Percakapan Dengan Anakku

Percakapan dengan anakku tentang orang yang banyak bicara:

“Ma, apa salahnya dengan orang yang banyak bicara?”

” Dia yang banyak bicara, menjadi tidak bisa mengontrol kata-kata yang keluar dari mulutnya. Semua hal dikomentarinya, entah itu benar atau salah. Masalah-masalah kecil menjadi besar karena dibuat menjadi besar oleh kata-katanya. Nuraninya menjadi bisu karena tidak pernah diijinkan untuk berbicara. Kata-kata yang dikeluarkannya kosong karena tidak berisi nurani.”

“Sedangkan dia yang sedikit bicara, akan memiliki kesempatan untuk berpikir dengan baik dan memutuskan kapan saat yang tepat untuk berbicara menggunakan kata-kata yang tepat pula. Dia tidak akan berkata-kata bila tak ada kalimat baik yang akan dikatakan.”

“Dia yang senantiasa dalam keheningan dan jarang berkata-kata adalah dia yang memiliki kekayaan batin yang luar biasa, karena dia senantiasa bercakap-cakap dengan dirinya sendiri dan dengan alam semesta. Kata-katanya senantiasa bening karena tercermin dari kebeningan hatinya. Dia tak pernah bersyak wasangka pada apapun dan tak pernah memberikan label negatif pada apapun. Nuraninya berbicara mendahului bibirnya. ”

“Anakku belajarlah untuk tak mudah berkata-kata, karena kata-kata yang sudah dikeluarkan, sama dengan peluru yang sudah ditembakkan, kerusakan nya tidak bisa diperbaiki, karena sudah terjadi.”

—Ineke H—

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s