Meditasi ku

Hidup mentertawakanku dengan kuasanya membawakanku kesedihan, dan melambungkanku dari satu tempat kesedihan ke tempat kesedihan yang lain. Di tempat itu kujalani jejak langkah samar yang ku tak tahu akan membawaku kemana. Sedangkan di belakangku sang masa lalu berlari mengejar dengan suaranya yang menggelegar mengerikan.

Di depan sana keindahan masa depan berdiri dengan angkuh di atas singgasana keemasan. Tongkatnya yang berkilauan bagaikan kilau permata. Semakin ku berlari menyongsong nya, semakin jauh jarak yang terbentang di antara kami. Barangkali nafsu lah yang membutakanku hingga sang masa depan takut jika aku akan mengotori keagungannya.

Cinta sudah mempermainkanku dengan kekejaman kebohongan dan kemunafikan. Padahal sudah kuperlakukan dia dengan kelembutan. Tapi cinta menyakitiku atas nama cinta hingga membuatnya terasa sungguh palsu dan berat. Padahal cinta itu sungguh ringan, seringan bulu, seringan udara dan seringan cahaya.

Hatiku menyerukan pertolongan dan memohon kasihan. Namun tak seorangpun mendengar teriakanku. Aku sendiri.

Malam demi malam berlalu dan kelelahan merangkulku dalam kesejukannya. Hari barupun kembali terbit, tapi aku terus saja merasa sendiri dan ketakutan.

Barangkali kehidupan mulai meninggalkanku, karena kehidupan tak ramah untukku.

Aku telah tersesat sekian lama, dan kukira aku tak lagi ingin ditemukan.

—Ineke H—

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s