Sang Malaikat Maut

 

Bulan sudah tepat di atas langit, kabut perlahan turun memeluk bumi menghadirkan udara dingin. Sepasang sayap hitam Malaikat Maut melayang pelan ke bumi, wajah nya sebagian tak nampak karena tertutup selendang hitam yang melambai pelan mengikuti gerakan sayapnya. Perlahan-lahan dia melayang di atas rumah-rumah yang penghuninya tengah tertidur lelap. Membaca mimpi setiap orang di rumah yang dilewatinya. Kadangkala dihembuskannya nafas ketakutan dan keputusasaan ke dalam mimpi mereka yang tengah tertidur pulas, membuat mereka terisak dalam tidurnya atau berpeluh dingin hingga terbangun mendadak ketakutan.

Kota menjadi bertambah gelap ketika sang Malaikat Maut melewati jalan-jalan. Lampu-lampu seakan tak mampu menembus kegelapan, sinarnya meredup bagai lentera yang sudah kehabisan minyak.

Sampailah dia di sebuah rumah seorang perempuan yang sudah menginginkan kematian sejak putra terkasihnya meninggal dunia. Putra yang dikasihinya meninggal dunia mendadak karena sakit. Dia sudah mencoba dua kali mengakhiri hidupnya, tapi selalu saja gagal. Dan dia masih sedang mengusahakan yang ketiga kalinya.

Sang Malaikat Maut masuk melewati jendela yang terbuka, karena perempuan itu tidak menyukai jendela yang tertutup ketika dia tidur. Dia berkeyakinan bahwa dengan membuka jendela, arwah anaknya dapat sesekali menengoknya di malam hari.

Wajah sang Malaikat Maut menjadi sedih ketika melihat di pipi perempuan itu masih menyisakan aliran air mata sebelum dia jatuh tertidur. Disentuhnya tangan perempuan itu dengan lembut. Perlahan mata perempuan itu terbuka dan menatap langsung ke mata sang malaikat maut.

Perempuan itu mengira sang Malaikat Maut adalah mimpi buruknya. Dia mengerjap-ngerjapkan matanya agar dapat memusatkan pandangan. Setelah dia sadar bila ini bukanlah mimpi, dia bertanya kepada Malaikat Maut,” Apakah engkau Malaikat Maut yang ingin menjemputku untuk bersatu dengan putraku?”

Sang Malaikat Maut menjawab,” Akulah penjemput maut. Aku akan mengecup dahi mereka yang sudah tiba saatnya meninggal, karena kehendak Tuhan, sang Maha Kuasa. Bukan karena keinginan nya sendiri. Berdirilah anakku, mari kita duduk bersama.”

Perempuan itu bangkit dari ranjangnya dan duduk di hadapan Malaikat Maut lalu bertanya, “Hatiku demikian sedih, dan kesedihan ini tidak juga berkurang dari hari ke hari, apa yang harus kulakukan? Inilah aku, ciumlah aku. Aku sudah berharap agar maut segera menjemputku. Dan kau akan menjawab harapanku. Aku sudah lelah menangis dan bersedih. Antarkanlah aku kepada-Nya, agar aku dapat segera berkumpul lagi dengan anakku.”

“Aku telah memohon berkali-kali, namun engkau tak bersegera datang. Aku mencarimu kemana-mana, tapi engkau bersembunyi. Aku mempercepat kematianku, tapi kematian seakan mengkhianatiku. Sekarang engkau ada di sisiku, mari kecuplah dahiku.”

Dahi sang Malaikat Maut berkerut dalam, tanda dia sedang berpikir keras. Lalu tiba-tiba wajahnya melembut dan berkata,” Anakku, mengapa engkau mengambil hidupmu dengan tanganmu sendiri? Aku tahu kesedihanmu yang luar biasa. Dan kau berharap kematian sebagai jalan keluar dari kesedihanmu. Tapi tidakkah engkau dapat melihat, bahwa bila kematian masih belum menjemputmu, maka artinya tugasmu di dunia ini belumlah selesai?”

“Lihatlah di sekitarmu, masih banyak orang yang mengharapkan kehadiranmu bagi mereka. Orang-orang yang akan kehilangan cahaya hidupnya bila saja kau sudah tak ada lagi di dunia ini. Mereka mengasihimu dan mencintaimu. Kehadiranmu bagi mereka bagaikan sebuah jalan keluar, ide-ide, perhatian, cinta dan penyelamat. Tanpamu mereka akan kehilangan arah dan pijakan.”

“Janganlah bersedih, Anakku. Saat yang tepat akan tiba, ketika aku memang harus mencium keningmu. Tapi belum saat ini.”

“Nikmati saja hari-harimu bersama dengan orang-orang tersayang, lupakan mereka yang sudah menyakiti hatimu dengan sengaja atau tidak sengaja. Bergembiralah, karena kau berhak untuk bahagia. Hidup baik sajalah. Cintai semua yang mencintaimu.”

“Sekali lagi, bergembiralah anakku.”

Sang Malaikat Maut perlahan berdiri, lalu memegang wajah perempuan itu dengan kedua tangannya. Diusapnya pipi perempuan itu dengan ibu jari nya. “Saatnya nanti akan tiba, Anakku, tapi bukan sekarang. Sekarang hidup sajalah.”

Perlahan sang Malaikat Maut berjalan ke jendela, lalu mengembangkan sayapnya dan menengok ke belakang sekali lagi sambil tersenyum dan mengangguk.

 

—Ineke H—

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s