Pantai Kita

Aku pergi meninggalkanmu. Menginginkan beban yang selama ini menghimpit dadaku terangkat agar aku dapat bernafas lagi dengan leluasa. Aku memilih pantai kita agar dapat kulepaskan segalanya tentangmu, persis di tempat kesayangan kita. Untuk pertama kalinya sejak kau meninggalkanku, aku meninggalkan rumah, menempuh perjalanan panjang, perjalanan ke tepi laut.

Di pantai ini, aku bisa duduk di teras rumah pantai dan membaca dengan laut di hadapanku, atau berjalan di sepanjang jalan pasir putih menuju pantai gelap, panjang dan lebar. Biasanya aku berjalan bersamamu dan tanganku dalam genggamanmu. Kini aku berjalan sendiri.

Dengan perasaan kesepian, aku berjalan terus. Aku tidak bertemu siapapun, baik orang yang pergi maupun yang pulang. Pantai ini benar-benar sepi dan tak berbatas, dengan pasir putih yang berbunyi berkerosakan setiap kali kulangkahkan kakiku. Laut menguarkan aroma pekat asin yang tajam dan bunyi monoton menenangkan ombak yang berkejaran di tepi pantai.

Lama sekali aku menatap bentangan keindahan alam dan ombak yang berkejaran. Perasaan bebas perlahan mulai merasuki hatiku. Rasa sakit yang telah kau timbulkan selama ini perlahan menemukan obatnya. Air mata tak lagi menetes setiap kali kuingat betapa teganya kau melukai hatiku dan menghancurkan hubungan kita. Aku tak tahu harus melakukan apa. Aku hanya berjalan dan membenamkan kakiku pada kesejukan air pantai ini. Merasakan sengatan matahari di wajahku yang masih belum terlalu panas. Kutengadahkan wajahku, memandang langit biru yang dihiasi awan-awan putih. Kubiarkan air naik dari pergelangan kakiku ke pahaku dan segera saja membasahi seluruh tubuhku.

Sinar matahari membakar wajahku dan kulitku. Hatikupun ikut merekah, berdarah namun kubiarkan darah itu terus keluar hingga habis, hingga dia takkan pernah berdarah lagi. Menjadi hampa dan kosong seperti gua di kaki gunung.

Berbaring di bawah sinar matahari, kusadari kerinduanku padamu pun tak kurasakan lagi. Dahulu, aku begitu ketakutan kehilangan dirimu dan ketakutan akan berakhirnya hubungan kita. Aku takut terjadi sesuatu pada dirimu, saat aku tak bersamamu. Ketakutan yang sudah lama kurasakan sejak kita bersama. Ketakutan yang tak pernah meninggalkanku, ketakutan bahwa kehidupanku akan hancur berkeping-keping bila tak bersamamu, dan kehidupanku sendiri pun akan kehilangan kepentingannya. Bagiku hidup tak lagi memiliki makna bila tanpamu, dan kematian adalah jalan terbaik untuk mengakhirinya bila aku harus hidup tanpamu. Namun, kenyataan bahwa selama ini kau tak pernah mencintaiku dan tak pernah mempedulikanku telah menyadarkanku. Membuat ketakutan-ketakutanku tak lagi memiliki arti.

Kadangkala, bila aku tengah memandang lautan, dan tidak sedang membaca buku, aku seperti menangkap bayangmu tengah berjalan-jalan di pasir putih pantai kita. Aku mengamati dengan seksama dan kau nampak berbeda dari kau yang kuingat. Kau lebih gemuk, bahagia dan terlihat sehat. Ada perubahan yang tak dapat kumengerti, yang berhubungan dengan perilaku. Lalu perlahan kau terus berjalan tanpa menatapku menuju cakrawala dan perlahan menghilang di balik bukit.

Aku teringat salah satu mimpi burukku yang kuceritakan padamu ketika kita masih bersama. Dalam mimpiku, aku dikelilingi oleh puluhan orang yang berwajah seperti dirimu, yang mengejekku dan tertawa-tawa mengacung-acungkan telunjukmu pada wajahku. Di lingkaran dirimu itu aku terduduk dalam tangis dan merengek memintamu untuk menolongku. Tapi kau tak menolongku. Dan aku terbangun bermandikan keringat dingin, namun kuingat saat itu kau menenangkanku bahwa itu cuma mimpi yang tak akan terjadi dalam kehidupan nyata, yaitu kehidupan kau dan aku waktu itu. Tak kusadari, bahwa mimpi itu adalah salah satu pertanda yang dikirimkan untuk menyadarkanku.

Beribu mengapa yang senantiasa menghantuiku sejakĀ dirimu meninggalkanku, tak lagi kuperlukan jawaban, karena segera setelah semuanya terungkap, semua jawaban keluar dengan sendirinya, seperti keping puzzle yang menemukan tempatnya dengan tepat. Betapa cinta telah membutakan mata hatiku. Sedangkan mata hatiku sudah berteriak-teriak memperingatkan, aku terus saja keras kepala mengacuhkannya.

Bersamaan dengan hilangnya bayangmu di balik cakrawala akupun memutuskan untuk menghilangkan segalanya tentangmu. Dan pantai kita menjadi saksi keteguhan hatiku. Perjalananku masih panjang. Tapi ketika keteguhan hati sudah menjadi awal, maka aku akan kuat menjalaninya.

 

—Ineke H—

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s