Kehidupanku

 

Ketika umurku masih belasan, cita-citaku adalah ingin menjadi seorang guru, aku senang mendidik anak-anak yang masih polos, mempunyai semangat  dan energi tinggi, berlarian dan berteriak di kelas dengan semangat kanak-kanaknya. Aku tahu bahwa aku akan menggoreskan pena di kertas putih halaman pertumbuhan anak-anak ini. Aku punya mimpi dan aku yakin aku akan dapat meraih mimpiku. Dengan mimpiku, aku yakin akan membuat kehidupanku dan kehidupan di sekitarku akan menjadi lebih baik. Aku bersemangat dan aku sungguh hidup. Hidup terasa mudah bagiku.

Ketika umurku dua puluhan, aku mulai mengenal kekecewaan, patah hati dan hidup yang mulai tak ramah untukku. Apa yang sudah kucita-citakan perlahan tergelincir keluar dari kehidupanku. Aku memulai hidup dengan jalan cerita lain yang mulai kulakoni. Tak kusadari aku mulai lebur dalam kehidupanku yang baru dan tidak lagi menginginkan untuk mengubah dunia melalui pendidikan sebagai seorang guru, karena dunia kecilku sudah melindungiku dengan aman dan memberikan kebahagiaan dan kepuasan untukku. Aku hanya menjalankan hidupku dengan sebaik yang kubisa

Ketika umurku empatpuluhan aku mulai kehilangan semangat hidupku dan mulai mempertanyakan keberadaanku di dunia ini. Dan mempertanyakan mengapa waktu kebahagiaan untukku hanya sesaat saja dan waktu kesedihan berlangsung sangat lama. Aku mulai menarik diri dari kehidupan luar dan hanya hidup dalam cangkangku yang kecil, karena dalam cangkang yang kecil, aku akan dapat dengan mudah mengendalikan hidupku sendiri tanpa harus dicampuri oleh orang lain. Hingga hidup akan terasa lebih mudah bagiku. Aku mulai menyadari bahwa orang-orang seringkali mengambil keuntungan dari situasi yang kuhadapi hanya untuk kepentingannya sendiri tanpa mempertimbangkan perasaan orang lain.

Ketika umurku menginjak akhir empatpuluhan, aku mulai menerima hidupku sebagaimana adanya. Bahwa inilah hidupku, dan segala yang terjadi dalam hidupku adalah tanggung jawabku dan aku mulai menerima dengan tenang dan pasrah bahwa hal-hal yang terjadi diluar kuasaku akan tetap terjadi dan aku tak akan dapat berbuat apa-apa untuk mengubahnya. Begitu pula dengan orang-orang di sekitarku. Aku mulai menerima mereka sebagaimana diri mereka, aku tidak ingin merubah mereka sesuai dengan keinginanku, aku tidak pernah bergosip tentang mereka. Aku berusaha untuk tidak memberi komentar negatif dan tidak menghakimi mereka. Karena di luar sana, sungguh mudah bagi seseorang untuk menghakimi orang lain. Aku tak pernah lagi membandingkan diriku dengan orang lain atau membandingkan seseorang dengan orang yang lain. Aku menerima kehidupan seseorang dengan segala perjuangannya yang mudah atau tidak mudah.

Kini, aku lebih banyak diam dan berbicara seperlunya saja. Bagiku kehidupanku sudah sampai di senja hari kehidupan. Aku hanya tinggal memetik apa yang sudah aku tanam. Dan menempatkan diri hanya sebagai pengamat yang diam dan berpikir serta berkata-kata hanya berdasarkan realita saja, karena bukan waktuku lagi untuk bermimpi. Meskipun kehidupan tak ramah padaku, aku sudah tidak pernah protes lagi, aku hanya berusaha menerima dan memaklumi apapun yang terjadi. Aku masih saja takjub, bila aku bertemu dengan mereka yang masih saja bergelora di usia yang sudah setengah baya atau bahkan yang sudah sepuh. Aku mengucapkan selamat untuk mereka.

Dalam kehidupan tersedia berbagai macam pilihan, dan aku telah memilih untuk hidup dalam kesederhanaan dan ketenangan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s