Aku Tak Pernah Tidur Lagi Sejak…

Aku tak pernah tidur lagi sejak kutahu, dia yang amat kucintai tega membohongiku sekian lama.

Biasanya aku tiba di rumah pukul satu tiga puluh pagi setelah bekerja sebagai pelayan di sebuah cafe. Rumahku sungguh sunyi pada dini hari itu. Hanya dengung pelan lemari es yang terdengar. Aku mandi dan mengenakan celana berbahan kaos yang nyaman dan kaos lengan panjang sebagai atasannya. Aku berbaring sebentar untuk menghilangkan kepegalan kaki yang lama berdiri dan berjalan selama bekerja. Sebelum berbaring, aku membawa secangkir teh hangat untuk menemaniku. Kepalaku berdengung dan telingaku berdenging, tanda bahwa usahaku untuk tidur hanya akan sia-sia.

Di telepon genggamku ada beberapa pesan dan chat dari teman dan keluarga yang belum sempat kubaca. Biasanya chat mengabarkan ini dan itu yang tidak memerlukan jawaban dan bisa dibaca sekitar seminggu lagi tanpa menyebabkan kerusakan apapun. Selebihnya, hari-hariku sungguh sunyi. Televisi di ujung ruang duduk, diam membisu, sudah tidak pernah dinyalakan lagi entah sejak kapan, aku lupa.

Ketika air tehku sudah tak bersisa, terpikir olehku untuk membuat satu cangkir lagi. Tapi aku enggan untuk masuk ke dapur lagi dan menyalakan teko listrik pembuat teh. Aku hanya memandang langit-langit kamarku dan tidak memikirkan apa-apa. Sejak aku mengetahui bahwa dia yang amat kucintai tega membohongiku sekian lama dan aku selalu mempercayainya seratus persen, aku memutuskan bahwa lebih baik aku tidak memikirkan hal-hal apapun lagi. Di kehidupanku sehari-hari setelahnya, aku tidak ingin berbicara dengan siapapun juga. Aku hanya merasakan lelah. Kelelahan yang membuat seluruh syaraf-syaraf di kepalaku terasa ngilu dan berdenyut. Kupandang kamarku yang kosong dan rumahku yang sunyi.

Di atas lantai tiga rumahku, di bagian atap samping, dia telah membangunkan untukku semacam tempat duduk-duduk dari semen. Dulu, tempat itu penuh dengan pot-pot bunga dari tanah liat merah yang bergantungan dengan bunga-bunga yang menyebarkan wangi di malam hari. Ada dua buah kursi malas untuk kami biasa duduk-duduk di malam hari menanti kantuk. Sebulan sekali, kami mengundang teman-teman, untuk pesta kecil-kecilan. Sekarang, tempat itulah yang  menjadi tempat yang kutuju untuk menunggu pagi setiap hari.

Tanaman-tanaman dan bunga-bunga sudah layu sejak lama, kursi malas tempat kami biasa duduk-duduk sudah patah kakinya tak terawat. Aku bukanlah perawat dan pencinta tanaman, dari dulu dialah yang melakukannya. Sekarang aku berdiri sambil memandang langit dini hari yang cerah penuh bintang. Di sekitarku sunyi senyap. Di luar sana, orang-orang tengah beristirahat atau terjaga sepertiku, bertengkar dengan kekasih atau orang lain. Kehidupan yang tidak ada hubungannya denganku. Aku merasakan tidak sendiri di atas sini dan merasakan kedamaian yang membuat air mataku menitik.

Jika aku berdiam diri, mendengarkan nafasku maka terbayanglah kehidupan malam di kotaku. Bunyi-bunyian malam terdengar perlahan sampai ke telingaku. Mesin-mesin truk besar yang mulai boleh memasuki jalan bebas hambatan pada dini hari. Pintu-pintu rumah yang ditutup dan dibuka oleh mereka yang baru saja sampai di rumah, entah dari bekerja, berpesta atau bepergian. Bunyi sirene polisi atau bunyi sirene pemadam kebakaran yang memadamkan kebakaran di suatu tempat. Bunyi langkah kaki para pemulung yang mulai berjalan untuk mengumpulkan botol plastik bekas. Suara pertengkaran yang teredam oleh tembok rumah. Suara tangisan yang teredam oleh bantal. Bunyi percakapan gembira, kesedihan ataupun kecemasan. Suara sepasang kekasih yang tengah memadu kasih. Semua bunyi-bunyian itu sampai ke telingaku namun di dalam hatiku aku tetap merasa sunyi. Aku tak pernah menjadi bagian dari semua ini, kota dan kehidupan ini tetap terasa asing bagiku.

Di sisi sebelah kanan tempat aku berdiri, ada sebuah tembok pembatas pendek, yang biasa kunaiki sambil berjalan mondar mandir dengan tangan terentang mirip pemain sirkus yang berjalan di atas tali. Aku menjadi ahli menjaga keseimbangan, satu kaki melangkah di depan kaki yang lain, meniti di sepanjang dinding rendah itu. Angin dini hari membuat bulu kudukku meremang ujung-ujung tanganku tergelitik membuat punggungku terasa dingin.

