Kutemani Jiwa-Jiwa yang Terlupakan

Aku berjalan di deretan batu nisan yang membisu;

Sepanjang mataku memandang hanya warna abu-abu, warna kesedihan.

Semilir tercium bau wangi kenanga.

Dadaku sesak seakan terhimpit batu tak kasat mata hingga membuatku tersengal.

Langkahku terhenti di bawah pohon cemara rindang dengan ranting-rantingnya yang menjuntai menyentuh tanah merah di bawahnya.

Terduduk dalam diam.

Memulai perbincanganku dengan si mati di dalam tanah;

Jiwa-jiwa yang mati baru saja dan jiwa-jiwa yang mati dulu sekali.

Meratapi jiwa-jiwa yang telah lenyap dari kenangan si hidup.

Jiwa-jiwa muda yang harus mati  sebelum mencicipi dunia, yang terenggutkan dari dekapan ibunya.

Jiwa-jiwa yang seorang diri ketika dia masih hidup dan tetap seorang diri setelah dia mati.

Jiwa-jiwa yang terlupakan.

Tak lagi diingat.

Seolah-olah tak pernah hidup.

Jiwa-jiwa yang hilang bersama tarikan nafas terakhir.

Biarlah kutemani kau, wahai jiwa-jiwa, hingga kau tak lagi merasa terlupakan.

 

—Ineke H—

 

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s