Gil

Jatuh cinta pada Gil seperti terkena virus yang mengganggu kesehatan tubuhku. Seperti virus flu yang membuat tulang-tulangku terasa ngilu, badanku panas dingin dan kepalaku sakit.

Aku bertemu dengannya pertama kali di sebuah pesta yang diselenggarakan oleh salah seorang temanku yang mengenalnya.

Aku mencintainya sejak pertama kali aku melihatnya, untuk alasan yang barangkali sangat tidak penting: senyumnya yang seperti tengah mengejek, cara bicaranya yang kental dengan logat Jawa, caranya berjalan yang seperti mengayun-ayunkan tangan dengan santai dan caranya menggenggam tanganku dengan tekanan yang kusukai. Lalu setelah mengenalnya, aku mencintai nada suaranya ketika bercakap-cakap denganku, selera humornya yang luar biasa, suaranya yang bervibrasi ketika dia menyanyikan untukku lagu kesayangan kami dan pelukannya yang nyaman menenangkan. Kemudian, aku mencintai kelemahannya dan cacat celanya, sifat-sifatnya yang selalu berlari dari kenyataan, defensif dan kesedihan serta kekecewaannya. Selama beberapa tahun yang berharga, kami berangkulan bersama dalam kegembiraan yang kukira akan berlangsung selamanya.

Tentu saja, hati kecilku senantiasa berbisik, bahwa Gil akan menyakitiku suatu hari nanti. Bahwa semua sikapnya padaku hanya pura-pura. Berulangkali hati kecilku memberi peringatan, namun aku bersikap tak peduli, karena gairah cintaku padanya seperti obat-obatan yang memabukkan dan meski aku tahu efeknya akan merusak jiwa dan ragaku, aku tak bisa berhenti. Aku seperti melemparkan diriku sendiri ke dalam kereta api yang melaju dengan cepat tanpa rem.

Dengan keyakinan yang salah, bahwa aku tidak akan bisa hidup tanpanya, aku bergantung pada Gil dengan kekuatan yang menakutkan. Aku bukanlah diriku yang sebenarnya bila tanpa dirinya maka kukatakan terus menerus kepada diriku sendiri bahwa betapa besarnya cinta kami, dan kami akan bertahan selamanya dan kami akan mengatasi segala rintangan. Aku tengah berjalan di atas bara kehancuranku sendiri, yang pada saatnya nanti akan membakarku sampai hangus. Tanpa kusadari Gil sudah menghidupkan sifat-sifat negatif yang sudah lama aku hindari dalam membina setiap hubungan yang aku tahu dengan pasti bahwa sifat-sifat negatif itu akan menghancurkan suatu hubungan. Sifat-sifat itu adalah bersikap posesif, menunjukkan drama, percaya dengan buta bahwa cinta akan menyelesaikan segalanya, tertipu dengan janji-janji manis tanpa akhir dan tanpa ada kemungkinan untuk ditepati. Aku telah menjadi buta.

Aku sebenarnya menyadari semuanya. Aku tahu ketakutanku akan kehilangan Gil lah yang membutakan hati dan pikiranku. Aku tahu di balik sikapnya yang baik hati kepadaku, sering kudapati kegelisahannya untuk tidak mau berdekatan denganku. Menjaga jarak ketika kami sedang berduaan di tempat umum. Matanya yang senantiasa menerawang seperti orang melamun. Beberapa kali, Gil seperti terkejut tanpa alasan yang jelas ketika bersamaku. Di balik sosoknya yang tenang, aku menemukan kebimbangan dan orang yang berjuang untuk menemukan keseimbangan. Beberapa kali aku juga menemukan kebohongan yang dilakukannya, yang berusaha kumaklumi atas nama cinta. Keterangannya yang berbeda-beda setiap kali aku menanyakannya. Semua keraguan dan kecurigaanku segera saja lenyap bila Gil sudah memelukku dengan erat dan meyakinkanku betapa besarnya cinta Gil padaku. Betapa bodohnya aku.

Meskipun demikian, aku tetap berpikir, bahwa apa yang kami miliki adalah indah dan kekal selamanya. Aku mempercayai dengan sepenuh hati bahwa aku akan menjadi satu-satunya tambatan hati Gil. Untuk menjadikan hubungan kami berhasil, maka kami harus saling percaya. Tapi Gil terbiasa melakukan permainan merajuk untuk mendapatkan apa yang dia inginkan, dan bila aku menuruti keinginannya maka hubungan kami akan tenang-tenang saja. Secara perlahan tapi pasti, hubungan kami mulai tegang dan tidak lagi didasarkan pada kebutuhan untuk mencintai dan menghargai satu sama lain. Hubungan kami berubah menjadi hubungan obsesif. Dan dari saat-saat itu aku mulai mempertanyakan, masihkah ada cinta di hati Gil.

Pada akhirnya perlahan-lahan air memasuki kapal yang kami kemudikan dan tenggelam, membawa aku ke dasarnya dan Gil  berenang sendiri ke tepian tanpaku.

Setelah perpisahan kami, aku tak pernah bertemu dengan Gil lagi. Beberapa kali pernah kudengar kabar tentang kehidupannya yang sudah berjalan dengan baik. Gil telah menjadi seorang pialang saham yang sukses, meski Gil belum menikah, namun dia beberapa kali memiliki pacar cantik dan seksi yang dengan bangga dipamerkannya di setiap pesta-pesta yang dihadirinya. Sementara itu, aku masih berusaha menata kembali hidupku setelah hancur berkeping-keping. Dan hasilnya masih belum terlalu baik.

