Seorang Laki-Laki yang Duduk di Bangku Taman Setiap Pagi

Setiap pagi sebelum matahari terbit sempurna, aku berolah raga berjalan kaki berputar-putar di taman dekat perumahan. Biasanya kumulai jalan kaki pagiku dari gerbang taman, lalu berputar di jalan setapak untuk berlari atau berjalan. Pada pagi hari tidak terlalu banyak orang yang berolah raga, mungkin mereka sedang disibukkan oleh kesibukan pagi hari, para ibu menyiapkan suami dan anak-anak berangkat kerja dan bersekolah, sedangkan para bapak, menyiapkan diri untuk berangkat ke tempat kerja. Karena rumahku terletak di pinggiran kota Jakarta, maka persiapan untuk berangkat kerja menjadi lebih pagi. Lain halnya pada akhir pekan, taman ini penuh dengan keluarga-keluarga yang berkumpul untuk berolah raga pagi. Bercengkrama melepaskan ketegangan selama seminggu. Aku memilih untuk tidak berolah raga pada akhir pekan, karena terlalu ramai.

Aku menyukai berjalan-jalan pagi. Saat inilah saat hening untukku. Suara-suara yang terdengar hanya suara alam dan suara sepatuku yang menapak jalanan. Suara yang sungguh menenangkan. Dan udarapun masih segar belum tercemar oleh asap kendaraan. Ketika berjalan kaki, aku dapat berbicara dengan hatiku dalam perbincangan yang intim dan mendalam. Seperti tengah dalam suasana liburan batin.

Sudah berminggu-minggu ini aku memperhatikan, di salah satu tempat duduk yang disediakan di taman, ada seorang laki-laki paruh baya yang selalu duduk di kursi yang sama. Selama dia duduk, biasanya matanya terus tertuju pada pintu gerbang. Perawakannya sedang saja, dengan rambut hitam yang lebat dihiasi oleh beberapa uban, wajah yang masih menyisakan ketampanan di masa mudanya dengan sedikit keriput di ujung mata. Dia selalu duduk dalam posisi tegak, seakan-akan selalu bersiap berlari menyongsong siapapun atau apapun yang ditunggunya. Dengan rapih, tangannya diletakkan di atas pangkuan. Bahunya sedikit menekuk seakan sudah lelah menanggung kesedihan berpuluh tahun.

Aku adalah seorang pemusik, aku memainkan piano, dan aku termasuk pada golongan yang sangat mahir. Aku sudah bergabung dalam beberapa orkestra terkenal di tanah air. Dan beberapa karya musikku juga telah dinyanyikan oleh penyanyi terkenal dan menjadi lagu di tangga teratas deretan musik di tanah air. Aku sudah bermain piano sejak umurku masih lima tahun. Aku sangat menyukai musik, dan bagiku musik adalah hidupku, langkahku. Segala yang ada di dunia ini pada dasarnya berlangsung dalam irama musik tertentu. Jazz untuk irama kehidupan yang menenangkan setelah masalah terselesaikan, country untuk kecintaan pada keluarga dan alam, blues untuk kehidupan malam yang tenang, klasik untuk keanggunan dan kemegahan, pop untuk kehidupan yang lebih ringan. Meskipun aku diajar dalam musik klasik, namun aku sangat menyukai musik country. Bagiku musik country mampu menenangkan dan sungguh membumi. Begitulah aku memandang diriku.

Aku pernah mengalami masa-masa keemasan ketika aku banyak diminta untuk bermain di banyak orkestra, band dan laguku banyak dinyanyikan oleh penyanyi-penyanyi terkenal. Aku mulai merasa kejenuhan dalam bermusik ketika aku dipaksa untuk memainkan musik yang tidak kuinginkan. Dengan dalih komersil, aku terpaksa mengerjakan musik-musik yang tidak kusukai yang mereka inginkan. Ini benar-benar membuatku tertekan. Aku sampai jatuh sakit. Aku merasa terkucilkan dari musikku sendiri.

Setelah semua proyek musik itu selesai, aku segera pindah ke kota kecil tempatku berdiam sekarang. Menyendiri hanya dengan musikku. Masa yang sungguh menyenangkan karena aku dapat memainkan musik sesuai dengan keinginanku.

