Pikiranku

 

Aku terlalu banyak berpikir. Pikiranku berpacu bagai menaiki kereta cepat yang tak berhenti di stasiun manapun. Aku berharap bisa memiliki sedikit waktu untuk tak memikirkan apapun.

Kubayangkan pikiranku seperti awan yang bergumpal-gumpal di angkasa. Nampak seperti busa yang lembut tapi dia menyimpan hujan dan petir  yang sekali waktu akan mengerahkan segala kekuatannya untuk membasahi bumi dan menembakkan kilat menembus langit.

Terkadang pikiranku sekokoh pohon di taman kotaku yang usianya sudah puluhan tahun, daunnya merindangi siapapun yang berteduh di bawahnya, tapi akarnya sudah menancap jauh ke bumi dan anak-anak akarnya sudah menjalar sampai mengitari seluruh taman.

Atau pikiranku adalah tangan gemulai penari yang menari dengan sepenuh jiwa raganya, yang menemukan kesatuan jiwa dan raganya dengan musik yang mengalun mengiringi tariannya yang demikian indah. Dia menemukan kegembiraan dalam setiap gerakan tangan dan lemparan selendang nya yang harum melati.

Pikiranku menguasaiku akan pemahaman antara yang kuat dan yang lemah, yang miskin dan yang kaya, ketidakadilan dunia, kebodohan yang paling bodoh dan kesederhanaan yang kuyakini sebagai kunci kedamaian hidup.

Aku juga merasakan pikiranku bagai genggaman tangan seorang tua yang menasehatiku tentang kebijaksanaan dalam menghadapi hidup, mengesampingkan hasrat yang tak benar dan mengedepankan keteguhan hati akan kebenaran. Sang tua membisikkan suaranya yang pelan ke telingaku,” Bebaskan raga dan jiwamu dari kekotoran duniawi, meski kau tak punya apa-apa dan tak memiliki siapapun, kau akan selalu merasa kelegaan dan merasa kaya.”

Pikiranku adalah gambaran seorang pria dari masalalu yang ganteng, sopan, lucu, pekerja keras, pandai merangkai kata, mempunyai suara merdu, yang kucintai dengan sepenuh hatiku.

Pikiranku juga memikirkan tentang mereka yang tercinta, yang tersayang, yang teraniaya, yang tulus, yang jujur, yang baik budi, yang terlalu sering berbohong hingga tak bisa lagi membedakan mana yang nyata mana yang tak nyata, yang kalap menutupi kejahatannya dengan membabi buta, yang sombong seakan-akan memiliki dunia.

Pikiranku juga kaya seperti dermawan yang membagikan hartanya pada siapa saja yang membutuhkan, tanpa harap balas budi. Karena pikiranku adalah kedermawanan dari kehidupanku sendiri.

Pikiranku pandai memilah antara mistis dan realistis, masuk akal dan tak masuk akal, kejujuran dan ketidakjujuran, setia dan ketaksetiaan, kasih dan benci, kepura-puraan dan ketulusan.

Pikiranku adalah yang membedakan diriku dan dirimu, namun di satu saat, pikiranku adalah pikiranmu dan pikiranmu adalah pikiranku.

Pikiranku lebih memilih kematian daripada kehidupan tak berguna.

Andai saja aku dapat menekan tombol berhenti sebentar saja, hingga aku bisa istirahat sesaat.

 

—Ineke H—

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s