Sosokmu Dalam Rumah Kita

Aku menatap kosong pada jendela kamar  yang terbuka di hadapanku. Pemandangan yang terlihat siang ini sungguh menyejukkan. Jendela yang mengarah ke taman di depan rumahku. Aku sendiri yang menata taman itu. Bunga melati bersanding dengan pohon kenanga yang rajin berbunga. Ada 2 pohon palem botol yang berbatang gemuk seperti sepasang penjaga yang menjaga di sisi kanan dan kiri taman. Pohon okra yang menunduk seakan terlalu berat menahan okra-okra yang menggelayut rimbun di batangnya yang mungil. Irish Lily yang hijau berbaris rapih mengelilingi kolam teratai kecil. Mereka tumbuh subur tak kenal musim. Kupu-kupu kecil berkejaran di antara bunga dan rumput. Indah. Namun mengapa aku tak dapat menikmati keindahan di hadapanku dan pikiranku tetap kosong.

Selama beberapa bulan ini tangisan sudah menjadi temanku, baik di tengah malam maupun di siang hari seperti ini. Pada malam hari ketika tangisan sudah mulai menyesakkan dadaku dan membuatku tetap terjaga hingga dini hari, maka aku tak punya pilihan lain selain mengambil dua butir berwarna putih yang telah menjadi penolong yang sangat bisa diandalkan untuk mengistirahatkan kepalaku yang berdengung dan telingaku yang berdenging. Seperti ada puluhan kumbang bersarang di dalamnya.

“Aku bisa bertahan, aku akan bertahan sampai akhir. Aku kuat,” begitu kuucapkan berulang-ulang pada diriku sendiri.

Biasanya pikiran kosong yang melandaku akan  disertai keringat dingin yang membasahi punggungku menimbulkan perasaan dingin yang menggigilkan tulang. Lalu mulailah kilasan-kilasan kenangan bermunculan membuatku kembali meneteskan air mata. Kilasan-kilasan itu tak mampu teredam meski aku menekan bantal ke dadaku dengan tekanan yang keras. Membuatku dadaku sakit dan nafasku sesak.

“Lupakan aku, jalani hidupmu sendiri,” terngiang kembali kata-katamu yang kau ucapkan tanpa kasih dengan tatapan dingin dan berjarak.

Bagaimana mungkin aku dapat melupakanmu dan menjalani hidupku sendiri? Suaramu masih saja sering kudengar di rumah ini. Rumah yang kita bangun bersama atas nama cinta. Dan kita namakan ‘Rumah Cinta Kita’. Bahkan sosokmu masih saja sering kulihat di meja makan, di ruang baca, di teras dan di kamar kita. Akhir-akhir ini sosokmu terlihat amat sombong dan tidak ramah, berjalan menjauhiku sementara aku terus mengejarmu.

“Rumah ini sudah dihantui oleh dirimu.” bisikku ketakutan.

Setiap pagi dalam perjalanan ke kantorku, aku selalu melewati sebuah kafe. Selalu kulihat sepasang kekasih yang selalu duduk di kursi yang sama. Mungkin mereka bertemu dulu, saling berkabar dan bersentuhan sebelum berangkat kerja, batinku, setiap kali melirik mereka. Berulang kali laki-laki itu mengelus wajah kekasihnya dengan tatapan lembut yang memiliki. Mereka mengobrol dan saling tertawa. Tawa perempuan itu tergelak memperlihatkan deretan giginya yang rapih, ada satu gigi depannya yang lebih menjorok ke dalam, tapi gigi-gigi itu sangat putih. Mereka berdua bahagia. Tubuh laki-laki itu agak condong ke depan dengan sikap memiliki, seperti ingin menatap wajah kekasihnya dan menyimpannya dalam kenangan untuk hari itu, agar dapat diingatnya ketika dia tengah bekerja. Bibirnya terlihat tersenyum dikulum, dalam gerakan akrab yang hanya dapat dimengerti oleh mereka berdua.