Semenjak tinggal di kota kecil inilah, aku menerapkan hidup sehat, dengan rajin berjalan kaki pagi hari. Ditambah dengan udara pegunungan yang segar dan bebas dari polusi, dalam waktu singkat, perasaan tertekan yang dulu melandaku perlahan menghilang. Di jalan-jalan pagi itulah aku melihat laki-laki yang selalu duduk di kursi taman yang sama setiap pagi. Dari pengalaman bermusikku dan pergaulanku dengan sesama pemusik, aku tahu kalau laki-laki itu dulunya seorang pemusik juga. Alat musik yang digunakannya adalah gitar. Dapat kulihat dari bahu kirinya yang agak dimiringkan ke bawah, kebiasaannya ketika memegang leher gitar dengan tangan kirinya yang menyebabkan kemiringan bahu kirinya. Kuku-kuku jari tangannya yang terpotong rapih dihiasi kapalan disana sini. Kepalanya yang terangguk-angguk  dalam irama yang mungkin dinyanyikan dalam hatinya. Matanyalah yang membuatku takjub, mata coklat tajam yang tertuju hanya pada pintu gerbang.

Setelah beberapa minggu, rasa penasaran mengalahkanku. Dalam putaran jalan-jalan kaki yang ke lima, aku melewatinya dan menyapanya. “Maaf, aku melihatmu duduk di sini setiap pagi.” Dia tidak memperhatikanku, namun dia malahan menyenandungkan sebuah lagu yang sepertinya pernah aku dengar dahulu kala. Suaranya sangat merdu, tarikan nafasnya terukur dengan bagus, nada-nadanya sempurna. Aku terpesona.

“Ini adalah lagu karanganku yang berjudul ‘Rahasiaku’,” katanya.

“Lagumu indah sekali,” kataku.

“Terima kasih.”

“Adakah lagu lain yang kau ciptakan?”

“Tidak ada, hanya ini lagu yang kuciptakan, untuk istriku.”

Saat kuperhatikan, matanya kembali tertuju pada pintu gerbang taman.

“Apakah dulu kau bermain gitar?” tanyaku padanya.

Sejenak matanya dialihkan padaku sebelum dialihkan ke pintu gerbang lagi, dia menjawab dengan pelan,”Ya, dulu aku bermain gitar, tapi sekarang tidak lagi. Sejak istriku pergi aku tidak bermain gitar lagi. Dan aku menunggunya disini setiap hari karena disinilah tempat kami berpisah”

Ingin kutanyakan mengapa, tapi kukira dia tidak akan menjawabnya.

“Aku mau pergi sekarang,” kataku.

“Kemana?” tanyanya sambil matanya tetap terarah ke gerbang pintu.

“Pulang,” jawabku.

“Terima kasih sudah menyapaku.”

“Berapa lama lagi kau akan duduk di sini, tidakkah kau ingin pulang juga?” tanyaku.

“Aku tak tahu.”

“Barangkali istrimu takkan pernah kembali lagi.”

“Dia pasti akan kembali. Aku sungguh yakin”

“Akankah kau bermain gitar kembali?”

Dia hanya menggeleng.

“Selama kau memiliki musik dalam hidupmu, maka musik akan berdiam selamanya di sana, dan suatu hari dia akan memaksakan dirinya untuk keluar dan membuatmu bermusik kembali.” kataku padanya.

Lalu aku bertanya padanya,” Kapan terakhir kali kau pulang ke rumah?”

“Isteriku adalah rumahku, maka aku menunggu isteriku untuk bisa pulang ke rumahku.”

Sejenak aku memandang wajahnya yang teguh dan penuh keyakinan akan harapan suatu hari nanti akan bertemu dengan isterinya. Akupun ikut memandang ke pintu gerbang, sambil berbisik,”Pulanglah.”

Lalu aku berdiri dan melanjutkan langkahku.

Keesokkan harinya aku masih melihatnya duduk di bangku taman yang sama, entah sampai kapan. Aku hanya melambai sedikit padanya ketika berjalan melewatinya. Dan laki-laki itu hanya membalas dengan anggukan kepala ringan tanpa melepaskan pandangannya dari pintu gerbang.

—Ineke H—

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s