Cerita Gill

 

Gill, sudah lama tak kudengar kabarmu.

Kubuka lagi cerita perjalanan panjangmu, dengan rentang waktu lama sejak masih remaja kampung, bertemu dengan perempuan yang pemalu dan pendiam. Merajut benang masa lampau untuk menuju masa kini yang tak terwujud juga. Hingga kau bergegas melampiaskan kemarahan yang tak perlu dengan membuang masa muda yang sungguh berharga.

Kehidupan keras jalanan kau lakoni tanpa ada keinginan untuk maju, hanya menjalani hidup katamu. Padahal yang tak kau ketahui perempuan itu menanti cinta yang tak berbalas darimu, karena saat itu kau begitu sibuk menjadi dirimu.

Menyusuri kembali kisahmu yang panjang berliku menikung, menurun dan mendaki. Mulai dari tawa, tangis dan kehampaan. Kekosongan yang kau yakini selalu ada di dalam hatimu.

Katamu kau jalani hidupmu dengan merawat hati untuk dia satu-satunya. Mana mungkin dia tahu bila kau selalu menghilangkan dirimu, alih-alih mengejar mimpi dan kebahagiaanmu. Dari lamunan berubah menjadi angan-angan berharap menjadi kenyataan. Senantiasa teringat bau nafas nya yang harum bagai bunga kenanga, siang dan malam. Tapi takdir menguasaimu bagai jerat laba-laba di otak, lembut tapi lengket.

Takdir yang berpihak padamu, Gill. Takdir yang kau ciptakan sendiri karena kebodohanmu.

Seringkali kutanyakan padamu, Gill, ketika kita masih sering bertemu, pertanyaan tentang hidupmu yang tak biasa, tak dimengerti dan tak terbayangkan. Ibarat padang pasir luas yang tak dapat dijelajahi. Penuh misteri dan ketidakpastian. Penuh tanya dan kesemuan. Dari pulau ke pulau dari kota ke kota. Mungkinkah ceritamu itu hanya kebohongan saja?

Apa yang kau kejar, Gill? Mungkin kehampaan lah yang kau kejar.

Masih kuingat katamu, nama perempuan itu selalu ada di ujung lidahmu yang kau ucapkan setiap malam dalam kepenatan menjelang tidur. Menenteramkan batin, ujarmu. Merenungi nasib yang membawamu hingga ke ujung negeri untuk mencari apa yang tak kau ketahui. Hanya nama perempuan itu yang menemanimu, ujarmu.

Gill, tidakkah kau berusaha memahami kehidupan yang berjalan tak pernah sesuai dengan keinginanmu. Perempuan pendiam itu mencintaimu setengah mati, namun tak bisa menyampaikannya kepadamu, karena kau asyik menelaah sendiri isi hatimu yang tak kau mengerti juga. Bagaimana dia bisa menyampaikan rasa cintanya padamu jika kau terus saja menghilangkan diri dengan alasan yang tak bisa dimengerti oleh perempuan itu dan oleh dirimu sendiri.

Dalam upaya melupakan bayang perempuan itu dalam gaun berbunga-bunga, wajah manis yang senantiasa tersenyum, kau mengambil langkah yang salah lagi yang akhirnya membuatmu terperangkap dalam kehidupan yang tak kau inginkan sama sekali.

Bayangan sepasang kekasih yang akhirnya menyatu dimulai dari masa muda hingga usia senja, hanya akan menjadi bayangan, bagai menonton film sedih yang berakhir tragis, yang hanya menyisakan air mata di mata penonton nya.

Dari waktu-ke waktu, tetap saja kau adalah Gill, yang merajut kehampaan demi kehampaan dengan segala impian dan kata-kata kosong. Seperti lelucon yang dikatakan sepanjang hari tak kenal waktu, padahal Gill, hidup bukanlah lelucon. Hidup adalah kenyataan.

Selalu kuingat caramu memandang segala sesuatu dengan kelucuan, dan selalu kuingat tawa perempuan itu yang terkekeh setiap kali mendengar leluconmu sembari memandang penuh cinta padamu. Pandangan cinta yang luar biasa dalamnya, hanya untukmu, Gill. Yang sayang sekali tak pernah kau perhatikan.

Kukira, aku masih menunggu akhir dari ceritamu, tapi mungkin takkan pernah selesai karena kesukaanmu menghilangkan diri.

 

—Ineke H—

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s