Waktu aku baru menyadari bahwa selama ini aku terus menerus dia bohongi dengan amat lihainya dan ketegaan mencengangkan, saat aku benar-benar merasa sebagai si bodoh yang luar biasa lugu, aku nekat berjalan di atas dinding pembatas itu dari ujung ke ujungnya. Ada kelegaan luar biasa ketika aku bisa mencapai ujung dinding, seperti kemenangan atas sesuatu yang tidak kukuasai. Dan aku bisa tertawa pada langit malam. “Lihat, aku bisa menantang bahaya, aku bukanlah pecundang lugu yang bodoh. Hah!”

Kegiatan ini akhirnya menjadi kebiasaanku menunggu pagi hari, kehidupan rahasiaku, langit malam, kehidupan malam, keheningan, dan keriuhan malam di sebelah kota yang tak kuketahui. Kegelapan ini menenteramkanku, menemaniku dan menyadarkanku bahwa tidak akan ada lagi yang bisa menyakitiku. Aku menjadi hilang di telan malam sekaligus juga aku menyadari keberadaanku yang masih bernafas di dunia ini. Aku melihat burung-burung malam terbang mencari mangsa, gelak tawa teredam, suara klakson mobil dan lampu lalu lintas yang berdiri mematung kesepian berkedip tanpa kenal lelah.

Kota yang tadi sepi, mulai menggeliat diisi oleh kehidupan pada pukul tiga pagi, pedagang sayur mulai menyusun dagangannya yang sudah dibeli di pasar induk pada tengah malam tadi, truk pengantar koran mulai menjatuhkan koran pagi di rumah-rumah loper koran, mobil-mobil sampah mulai keluar dari poolnya untuk memulai tugas pengambilan, ibu-ibu penjual nasi kuning dan lontong sayur mulai menata makanan yang sudah siap dimasak di atas meja di depan rumahnya menanti para pekerja pagi yang tidak sempat sarapan, pedagang roti mulai memanaskan oven untuk mulai memanggang roti pagi yang harum. Aku tahu kapan semua kegiatan itu dimulai, karena aku tak pernah tidur lagi sejak aku mengetahui dia yang amat kucintai tega membohongiku terus menerus selama aku mengenalnya.

Di suatu tempat, ada yang tidak pernah tidur juga, seperti di rumahsakit-rumahsakit. Menolong dan mengobati mereka yang sakit ataupun cedera. Para pekerja bandara dan awak pesawat yang melawan kantuk karena mendapat jadwal penerbangan malam. Aku membayangkan di atas langit gelap, aku melihat pesawat beterbangan membawa ratusan penumpang menembus malam menuju benua lain, negara lain, kota lain yang barangkali belum pernah aku datangi.

“Sekian puluh tahun, tidakkah kau merasa cukup?” aku berbisik pada kegelapan malam. Biasanya setelah itu kemarahan, kesedihan dan keputusasaan menyeruak lagi dari dalam relung hatiku yang paling dalam dan membuatku limbung dalam amarah. “Rasanya ini semua sia-sia.”ujarku sambil melangkah maju lagi.

“Kau tidak memberikan aku hidup seperti yang sudah aku berikan padamu selama ini, kau balut dengan semua kebohonganmu, hingga aku tak tahu lagi dimana kebenaran. Kau memecahkan kita sampai menjadi kepingan kecil yang tak mungkin bisa disatukan lagi.” Aku menyadari kembali menangis, padahal sudah lama aku tidak lagi menangis. Air mataku terasa dingin di pipi karena terkena angin dini hari.

Duka itu seperti gelombang, kadang dia pasang dan kadang dia surut. Bila dia tengah pasang, duka akan menyeretku sampai ke dasar samudra yang membuat dadaku panas terengah-engah mencari nafas. Dan tepat ketika aku merasa sudah kehabisan nafas, biasanya ada setitik kesadaran yang menamparku, bahwa hidupku tidak seharusnya begini. Membuatku meraih kembali sedikit kekuatan untuk kembali menjalani hariku.

Setibanya di ujung dinding, aku balik badan untuk kembali berjalan ke ujung satunya. Tiba-tiba ada seekor kupu-kupu hitam cantik hinggap di ujung jari telunjuk kananku yang terentang. Karena kaget, kakiku terpeleset dan tidak menapak ke depan kaki yang lain, dan tiba-tiba saja aku melayang ke dalam kegelapan malam merasakan hilangnya bobotku. Jantungku berdebar. Sepintas kulihat sandal rumahku yang menempel di kakiku di atas kepalaku sementara aku mendengar jeritan tertahan yang keluar dari mulutku.

Lalu. Brrrraaaaakkkkk

Kemudian hitam.

—Ineke H—

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s