Ukiran Darimu

Kau ukirkan untukku ukiran berupa hiasan dinding yang berat tak terkira, yang kau katakan sebagai kisah perjalanan hidupmu dalam melakoni takdirmu di saat kupalingkan wajahku darimu. Ukiran yang tak kumengerti jalan ceritanya karena tak sanggup kuuraikan dalam kata-kata biasa.

Dimulai dari perjalananmu melarikan diri entah dari apa dan siapa yang kau katakan sebagai pemicu penghilangan harga dirimu, yang anehnya terasa kosong bagiku, bagai cerita pengantar tidur kanak-kanak yang dipanjang-panjangkan karena mata belum terpejam juga.

Bahkan ada ukiran yang datar tanpa tonjolan, tanpa lekukan, tanpa warna yang kau katakan sebagai masa terkelam hidupmu, yang lagi-lagi tak kumengerti dengan kata-kata biasa. Tutur yang tersirat terdengar bagaikan dengung statis di telinga yang terasa menyakitkan bila di sekitarmu tak ada suara.

Bila kuperhatikan ada wajahku tersembul di sana yang kaukatakan sebagai penyemangat yang menghancurkan hidupmu, padahal tak kuketahui apapun ceritamu, lalu bagaimana aku mengarang ceritaku, jika aku hanya menjalani hidupku tanpamu? Mataku di ukiran itu terpejam, bagai ingin menangis tanpa suara, hendak menceritakan asal-usulku, kesedihanku dan kegembiraanku, yang kaukatakan sebagai pengkhianatan, padahal sekali lagi aku hanya menjalani hidupku tanpamu.

Di pinggir ukiran di daerah tergelap dan tanpa warna terang, ada sebuah ukiran topeng yang tergeletak menyedihkan. Topeng yang rusak pada bagian mulutnya bagai dipenuhi sariawan-sariawan kecil yang bernanah. Dari matanya yang kosong hitam menatap bagai mata hantu menerobos sedikit cahaya yang berasal dari pantulan sinar mentari yang jatuh tepat di cermin di belakang topeng. Menampakkan sedikit sisi manusia dari topeng dingin mati.

Aku tak sanggup lagi memandang ukiran hiasan dinding darimu, tapi mataku seperti terpaku tak dapat berpaling ataupun berkedip. Mataku nyalang menatap hingga terasa pedih dan berair. 

Akupun bergegas mengumpulkan kekuatan kakiku yang sedari tadi tak kusadari melemah hingga aku jatuh berlutut ketika mataku menatap terpaku pada ukiranmu. Perlahan ketika kekuatan sudah ada lagi, kutegakkan tubuhku dan aku mulai berjalan mundur menjauh dari ukiran yang masih saja memancarkan sihir padaku untuk terus menatapnya.

Setelah jauh, akupun mulai berlari dan berlari hingga dadaku serasa terbakar. Aku hanya ingin pergi jauh dari ukiran laknat itu. 

Dan biarlah ukiran itu terus bergantung sendiri, hingga waktu lama, hingga tak seorangpun ingin memandangnya lagi. Dia akan ditinggalkan sendiri dalam debu yang menempel di setiap lekukan dan tonjolan dan kotoran yang menumpuk di sekitarnya.

Lalu dia akan terlupakan.

 

—Ineke H—
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s