiliki masalah-masalah yang kadang membuatku putus asa.” Dengan perkataan ini, percakapan akan masuk ke permasalahan yang lebih dalam dan bermakna. Membangkitkan rasa kasih dan dukungan. Setidaknya kita akan tahu bahwa dia adalah orang yang jujur dan terbuka.

Sudah barang tentu, pembicaraan “dangkal” juga perlu dilakukan di tempat-tempat yang memang tepat untuk pembicaraan yang demikian. Seperti di tempat kerja atau dengan orang yang baru saja Anda kenal. Jadi kita harus pandai menempatkan topik pembicaraan sesuai dengan situasi dan kondisi.

Jika hidup Anda tidaklah sempurna namun Anda jujur dan bahagia dalam menyikapi hidup, maka akan mendatangkan sukacita dalam hati dan sikap Anda. Hati yang bahagia akan menulari lingkungan sekitar Anda. Sebaliknya, bila Anda bersikap palsu dan tidak berpijak pada kenyataan maka Anda tidak akan memiliki kedalaman makna dari sebuah hubungan pertemanan ataupun keluarga.

Ketika Anda bisa memperlihatkan kebahagiaan, kejujuran, bersikap nyata dan kesukacitaan dalam menghadapi hidup, Andapun akan merasa lebih nyaman dan percaya diri. Dan tentu saja, Anda akan merasakan bahwa penerimaan yang tulus akan juga diperlihatkan oleh orang-orang di sekitar Anda.

Salam…. Ineke H.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s