“Apakah itu membantu?”

 

Dalam kegalauan, ketakutan dan kesedihan, aku melangkah ke taman kota. Tak kulihat seorangpun duduk atau berjalan-jalan di sana. Sepi. Aku hanya ditemani kicauan burung dan dengung lebah di atas bebungaan.

Aku menumpahkan ketakutan dan kesedihanku dengan tangis tanpa suara sambil terus berjalan pelan. agar legalah dadaku.

Di ujung jalan setapak taman itu, aku melihat seorang tua tengah duduk di salah satu bangku taman, menengadahkan kepalanya ke langit dengan mata terpejam. Wajahnya dipenuhi kerutan tapi terlihat damai. Perlahan, aku berjalan melewatinya sambil melirik padanya, takut mengganggu keheningannya.

Pak tua itu menyadari aku lewat di depannya, dan dia membuka matanya sedikit memandangku, dan mengangguk pelan. Aku seperti terpukau memandangnya dan kuputuskan untuk duduk sebentar di sebelahnya.

Setelah aku duduk di sebelahnya, pak tua kembali melanjutkan kegiatannya menengadahkan kepala ke langit dengan mata terpejam. Melihat kedamaian yang terpancar ketika dia melakukan itu, akupun ikut memejamkan mata dan menengadahkan kepala menghadap langit. Keheningan yang hening menyelimuti kami berdua. Wajahku perlahan dihangati oleh sinar matahari yang tidak terlalu panas karena tertutup oleh rimbunnya dedaunan di atasku. Sinar matahari itu perlahan mengeringkan air mataku dan menghilangkan rasa bengkak di kedua mataku karena terlalu banyak menangis.

Setelah beberapa saat dalam keheningan, aku menurunkan kepalaku membuka mataku dan memutuskan untuk bertanya pada pak tua yang masih belum juga mengubah posisinya, “Pak tua, pernahkah kau merasa kuatir atau cemas?”

Dia tak langsung menjawab pertanyaanku, hanya saja kulihat ada dua kerutan kecil yang perlahan muncul di puncak hidungnya, menandakan dia mendengarku, dan barangkali merasa terusik dengan pertanyaanku.

Kukira dia tak mau menjawab pertanyaanku, jadi kuputuskan untuk berdiri dari tempat duduk itu dan kembali berjalan. Baru saja aku melangkahkan kakiku, kudengar pak tua berkata dengan suaranya yang lirih dan empuk, seperti aliran angin menerpa telingaku, “Apakah itu membantu?” ujarnya.

Kupalingkan wajahku dan menatapnya, dia masih dalam posisi yang sama, hanya saja matanya terbuka sedikit melirik menatapku dan ada senyuman kecil yang miring di bibirnya, lalu matanya kembali terpejam dan bibirnya tak lagi tersenyum tapi terkatup rapat, bagaikan dia tak pernah berkata apapun.

Lalu kulangkahkan kakiku kembali berjalan, dan kurenungkan kata-kata pak tua, ‘Apakah itu membantu?’

Betul kata pak tua, jika aku merasa ketakutan, sedih dan cemas terus menerus, itu takkan menyelesaikan masalah-masalahku. Yang kuperlukan adalah kekuatan, ketabahan, semangat dan terus melangkah maju dan tak lagi melihat kebelakang. Perlahan, suatu kesadaran menghantamku bagaikan bunyi gong raksasa yang dipukul persis di telingaku. Aku tak boleh lagi takut, cemas, dan sedih, aku harus terus hidup dengan kekuatan dan ketabahan serta semangat pantang menyerah. Harus.

Kini aku tak lagi berjalan, aku berlari menuju pintu keluar taman, agar aku segera dapat menjalani hidupku. Aku sudah tak sabar.

 

—Ineke H—

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s