Kisah Seorang Laki-laki yang Menanti Kematian

Selimut kegelapan malam telah menyelubungi bumi. Menciptakan bayang-bayang menjadi tak terlihat lagi. Bunyi-bunyian malam mengiringi perjalanan bulan sampai ke tengah langit. Angin dingin yang membekukan membuat setiap orang menaikkan kerah baju hangat untuk menghangatkan tengkuk. Jalan-jalan terlihat sepi. Sebuah sampah plastik terbang berputar-putar menyedihkan memberikan gambaran kesepian yang dalam.

Di ujung jalan ada sebuah gubuk tua yang seluruhnya terbuat dari jerami. Dindingnya berlubang di sana sini yang berusaha ditutupi sebisanya oleh pemiliknya namun tidak memberikan hasil yang diinginkan. Di dalam gubuk tua itu di atas dipan kayu reyot berbaringlah seorang laki-laki yang sedang sekarat. Tubuhnya kurus kering, bibirnya pecah-pecah, kehidupan perlahan tersedot keluar dari tubuhnya dan dia memakai baju usang yang sudah sobek-sobek. Namun, yang membuat takjub adalah sinar matanya yang masih tajam, menatap sinar lilin yang tadi dinyalakannya dengan susah payah.

Dulunya dia adalah laki-laki muda yang penuh dengan kehidupan, harapan dan masa depan. Dia bekerja tak kenal lelah siang dan malam, mencoba meraih mimpi-mimpi yang telah dirajut bersama dengan kekasih hatinya. Tapi kini, dia sedang menanti sang maut menjemputnya dan memberikan kebebasan dari seluruh rasa sakit duniawi yang sekarang dideritanya. Rasa syukur tergambar di wajahnya yang pucat, mulutnya sedikit berkomat-kamit berkata-kata sendiri kadang-kadang menyanyikan sebuah lagu kesayangan dari masa lalu yang pernah dinyanyikan  bersama kekasih hatinya.

Dia adalah pemuda kuat pemberani yang melihat dunia dengan segala keindahan dan selalu berpikiran positip. Dia hadir di dunia untuk mendobrak segala kemapanan dengan keyakinannya sendiri. Dia adalah laki-laki tulus yang baik hati. Awalnya dia senang menjadikan kehidupan ini sebagai panggung drama kelucuan tiada henti-hentinya yang membuatnya menjadi penghibur nomor satu di antara keluarga dan teman-temannya. Semuanya dijadikan drama dan kehebohan dengan kemampuannya untuk melihat kelucuan dari semua kejadian. Namun, perlahan tapi pasti kehidupan drama yang dilakoninya melucutinya dengan kenyataan menyakitkan, bahwa hidup bukanlah drama kelucuan tapi hidup adalah kerja keras yang serius. Kehidupan dengan senang hati menawarkan banyak pilihan, yang telah salah dipilihnya karena dia tidak pernah serius menghadapi kehidupan itu sendiri. Kehidupan memang serius tapi juga lucu, dan kehidupan memang lucu tapi harus dihadapi dengan serius juga. Bagi dia, semuanya hanya kelucuan dan ketidakseriusan. Yang pada akhirnya, perlahan-lahan menghancurkannya.

Dia sedang menghitung nafas terakhirnya dan dia sendirian. Tak ada lagi orang yang menemaninya. Bahkan kekasih hati yang dicintainya pun tak ada. Satu-satunya teman yang menemaninya adalah kenangan, mencoba mengingat kembali tindakan apa yang sudah membuatnya dikalahkan oleh kehidupan. “Bukankah kehidupan harusnya dapat kukalahkan dengan semangat mudaku?” tanyanya pada dinding kosong. Tiba-tiba sebuah suara terdengar jauh di dalam kepalanya, “Mengapa kau berubah dari seorang pemuda tulus hati menjadi seorang pembohong agar kau dapat mengalahkan dunia dan memuluskan jalanmu?”

