Biarlah Aku Masih Memeluk Kenangan Akan Dirimu

 

Ada seorang tua yang bertanya padaku ketika aku tengah bersujud dalam doa di gereja. “Akankah kau tetap menjadi pribadi yang sama setelah kau dapat mengatasi kedukaanmu?”

Aku menjawab,” Aku kembali dari pintu yang berbeda dengan ketika aku keluar.”

Beberapa orang menyarankan untuk belajar melepaskan, setelah kedukaan melandaku. Jika saja semudah itu untuk melepaskan. Segala kenangan, cita-cita, senyuman, tawa dan tangis, kegembiraan, rasa bangga yang pernah dirasakan, lalu aku harus belajar untuk melepaskan? Sepertinya aku mengkhianati kau yang pernah hadir dalam hidupku.

Terkadang aku melepaskan sedikit lalu masih memegang sedikit. Kembali melepaskan sedikit dan tetap memegang sedikit. Barangkali dengan sedikit paksaan, aku akan dapat melepaskan semuanya. Tapi aku masih belum mau. Yang kumiliki bersamamu kupegang demikian eratnya hingga harus kupaksa dengan keras barulah dapat kulepaskan. Karena begitu dalamnya aku sudah tenggelam dalam perasaan ini. Begitu tingginya aku terbang bersamamu. Yang demikian dalam dan demikian tinggi, akan semakin sakit bila harus dilepaskan.

Perasaan yang kuat ini padamu, menyebabkan aku lemah. Dan sebaliknya perasaan yang kuat ini padamu, menguatkan aku. Merasakanmu selalu ada bersamaku, meski kau telah tiada. Perasaan adalah yang terpenting.

Bila mencintaimu dan tak dapat melepaskanmu meski kau telah tiada adalah kesalahan, itu karena aku adalah manusia biasa yang tak luput dari kesalahan. Aku tak dapat menghindari kelemahanku.

Namun aku sungguh percaya, aku akan semakin kuat dengan kedukaan dan kesedihan yang menempaku.

Hidup ini sungguh tidak adil, hidup ini tak menyenangkan, tetapi ini hidup, ini nyata, ini yang harus kujalani setiap hari. Kesedihanku, kehilanganku, kedukaanku, perjalanan panjang kehidupan yang melelahkan, inilah hidupku. Aku tak bisa dan tak mau menukarnya dengan kehidupan orang lain. Karena bila aku menukarnya maka aku takkan pernah mengenalmu dan mencintaimu. Dengan menyadari fakta bahwa hidup ini tak adil, aku merasakan kebebasan. Bebas untuk mengungkapkan perasaanku. Bebas merasakan diriku sebagai manusia dan bukan dewa.

Maka, biarlah aku masih memeluk kenangan akan dirimu, dan mungkin satu saat nanti aku akan melepaskannya, tapi bukan sekarang.

 

—Ineke H—

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s