Lelaki Kesayangan

Siang hari panas di Gua Maria Puh Sarang Kediri dalam naungan pohon-pohon cemara dan pinus, di sela-sela para peziarah yang mendaraskan doa Salam Maria, aku melihatnya tertunduk di perhentian patung Jalan Salib yang ke empat, Yesus bertemu dengan Ibunya. Lonceng di telingaku langsung berdenting membangunkan kenangan lama akan bunyi lonceng gereja, lagu-lagu dan lelaki kesayangan.

Di Gua Maria Sawer Rahmat Kuningan aku melihatnya lagi dan mengikuti dia diam-diam di balik punggung para peziarah yang berjalan pelan meniti anak tangga dari tanah dan batu yang tiada habisnya. Kulihat punggungnya yang terbungkuk, punggung yang dulu kuingat betapa indahnya. Ditengadahkan kepalanya dan dihirupnya wangi pohon kopi yang mengambang di udara. Kulihat wajahnya dalam kesedihan dan putus asa.

Kuamati tangannya terhenti sebentar untuk mengusap peluh dan sedikit tangis di ujung matanya. Terasing dari dirinya sendiri. Kehampaan terlukis di wajahnya yang terlihat menua.

Pada tengah malam di pelataran gereja,  akhirnya aku dapat berhadapan muka dengannya dalam keheningan yang hanya dimengerti olehku dan dia. Namun aku hanya menatap kekosongan di matanya.

Kekosongan dan lelaki kesayangan adalah waktu yang telah terbuang sia-sia.

 

—Ineke H—

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s