“Pergilah,”

 

“Pergilah, ” suara bisikkan menyertai lambaian tangan dan segunung penyesalan menumpuk di dada. Suara yang perlahan hilang bersamaan dengan hilangnya cahya mentari yang terakhir. Angin dingin perlahan naik ke arah hutan pinus di belakangku, menimbulkan gelenyar di tengkukku. “Dingin?” tanyamu. Di lubuk hati kita yang paling dalam telah tahu ada yang terbakar jauh di dalam ketika perpisahan terucapkan. Atau barangkali ada yang terbakar di dalam hutan pinus, yang baunya menyebar hingga tercium oleh penciuman kita.

Setelah ini, kenangan akan membaur dalam bayangan hitam putih yang tak lagi nyata. Menenggelamkan semua kecemasan, kehirauan, kegalauan dan kerinduan yang selalu menggunung. Ingatan tentang rasa yang pernah dialami dan dicecap dalam rentang waktu puluh tahun. 

Lalu wajahmu mengerucut menghantui kesadaranku, menggumpalkan batu di kerongkonganku hingga serasa tercekik. Ataukah aku tercekik oleh sengguk yang tertahan. Seiring doa dan harap yang tak pernah putus kuucapkan.

Biarlah ada yang kau menangkan, hingga kau akan merasakan perjalananmu paripurna. Hingga satu hari di masa yang akan datang, kau akan menghitung langkahmu yang tertinggal di belakang, dan kau akan menyelesaikannya juga.

Kau, nantinya hanya akan menjadi dongeng pengantar tidur yang akan diceritakan berulang kali dengan penuh kasih, dengan kata pembuka,” Dulu sekali aku pernah mencintai…” 

Lalu mataku akan menatap jendela yang terbuka di sisi dinding kamarku, memandang menembus gelapnya malam.

 

—-Ineke H—
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s