Tiba-tiba saja hari ini aku ingin muntah melihat gerakan tubuh laki-laki itu, gerakan sama seperti gerakan yang pernah aku kenal dan miliki dari seorang yang pernah aku cintai setengah mati. Gerakan suamiku ketika berbicara denganku, sangat mirip dengan gerakan laki-laki di kafe itu kepada kekasihnya. Barangkali aku hanya sedang sangat merindukan suamiku, mantan suamiku tepatnya.

Dulu, aku memiliki segalanya. Keluarga kecil yang sempurna, meski kehadiran anak belum melengkapi keluarga kecil kami. Kebahagiaan kami perlahan pudar setelah kuketahui suamiku tidak lagi mencintaiku dan hatinya tidak lagi hadir di ‘Rumah Cinta Kita’. Dan kemudian dia pergi, meninggalkan semua kebohongan yang dulu kuyakini sebagai kebenaran yang romantis. Kesempurnaan yang kukira takkan pernah berubah menjadi ketidaksempurnaan. Ternyata di dunia ini tidak ada yang sempurna. Tiba-tiba, ‘Kaulah segalanya’ menjadi sesuatu yang tak lagi memiliki arti ketika diucapkan.

Aku kira hidupku sempurna, karena aku mencintai dan menikahi dia yang sudah kucintai sejak aku remaja. Aku berusaha membangun kebahagiaan selama berpuluh tahun, tanpa menyadari sedikitpun, bahwa hatinya tidak pernah untukku. Aku telah dibutakan oleh sikapnya yang amat manis.

Di awal-awal perceraianku, aku masih sering berharap, dia akan memperjuangkanku. Tapi harapanku tak pernah menjadi kenyataan. Nyatanya dia tidak memperjuangkanku dan malahan memperjuangkan perempuan lain. Dan aku menertawakan kelemahanku. Menangisi benih kebencian yang tumbuh di dalam hatiku pada orang yang dulu pernah sangat kucintai.

Aku tak pernah jalan melewati kafe itu lagi ketika berangkat bekerja, karena aku tak menginginkan lagi iri hati menggigit hatiku memandang sepasang kekasih yang saling mencintai itu dan menyebabkan hariku berubah menjadi kelabu sepanjang hari. Aku hanya sedang menjalani hariku seperti kata-katamu yang terakhir, ‘Lupakan aku dan jalani harimu.’

Malam ini, aku kembali tidak dapat langsung tertidur. Berulang kali aku mengganti posisi tidurku agar aku dapat segera beralih ke alam mimpi. Kegelisahan terus menggangguku, ada tangisan yang memaksa ingin keluar dari hatiku yang kutahan sekuat tenaga. Tiba-tiba, kurasakan hawa dingin mengelus tengkukku, membuatku merinding. Kutarik selimutku dan menutup seluruh tubuhku. Aku menggigil meski pendingin ruangan sudah kumatikan. Jantungku berdentam-dentam dengan kencang, hingga dapat kudengar detaknya di telingaku.

Bersamaan dengan itu kulihat sosokmu kembali hadir, duduk di sisi ranjangku, tetap dengan tatapan dingin dan bibir seperti mengejek. Kau tidak mengucapkan sepatah katapun. Kulihat wajahmu tetap setampan yang kuingat. Membuat kerinduan yang sudah kusimpan dengan baik sejak perpisahan kita, kembali hadir di hatiku seperti boomerang yang menghantam balik. Kau ulurkan tanganmu seperti meminta, lalu segera menghilang secepat kedatangannya. Sosok itu menghilang seperti asap terkena angin.

Aku terduduk di ranjangku, terjaga sepenuhnya. Timbul pertanyaan dalam hatiku, haruskah aku kembali mengharapkanmu? Atau jalani saja hidupku tanpamu?

TAMAT

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s