Ara

Hari terus berganti, Ara.

Dan akan terus berganti meski kau tak pernah hadir.

Waktu bagimu adalah putaran kenangan yang diceritakan berulang kali dengan penuh sayang. Dalam dekapan dan pelukan kekasih.

Ketika mimpi-mimpi terajut dalam mantra keajaiban bernama cinta. Mantra yang tak pernah selesai, terus berputar dalam tarian yang hanya ditarikan oleh seorang penari. Meski lelah, mulutnya terus menggumamkan ayat-ayat dan kakinya terus bergerak.

Tak terlihat niat yang tak baik pada awalnya, semua terlihat terang. Membawakan bunga mawar dan melati dalam bejana kristal. Padahal suara hati telah memberi tanda nyala mati, silih berganti. Tak terbaca.

Ketika telah sampai di akhir perjalanan, terungkaplah yang seharusnya sudah terungkap dari dulu. Yang berusaha ditutupi sekuat tenaga.

Dari dasar gelap terlihat cahaya kebenaran. Yang tak dapat ditampiknya.

Ara, harusnya kau tetap ada, karena kaulah lambang cinta.

Kaki sang penari sudah terlalu letih seperti membeku bahkan hanya untuk satu putaran tarian lagi.

Mantra yang tak utuh terucap bagai lagu yang terhenti.

Tak pernah selesai.

 

—Ineke H—

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s