Menghadapi Kata-Kata Kasar

Ketika Anda bertemu dengan orang yang bersikap kasar atau marah-marah, reaksi pertama kita adalah defensif atau menyerang balik untuk mempertahankan ego kita. Seakan-akan dengan menyerang balik, kita akan menjadi pemenang. Kata-kata seperti,”Saya tidak terima kau perlakukan demikian”; “Beraninya kau berteriak seperti itu padaku” dan kata-kata makian balasan lainnya. Dengan meladeni orang yang berkata kasar, kita menjadikan orang yang marah ini menjadi masalah kita sendiri, menjadi bagian dari masalah dia. Padahal itu BUKAN masalah Anda. Kenapa Anda membiarkan orang lain mengendalikan emosi dan perasaan Anda? Orang yang berbicara kasar sudah berhasil menguasai Anda. Kekuatannya sebesar itu.

Kebalikan dari sikap defensif adalah ofensif. Cobalah Anda bersikap ofensif, dan Anda bisa melihat hasilnya. Sikap dan kata-kata ofensif contohnya adalah: “Sepertinya kamu lagi banyak masalah ya?”;”Apa sebenarnya yang membuat kamu gusar?”; “Hari ini sungguh indah, mengapa kamu marah-marah?” Biarkan masalah dia hanya menjadi masalah dia. Dan Anda tidak melibatkan diri ke dalam masalahnya. Dengan sedikit perubahan jawaban Anda dari kata saya menjadi kamu, maka Anda menunjukkan bahwa itu adalah masalahnya, bukan masalah saya. Itu adalah wilayahnya dan bukan wilayah saya. Saya tidak ada dalam wilayahmu. Sungguh melegakan.

Dengan kata lain, Anda tidak menjadi gusar dan menyelamatkan sisa hari Anda dengan tetap menjadi gembira, Anda juga memaksa dia yang berkata kasar untuk menjelaskan tindakannya dan kata-kata kasarnya pada Anda. Jangan ladeni dia ketika terus mencari alasan pada perbuatan atau kata-kata kasarnya karena kesalahan Anda karena Anda tidak bersalah. Sebaliknya, tanyakan apa yang salah pada dirinya dan bukan pada diri Anda. Coba lihat reaksi dia dengan sikap Anda yang demikian.

Dengan bersikap ofensif, Anda terbebas dengan masalahnya, karena memang itu masalah dia, bukan masalah Anda.

Lalu bagaimana halnya jika perilaku kasar ini berhubungan dengan orang yang mempunyai relasi permanen dengan Anda, misalnya keluarga dekat, suami atau isteri?

Setiap hubungan memiliki relasi timbal balik, yaitu bagaimana Anda memperlakukan dia dan bagaimana dia memperlakukan Anda. Reaksi dan aksi yang setiap hari yang dijalani yang akhirnya menjadi kebiasaan. Nasehat yang baik adalah, membicarakan hal ini baik-baik pada dia bahwa perilakunya tidak bisa diterima dan dia harus mengubahnya. Namun hal ini tidak lah cukup. Ada banyak hal yang mempengaruhi dia bersikap demikian, seperti latar belakang hidup, penyakit, kondisi emosional, sikap Anda padanya atau keinginan untuk menunjukkan kekuasaannya pada Anda. Anda dapat mengatakan,”Saya minta maaf.” pada setiap pertengkaran yang terjadi dan meredam tindakan kasar dan kata-kata kasar selanjutnya. Langkah selanjutnya adalah Anda merenungkan kembali apakah hubungan ini sungguh pantas untuk dilanjutkan atau tidak? Karena sebagai manusia, Anda adalah berharga. Maka dari itu jangan biarkan siapapun merendahkan Anda, meskipun dia adalah orang terdekat Anda.

Salam, Ineke H.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s