Akankah Kita Bertemu Lagi?

 

Suara kilat memekakkan telinga yang membuatku tuli sesaat, langit perlahan menjadi kelabu dengan mendung yang menggelayut berat. Keindahan biru langit perlahan hilang tertutup oleh gelapnya mendung, seperti kata-kata yang dulu ingin diucapkan namun tak sempat terucapkan tertelan bersama dengan kilat dan badai di kehidupan yang mengiringi takdir ini.

Aku duduk di sini menanti hujan yang akan turun dengan deras membasahi bumi, membasuh semua debu yang telah mengotori jalanan sesiangan, dan barangkali juga membasuh semua masa lalu yang dulu pernah kita lakoni bersama. Perlahan kesadaran menghantamku, bahwa kau bukanlah sosok yang dulu pertama kali kukenal, dan kesadaran itu menghancurkanku dari dalam.

Kita tak pernah bersiap untuk perpisahan ini karena kita yakin takkan pernah ada perpisahan untuk kita. Kau selalu mengajarkan padaku, bahwa akan selalu ada harapan sekecil apapun dari segala masalah di antara kau dan aku, karena ada aku untukmu dan ada kau untukku.

Setiap doa, air mata hanya untukmu. Meski tak lagi bisa kau dengar.

Mungkin aku akan melupakanmu, wajahmu takkan lagi kukenali di keramaian. Hanya saja kau telah terukir di hatiku, hingga nafas terakhirku.

Dan kini, ketika mendung telah menyibakkan diri dan malam mulai berhiaskan bintang, aku memandang bintang seperti aku memandangmu dan berbincang denganmu, dan mengatakan, aku mencintaimu.

 

—Ineke H—

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s