Asap Putih

 

Kotaku berselimutkan asap putih yang tak nampak, tapi terasa sesak di dada. Orang-orang takut meninggalkan rumah, meski hanya sebentar. Mereka hanya berada di dalam rumah saja, karena hanya di dalam rumah, sang asap putih tidak leluasa masuk ke dalam, jadi mereka bisa bernafas dengan lebih lega dan leluasa. Hanya ujung-ujung asap yang bisa menerobos masuk dari celah-celah kecil di pintu ataupun jendela. Selebihnya asap itu hanya bergerak di luar rumah.

Asap putih itu menempel di pepohonan membuat pohon-pohon menunduk layu seperti keberatan beban. Mengalir di air sungai hingga mengubah air sungai yang jernih menjadi kusam berbau seperti susu basi. Bergerak menari mengikuti arah angin menyebarkan bau busuk seperti sampah basi. Bahkan burung-burungpun enggan terbang di langit kotaku, mereka memilih terbang jauh ke kota lain. Kehidupan perlahan berarak pergi dari kotaku.

Dari manakah asap putih ini berasal? Kata seorang tua yang bercerita padaku, “Asap ini berasal dari sebatang pohon yang sudah tersihir ilmu hitam, fitnah dan dendam, ditebang oleh seorang penduduk di kotaku. Apinya sudah lama padam, tetapi asapnya tak kunjung juga hilang ”

Orang tua itu pernah mampir sebentar di rumahku, sebelum asap putih menjadi demikian tebal seperti sekarang. Kami bercerita panjang lebar tentang kenikmatan hidup sebelum asap putih menguasai kota kami. Ketika kami masih bisa bebas bermain di taman, mengobrol dan tertawa. Kini, setiap orang hanya bisa memandang taman tempat dahulu kami bisa bercengkerama dengan tatapan kesal dan marah dari balik jendela rumah masing-masing. Setiap orang masih merindukan masa-masa penuh kebahagiaan ketika yang ada hanyalah cinta kasih dan bukannya asap putih yang menyebabkan sesak nafas.

Matahari siang yang bersinar terik tak mampu mengangkat asap putih jauh ke atas, dan hujan yang deras pun tak mampu mengusirnya. Asap putih ini asyik berputar-putar seperti pemabuk yang tak hafal jalan pulang.

Aku hanya bisa menatap tak berdaya dari balik jendela, asap putih yang tak kelihatan itu menutupi pokok-pokok mawar yang baru kutanam dua hari yang lalu. Segera saja pokok mawar itu tertekuk bagai ranting layu termakan rayap. Kupu-kupu yang biasanya sering mampir pun tak pernah kulihat lagi, mungkin mawar-mawarku kini sudah berbau busuk tak lagi berbau wangi.

” Apa yang sudah kulakukan hingga asap putih ini menelan kotaku?” batinku dengan tenggorokan tersumbat isak tertahan.

Kengerian perlahan turun menyelimuti kota kami, bagaikan kota mati. Aku membayangkan asap putih ini seperti sayap seorang malaikat maut yang lebar dan tercabik-cabik, yang terbang di atas kota kami, dan dari ujung sayapnya mengepul asap putih yang tak kelihatan tapi menyesakkan nafas. Menyapu setiap yang dilewatinya, manusia, hewan dan tumbuhan. Tak ada kecuali.

Bila ada orang yang berani keluar rumah, maka sudah dapat dipastikan dia takkan kembali lagi. Kesedihan yang besar akan dirasakan oleh keluarga yang ditinggalkannya. Kota kami tak lagi memiliki kegiatan, sekolah dan tempat ibadah ditutup. Mereka hanya mau tinggal di rumah dan berkumpul dengan anggota keluarga. Menutup celah-celah yang sekiranya dapat membuat asap putih itu menerobos masuk.

Beberapa orang yang terpaksa menghirup asap putih yang bisa menerobos masuk dari celah yang tak tertutup akan menjadi sosok yang berbeda dari biasanya. Dia hanya akan diam dan menatap kosong di satu titik, atau kadangkala marah-marah pada hal-hal yang tak masuk akal. Asap putih itu sudah merusak bukan saja paru-parunya tapi juga otaknya. Hingga satu-satunya jalan adalah membiarkan dia yang sudah tercemar asap putih untuk pergi keluar entah kemana menembus asap dan tidak kembali lagi.

Entah sampai kapan kotaku diselubungi asap putih yang menyesakkan nafas ini. Aku hanya terus berharap dan berdoa agar asap putih ini segera pergi. Agar dapat kuhirup lagi udara segar berbau kembang dan tanah basah.  Agar dapat kurasakan kembali kedamaian dan ketenangan.

Semoga.

 

—Ineke H—

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s