Percakapanku Tentang Rahasia Kebahagiaan dengan Abbas.

Aku mengunjungi sebuah gereja tua yang terletak di pinggir hutan pinus. Gereja mungil dari batu bata merah dan jendela-jendela besar. Puncak menara di atas pintu masuknya berbentuk runcing. Di pucuk runcing itu terdapat sebuah lonceng besi, yang akan dibunyikan pada jam-jam tertentu untuk mengingatkan para Pastor dan umat di sekitarnya untuk berdoa. Pintu masuknya terbuat dari kayu jati kokoh berbentuk melengkung. Jendela-jendelanya terbuat dari kaca patri yang bersahaja, tapi tidak mengurangi keindahan permainan cahaya matahari yang masuk melalui kaca patri itu ke dalam gereja bila kau sudah berada di dalamnya.

Di pintu gereja, aku mengambil air suci dan membuat tanda salib dengan khidmat. Aku berjalan perlahan memasuki gereja yang terasa dingin meski saat itu siang hari. Bau lilin yang terbakar dan bau lapuk dari kursi serta bau lumut yang menempel di dinding-dindingnya membuatku merasa nyaman.

Aku datang ke gereja itu untuk menemui Pastor kepala gereja yang seorang pertapa, karena gereja itu adalah gereja untuk pastor-pastor pertapa, yang biasa disebut Rahib. Sedangkan untuk Pastor kepala, kami memanggilnya Abbas.

Abbas memiliki postur tubuh tinggi dan kurus, seingatku sedari dulu beliau tidak pernah menjadi gemuk, beliau tetap seperti itu bertahun-tahun. Wajah Abbas bening dan bersinar, menggambarkan kepasrahan dan ke-welasasih-an. Cukup dengan memandang wajah Abbas, segala kesedihan dan kesusahanku seakan-akan langsung sirna.

Ketika akhirnya aku mendapatkan kesempatan untuk berjumpa dengan beliau, aku mencium tangannya dan berbisik,”Abbas.” Kemudian Abbas meletakkan tangannya di atas kepalaku dan memberikan berkat.

Yang ingin kutanyakan adalah apakah rahasia kebahagiaan menurut Abbas?

“Merasa cukup, penuh rasa syukur atas semua yang kita miliki, atas cinta dalam hidup kita. Dan atas segala yang Tuhan berikan pada kita.” jawab Abbas dengan suara lembut yang nyaris tak terdengar.

“Hanya itu?” tanyaku lagi.

Abbas menatap mataku dengan matanya yang sabar dan tersenyum, “Ya anakku, hanya itu.”

“Dan ingatlah selalu anakku, jangan biarkan siapapun atau apapun mengambil kebahagiaanmu dan menyakitimu, meski itu atas dasar cinta.” Abbas berkata sambil menyudahi pertemuan kami.

 

—Ineke H—

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s