Keresahanku

Dalam gubuk bambu sudah tiada nafas keriaan, tak ada senandung, hanya debu menggantung di berkas sinar mentari, rumput dan bebungaan tertunduk layu menguning kering. Keheningan tersusun rapi di setiap permukaan perabot lama, menyebar sampai ke teras depan.

Tetes air hujan membasahi dengan sia-sia kekeringan dan kelusuhan di kebun sejauh mataku memandang, udara terasa pengap dan anginpun meniupkan sedikit kesegaran yang tak mampu mengalahkan panas.

Hujan hanya menyisakan genangan tanah kotor berwarna merah kecoklatan sedangkan guntur bergemuruh dalam kilatan-kilatan liar di ujung barat menyisakan cahaya terang seperti ekor burung khayali yang terbang menyongsong mentari ‘tuk mengambil sinarnya bagi kelangsungan kehidupan di esok hari.

Kemarau dan hujan bertahun lalu bagai murka Dewa. Kemarahan Bunda Alam dalam kecepatan penuh menutup bumi dalam kesedihan dan kematian.

Kehidupan yang bersisa seperti seonggok kayu dari pohon yang tumbang dimakan rayap. Menyedihkan.

—Ineke H—

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s