Kehilanganmu

 

Pertemuan kau dan aku terlalu segera untuk dapat dilupakan begitu saja. Bagai tak ada apapun dalam cerita dongeng yang tak nyata. Bagai pertempuran yang belum dimulai tapi sudah kalah.

Cerita kita takkan pernah ada karena memang tak pernah ada cerita yang dapat diceritakan. Hanya angan yang kadang timbul ketika kutimbulkan dalam gambar-gambar kabur masa lalu yang pernah sungguh menyenangkan. Bahkan acapkali kuganti dengan cerita berbeda menyertai kata,”Seandainya…” Tapi semua cerita hanya akan berakhir dengan kehilangan cinta, patah hati dan hilangnya setengah jiwaku.

Kurindukan percakapan panjang kita, percakapan tanpa arti dan berarti. Melepaskan ketegangan dan terikatnya kecemasan dalam kalimat-kalimat panjang penuh tawa.

Kurindukan caramu mengatakannya padaku dan hanya padaku, tentang pentingnya kita berdua, ketika kita masih percaya buta bahwa keluguan dan semangat naif kita akan menemukan jalan untuk dapat mengungkapkan perasaan kita yang terperangkap dalam kegelapan.

Kurindukan senyumanmu yang hanya aku yang dapat melihatnya.

Kurindukan kenyamanan dengan hanya hadirmu di sisiku. Sentuhan ringan tanda dukungan. Tatapan mata ketika aku tengah bicara, meski pembicaraan tak penting. Kurindukan gerakan tubuhmu ketika menyadari kehadiranku, yang hanya aku yang dapat merasakannya.

Kurindukan rasa yang dulu pernah kita bagi.

Mungkin di kehidupan yang lain kita akan dapat mengalahkan takdir.

 

—Ineke H—

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s