Satu Saat Nanti

Pada hari aneh terjadilah,

ketika langit memerah darah, angin bertiup kencang menggetarkan bahkan karang di lautan yang sungguh kokoh, hujan tercurah bagaikan tak ada habis-habisnya,

lonceng dan genta berdentang-dentang dengan nada memaksa, jiwa-jiwa resah yang datang ke gereja mendaraskan litani dan doa kepada Sang Maha Kuasa tanpa henti.

Ketika mentari akhirnya muncul, sinar dan panasnya langsung membakar tanpa ampun, membuat tubuh-tubuh menggeliat kegerahan.

Bunyi kaok gerombolan burung di udara membuat frustrasi dan bulu kudukku meremang bagai akhir dunia atau memang inilah akhir dunia.

Sedangkan kanak-kanak masih bernyanyi dan bernyanyi dengan lagu yang sama terus menerus seperti kerasukan.

Langkah-langkah bergegas tak terkejar pagi siang malam mengangkat mimpi dan harapan yang berharap nantinya akan menjadi kenyataan, namun menyadari semuanya seperti jauh tertinggal di belakang.

Sais kereta yang memecut kudanya berulangkali karena kelelahan, bunyi pecut membelah udara panas, menimbulkan rasa pedih di hatiku seperti kulitkulah yang terkena tajam tali pecut.

Kukira aku sudah menangis. 

Hanya saja kali ini sambil kulambaikan tanganku dan kuucapkan sebuah pesan,”Satu saat nanti.”

—Ineke H—

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s