Akulah Pemain

 

Perkenalkan, aku adalah seorang pemain.

Kurebut hati para perempuan dengan kemahiranku berkata-kata dan  guyonanku yang ngawur dan konyol. Padahal otakku kosong. Siapa pula yang akan peduli bahwa aku bodoh, bila kemampuan berkata-kataku sangat mahir?

Aku pandai berpura-pura dan membuat cerita hebat tentang diriku. Hingga para perempuan mengagumiku dan terpesona oleh kehebatanku yang sama sekali tidak hebat.

Kadangkala kukarang cerita tentang betapa menderitanya hidupku, kesakitanku, kesedihanku, kegagalanku dan betapa banyak orang-orang yang menyebabkanku gagal. Para perempuan akan mengasihaniku, mengasihiku dengan tulus sepenuh hati mereka. Mereka perlakukanku dengan kasih tanpa batas. Padahal aku sama sekali tak menderita.

Sudah banyak perempuan-perempuan yang menjadi korbanku. Yang percaya dengan cinta butaku yang palsu.

“Masihkah ada perempuan yang percaya akan cinta sejati? Bagiku cinta sejati itu omong kosong terbesar di dunia.” seruku terkekeh.

Dengan pesonaku yang luar biasa, akan kutemukan seorang perempuan dan kupegang tangannya erat dengan tangan kananku sementara tangan kiriku masih memegang erat wajah perempuan lain. Patutkah aku berbuat begitu? Bagiku patut, karena aku adalah pemain. Lalu dengan mudahnya kutuduhkan pada perempuan di kanan dan kiriku, bahwa merekalah yang menggenggamku di tangan yang satu dan menggenggam pria lain di tangan yang lain. Dan mereka akan menangis tersedu-sedu mengharapkan cintaku. Akupun tertawa terbahak-bahak menertawakan keluguan para perempuan yang kasihan ini.

“Aneh, katamu?” aku bertanya. “Tentu tidak.”

Aku sudah ada di sini sejak dulu, sekarang masih disini dan aku masih tak ingin pergi dari sini. Sebab tiada akhir dari keberadaanku selama masih ada hati perempuan yang dapat kupermainkan.

Aku melayang-layang di langit mencari mangsa. Aku kelaparan dan tak pernah dapat dipuaskan.

Pikiranku penuh karena sibuk menyusun strategi tapi hatiku kosong karena tak ada seorangpun yang memiliki hatiku, dan akupun tak memiliki hati siapapun.

Tubuhku menua dengan cepat karena kelelahan tapi jiwaku masih muda karena masih sangat berhasrat untuk mengejar mangsa-mangsaku berikutnya.

“Pedulikah aku pada kesakitan mereka yang disebabkan oleh ku?” tanyamu. “Tentu saja tidak.” jawabku tersenyum mengejek seperti kebiasaanku.

Hatiku telah membatu.

Dan aku sudah ada sejak dahulu, aku akan tetap ada disini dan masih akan disini nanti, karena aku tak berniat pergi kemanapun. Ingat, aku adalah pemain.

 

—Ineke H—

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s