Kelopak Kebenaran

Di gerbang harapan kukumpulkan asa dan kata. Langkah samar kenyataan mengetuk hatiku perlahan. Di antara bunyi angin yang dingin merobek hatiku dalam gigil gemetar. Bagai kebisuan masa lalu yang indah tak kau hiraukan. Hanya berupa bunyi rintihan dari nada yang sumbang menyakitkan telingaku.

Kupungut serpihan waktu dan kupersembahkan padamu layaknya kisah indah sebuah kasih yang tak ternodai oleh waktu. Meninggalkan jejak kegembiraan meski sesaat  yang lantas terhempas pada hati sombong tak terperi.

Nasib sudah menentukan takdirnya sendiri, dan kebisuan hanya mempertegas isi hati seorang yang tidak lagi memiliki hati.

Tak tahu lagi dimana kusebarkan rindu.

Hanya tersisa hati yang sungguh sedih karena tidak menjadi yang terpilih. Andai saja kau tahu kedalaman pedihku.

Di balik keangkuhan kukubur sebuah kenangan.

Bila semua yang berasal darimu hanyalah kebohongan, apakah kita juga kebohongan?

Setidaknya tolong sisakan kita, harapku.

Bersahabat dengan waktu, perlahan kelopak kebenaran menunjukkan keindahannya dengan terbitnya malam tanpa bintang.

Yang kupetik hanyalah keheningan.

 

—Ineke H—

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s