Jauh ke belakang dia mencoba mengingat, mengapa dia mulai berbohong tentang segala sesuatu dan menutup nuraninya. Karena kemampuan dalam menampilkan drama kelucuan tidak lagi dapat menolongnya menjalani kehidupan maka dia menemukan sebuah resep baru untuk mengalahkan kehidupan yaitu dengan berbohong. Untuk menjadi seorang pembohong, dia menjadi seorang pengingat ulung, karena sekali saja dia lupa kebohongan yang lalu maka habislah sudah. Sedangkan kebohongan yang dilakukannya menjadi semakin besar dan besar tak terbendung lagi. Kehidupannya menjadi dimudahkan dengan kemampuannya berbohong yang semakin mahir. Dia mahir berbicara dan mahir meyakinkan lawan bicaranya sehingga mudah mendapatkan pekerjaan empuk dengan aliran dana yang melimpah. Jadilah dia seorang yang kaya raya namun hatinya hampa. Kekasih hati yang menemaninya sedari dia masih menjadi pemuda kampung meninggalkannya karena tidak tahan lagi pada semua kebohongannya. Orangtua dan keluarga sudah menyerah untuk menasehatinya. Perlahan-lahan keluarga, teman dan orang-orang terdekat mulai menjauhinya. Dan ketika semua kebohongannya terungkap, dia tidak memiliki siapapun lagi di kehidupan ini.

Dalam ranjang kematiannya dia berbisik,” Kemarilah kematian, jemputlah aku segera. Lepaskanlah aku dari kepalsuan dunia yang telah kuciptakan ini. Aku sudah lelah. Aku sudah kehilangan segalanya. Akibat mulutku yang tidak bisa kujaga dengan baik. Bawalah aku segera dari lubang dalam kebohongan yang sudah kubuat sendiri. Bahkan di saat sakit menderaku, tak ada seorangpun yang mau mengurusku, karena mereka pikir aku tengah berbohong dan memainkan drama lain dari drama-drama yang sudah kumainkan selama hidupku. Mereka meninggalkanku di pojok gelap tak dikenali lagi. Ambillah nyawaku sekarang ini, hai kematian, biarlah aku membaringkan keletihanku di sayapmu. Sambil kau bawa aku dalam pelukanmu, aku ingin memintakan maaf dan ampunan pada mereka yang sudah menjadi korban kebohonganku. Mudah-mudahan mereka mau memaafkanku dan memudahkan jalanku menuju kematian abadi. Bersegeralah wahai kematian.”

Lalu, tiba-tiba di samping dipan kayu laki-laki itu, berdirilah malaikat berpakaian serba putih, wajah yang sangat putih dengan tangan putih yang terulur menyentuh dahi nya seakan sedang memberi berkat. Segera saja, kamar itu berbau wangi melati dan mawar yang memabukkan, ia menundukkan tubuhnya dan diangkatnya laki-laki itu, diusapnya tangannya ke mata laki-laki itu sampai terpejam. Dikecupnya perlahan kedua mata yang terpejam itu dan ditariknya kehidupan dari tubuhnya beserta seluruh kebohongan dan rasa bersalah yang sudah menghuni tubuh laki-laki itu sekian lama, hingga tinggal sebuah senyuman lebar yang kini menghias wajah laki-laki itu. Lalu gubuk itupun menjadi kosong.

Bertahun-tahun kemudian kekasih hatinya yang masih menyimpan rindu pada laki-laki yang sudah dijemput oleh kematian datang mengunjungi lagi gubuk tempat laki-laki itu pernah tinggal. Di dalam gubuk itu, sang kekasih hati menemukan sebuah kertas usang yang sudah kekuningan, di atasnya tertulis,’Maafkan aku karena tak pernah menyadari.‘ Diambilnya kertas itu, ditempelkannya di dada sambil ditengadahkan kepalanya menatap langit-langit. Dipejamkannya matanya merasakan kehangatan menyebar di dadanya seakan ada tangan tak terlihat yang menyentuhnya. Sambil berjalan keluar gubuk, dia melihat sekali lagi pada gubuk menyedihkan tempat kekasihnya pernah tinggal, lalu dilemparkannya kertas tadi ke udara.

“Sayangku, betapa kejamnya kebohongan karena telah menghancurkan kehidupan kau dan aku,” bisik sang kekasih hati pada angin yang meniupkan dedaunan kering.

—Ineke H—

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s