Di suatu sore, ketika aku tengah menikmati kopi di salah satu gerai kopi terkenal, sambil membaca sebuah buku bagus karangan novelis kesukaanku, aku bertemu kembali dengan Gil. Aku sudah melihatnya sejak dia mulai memasuki pintu masuk gerai kopi. Wajahnya masih setampan yang kuingat. Tubuhnya sedikit agak kurus tapi terlihat sehat. Dia belum melihatku dan langsung berjalan menuju konter pemesanan memesan kopi kesukaannya pada barista. Kopi kesukaannya masih kuingat yaitu kopi hitam tanpa gula. Sambil menunggu kopinya selesai dibuat, dia memalingkan kepalanya dan melihatku seketika itu juga. Matanya sedikit membelalak ketika bertemu pandang denganku, dan perlahan senyumnya mengembang, membalas senyuman dan lambaian tanganku. Kemudian dia berjalan ke arah mejaku dengan gaya jalan yang dulu sangat kusukai. Gil menjabat tanganku dengan erat dengan tekanan yang kusukai yang membuat perutku serasa ditonjok. Lalu dia duduk di kursi di depan kursiku.

“Bagaimana kabarmu?” tanya Gil.

“Aku baik.” jawabku. “Bagaimana denganmu? Kudengar kau sudah menjadi pialang sukses. Apakah kau bahagia, Gil?”

“Aku ….” Gila tidak menjawab pertanyaanku.

Lalu kebisuan panjang terjadi di antara kami.

“Apa yang terjadi pada kita Gil? Apa yang telah kau lakukan pada ku? Dimanakah cinta selamanya milik kita?”tanyaku

“Kukira kau mengenalku dengan baik, aku tak pernah mempercayai omong kosong tentang ‘cinta dalam hidupku’ bahkan aku tak pernah percaya bahwa itu ada.”

“Bahkan ketika bersamaku dan kau mengucapkannya padaku?”

Gil tidak segera menjawab, karena barista mengantarkan kopi pesanannya, kopi hitam tanpa gula. Perlahan diminumnya kopi yang masih panas mengepul.

“Sebelum dan sesudah kau, aku tidak pernah memiliki hubungan yang sebenarnya. Hubungan itu menyenangkan, tapi aku tak pernah membiarkan diriku terhanyut. Denganmu, aku melepaskan kontrol itu dan membiarkan diriku terhanyut.” jawab Gil

Di sinilah letak perbedaan antara aku dan Gil. Bagiku cintaku pada Gil seperti udara, aku membutuhkannya untuk tetap hidup. Dan cinta itu juga membuat hidupku menjadi cerah dan indah. Bagi Gil, cinta kami hanya ilusi dan tipuan, yang bisa dimanipulasi dengan kemahirannya berkata-kata. Tidak ada apapun dalam hati Gil yang kosong.

Gil menerangkan padaku,

“Ikatan yang terjadi di antara kita, dapat dengan mudah terputus oleh suatu sebab. Dan itulah hidup. Aku tidak mengerti, mengapa kau menganggapnya demikian serius. Pada akhirnya aku akan meninggalkanmu karena suatu sebab. Aku tak pernah berpikir bahwa aku dan kau memiliki masa depan. Aku tidak bisa memberikan diriku begitu saja pada dirimu. Aku tidak ingin membangun hidupku denganmu di atas dasar perasaanku padamu, karena perasaan bisa berubah. Perasaan itu rapuh dan labil. Kau pikir perasaan kita kuat? Perasaan itu dengan gampang berubah setiap saat. Aku tak pernah bisa memahami ada cinta seumur hidup. Itu tidak ada di dunia ini.”

“Barangkali kita kurang berusaha Gil.” aku masih mencoba dengan keras kepala.

“Aku memang kurang berusaha, kuakui itu. Aku sudah menyerah tentang hubungan kita.”

Tiba-tiba sebuah kilatan petir menyambar di langit yang cerah di luar gerai kopi. Bersamaan dengan itu sebuah kilatan petir menyambar kesadaranku jauh di dalam hatiku yang selama ini tertidur.

“Yang kuinginkan hanyalah kita bisa bersama Gil, yang kuinginkan adalah hidup bersamamu. Itulah makna cinta sesungguhnya, yaitu keinginan untuk melakukan segalanya bersama-sama. Yang kuinginkan adalah membangun masa depan bersamamu, melalui semua rintangan asalkan bersamamu. Memang tidak akan mudah, namun bersamamu kuyakin kita bisa mengatasi semua kesulitan.”

“Aku tahu semua itu Aya. Tapi masalahnya sudah tidak ada masa depan lagi untuk kita di hatiku. Aku tahu kau sudah memberikan seluruh jiwa ragamu, namun aku tidak bisa. Aku masih tidak bisa. Hanya itu Aya.”

Ada nada rapuh dan terluka sekaligus sedikit kesombongan di suaranya yang dalam yang sering digunakan Gil untuk menyisakan sedikit harga diri seperti yang sering dilakukannya ketika aku menemukan Gil berbohong padaku.

Gil berdiri dari kursinya, memberikan tatapan sekilas padaku, tatapan yang kosong dan tiada kasih lagi. Lalu dia berjalan menuju pintu meninggalkanku. Sesampainya di pintu Gil berkata perlahan tanpa membalikkan badan,”Maafkan jika aku membuatmu meyakini bahwa aku mencintaimu dan ingin menghabiskan hidupku denganmu.”

Sekali lagi kulihat kilat menyambar di langit yang biru.

—Ineke H—

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s