Dear Kedukaan

Dear kedukaan,

Sudah genap sepuluh tahun kau mendiami hatiku dan menemani hari-hariku. Yaitu hari ketika aku harus kehilangan putra kesayanganku. Duniaku runtuh dan hancur. Kukira, dari hari ke hari yang berlalu, kau akan semakin hilang dari dalam hatiku. Namun perkiraanku salah, rupanya kau masih betah bersemayam di hatiku.

Waktu berlalu bagaikan angin yang bertiup di kegelapan malam. Aku tak mampu berontak dari kesunyian dan darimu. Kata orang, air mata adalah jendela hati  karena air mata terbit dari kerendahan hati dan kedalaman nurani. Air mata dapat membasuh wajahku dan membuatnya menjadi berseri. Tapi mengapa kau begitu berat kutanggung. Permintaanku sederhana saja padamu, yaitu aku ingin dapat menyebutkan nama anakku tanpa menangis. Sungguh sulit dan tidak menjadi semakin mudah.

Kedukaan, kau seperti gelompang laut, kadang kau surut dan aku dapat sedikit tersenyum gembira, kadang kau dalam gelombang pasang yang siap menelanku ke dasar laut kedukaan yang gelap gulita. Perjalanan kedukaan ini kujalani sendiri dan perjalanan ini adalah perjalanan yang panjang. Karena sudah barang tentu, tidak ada orang yang senang menemaniku dalam kedukaan. Perlahan-lahan teman-temanku mulai menghilang satu demi satu, sampai akhirnya temanku yang tersisa adalah diriku sendiri dan kau.

Kedukaan karena kehilangan seorang anak, hanya dapat dirasakan dan dipahami oleh seorang ibu, karena selama sembilan bulan kami bernafas dalam satu nafas. Dalam keadaan yang sangat berat, ketika aku begitu merindukannya, aku berusaha mengingat potongan-potongan kenangan yang masih kuingat. Yang sangat kutakutkan adalah aku akan melupakan kenangan-kenangan itu bersama dengan berlalunya waktu. Karenanya kupegang dengan erat kenangan-kenangan itu seperti nyawaku sendiri.

Sejak anak-anak masih kecil, aku memiliki harapan yang sederhana saja untuk mereka yaitu mereka dapat menyelesaikan SMU, masuk ke perguruan tinggi dan berkeluarga. Aku tidak bermimpi muluk-muluk bahwa satu di antara mereka akan menjadi presiden, astronot atau bahkan pengganti Einstein. Kadang-kadang aku suka bertanya-tanya sendiri, apabila anakku bisa beranjak dewasa dan menikah, akan seperti apakah wajahnya? Cantikkah istrinya? Karir apa yang akan dia pilih? Aku  tidak akan pernah melihatnya menjadi dewasa, dan berjuta andai lain jika maut tidak menyapanya. Kehilangan buah hati untuk selamanya adalah ketakutan terbesar dari orang tua. Merelakan kepergian anakku dan melepaskan impian dari anakku menjadi satu pengalaman paling menyakitkan yang pernah aku pikul.

Yang kumiliki sekarang hanyalah kepingan-kepingan kenangan yang sangat  berharga. Kini, setiap mimpi tentangnya, merupakan sesuatu yang sangat bernilai dan dinanti-nantikan. Setiap tanda-tanda, sekecil apapun sering aku artikan sebagai kehadirannya di tengah-tengah kami. Aku sudah berhenti berpura-pura menjadi seorang mama yang tabah, karena memang aku tidak tabah.

Terkadang ada saat-saat aku dapat berpikir optimis, dan bisa gembira serta berpikir bahwa segalanya akan baik-baik saja, namun secepat pikiran itu datang, seketika itu pula kenangan akan sesuatu atau pikiran akan sesuatu yang mengingatkanku padanya, dengan segera menghilangkan perasaan optimis itu. Perjalanan ini sungguh melelahkan. Bahkan di tengah canda tawa, selalu ada perasaan kehilangan. Perasaan itu menyelinap diam-diam dan enggan pergi lagi. Perasaan itu menetap dan tinggal bersamamu dalam hatiku.

Tahukah kau, wahai kedukaan, aku mencintai anak-anakku sepenuh diriku, karena pada merekalah aku melihat harapan dan makna dari sebuah kehidupan? Mengandung, melahirkan dan membesarkan mereka adalah pengalaman terindah yang tidak mungkin dapat digantikan dengan apapun. Kenyataan bahwa aku tak dapat lagi mendengar suaranya, memeluk dan menciumnya sungguh menghancurkan hatiku.

Ketika malam datang, aku bersyukur satu hari sudah dapat  kulalui, tapi keraguan akan hari esok menggantung di benakku. Dan ketika kokok ayam terdengar di pagi hari, aku terus berharap bisa melalui satu hari lagi. Dalam perjalanan ini, aku bertemu dengan teman-teman baru, ada yang membangkitkan semangat dan memberikan penghiburan bagiku, adapula yang tanpa mereka sadari, perkataannya justru menyebabkanku makin sedih. Adapula teman yang mengambil keuntungan untuk dirinya sendiri dalam kesedihanku. Semuanya merupakan pengalaman berharga buatku. Aku tahu, kelak, aku akan dapat mengenang anakku dan menyebut namanya dengan tidak menangis , tapi perjalanan menuju ke sanalah yang sulit.

Ada seorang teman yang bertanya kepadaku, “Setelah semua bisa teratasi akankah kau kembali sebagai dirimu?”

“Aku pulang melalui pintu yang berbeda dari ketika aku pergi,” jawabku.

Wahai kedukaan, ingin kumintakan padamu, aku tak berkeberatan kau bersemayam dalam hatiku selamanya, tapi bolehkah kuminta sedikit kebahagiaan, yang bersedia menemaniku hingga aku dapat melihat dunia berwarna lagi?

 

Salamku untukmu,

 

Ineke H

Advertisements

2 thoughts on “Dear Kedukaan

  1. Sabar ya bu Ine,
    memang saya tidak dapat merasakan yang ibu rasakan dan cuman bisa bilang sabar.
    Mungkin sekarang ibu cuman bisa mendoakan, toh dia juga sudah berada di tempat yg lebih indah dari dunia kita bukan?
    Dan jangan lupa banyak bersyukur dan bahagia. Mungkin anak ibu juga sedih kalau tau ibu terus terpuruk. Dia pasti juga pengen ibu bahagia 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s